Pengajian Ahad Pagi Al-Muhajirin: Tafsir Surat At-Takatsur: Ilmu Yaqin (Bagian ke-4: Sabar)

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN- Suasana Masjid Al-Madinah, Al-Muhajirin Purwakarta, kembali dipenuhi jamaah pada Ahad pagi, 22 Februari 2026. Pengajian rutin kali ini memasuki bagian keempat Tafsir Juz ‘Amma Kontemporer Surat At-Takatsur dengan tema besar Ilmu Yaqin Bagian Ke-4: Bab Sabar.

Kajian dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA. Dengan penyampaian yang runtut dan mudah diikuti, beliau mengurai sabar sebagai fondasi dalam membangun keyakinan sejati kepada Allah, terutama di bulan Ramadan.

Rujukan utama kajian ini adalah kitab Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an karya Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i, sebuah tafsir kontemporer berbasis Tafsir Jalalain yang dikembangkan secara aplikatif.

“Puasa Ramadan adalah madrasah pembentukan keyakinan. Di dalamnya ada latihan takwa, zikir, istigfar, dan terutama sabar,” ujar KH Marpu.

Dalam rangkaian delapan metode membangun keyakinan (tahqiqul yaqin billah), sebelumnya telah dibahas tiga pilar: takwa, zikir, dan istigfar. Kini, sabar menjadi titik tekan pembahasan.

Menurut beliau, puasa adalah mekanisme syariat yang “memaksa” manusia naik level. Hal-hal yang sebelumnya mubah—makan, minum, hubungan suami-istri—tiba-tiba berpindah ke wilayah larangan pada waktu tertentu. Di situlah sabar diuji.

“Di Ramadan, kita dilatih meninggalkan yang mubah. Maka seharusnya lebih mudah meninggalkan yang makruh dan haram. Puasa menyederhanakan hidup menjadi dua pilihan: taat atau tidak,” jelasnya.

Baca Juga:  Buka Puasa Bersama Keluarga Besar Al-Muhajirin: Merajut Silaturahmi, Mendukung Visi Purwakarta Istimewa dan Jabar Istimewa

KH Marpu menguraikan tiga zona hukum dalam syariat: perintah (wajib dan sunnah), larangan (haram dan makruh), serta pilihan (mubah). Ramadan, kata beliau, mempersempit ruang itu agar manusia belajar fokus pada ketaatan—mendekati sifat malaikat yang tidak memiliki dorongan nafsu.

Namun justru di situlah kemuliaan manusia: mampu taat dalam kondisi memiliki nafsu.

KH Marpu kemudian mengaitkan sabar dengan sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya:

“Wasta’inu bis-sabri was-salah” — Mintalah pertolongan dengan sabar dan salat.
“Wa lirabbika fasbir” — Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.

Sabar, menurut beliau, bukan sekadar menahan lapar dan haus. Sabar adalah kemampuan menjaga konsistensi dalam ketaatan, tetap lurus saat diuji, dan tetap bersih saat disakiti.

Beliau menjelaskan konsep ṣabr jamīl—sabar yang indah. Yaitu sabar tanpa keluhan kepada makhluk, hanya mengadu kepada Allah. Beliau mencontohkan kesabaran Nabi Zakaria dalam penantian panjang mendapatkan keturunan, serta kesabaran Rasulullah SAW saat berdakwah di Thaif.

“Sabar itu bukan pasif. Ia aktif. Ia keputusan sadar untuk tetap taat,” ujarnya.

Selanjutnya, KH Marpu mengutip sabda Rasulullah SAW:

“May yatasabbar yusabbirhullah.”
Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan memberinya kesabaran.

Beliau juga menyinggung hadis tentang seluruh urusan mukmin yang selalu baik: jika mendapat nikmat ia bersyukur, jika mendapat ujian ia bersabar—dan keduanya menjadi kebaikan baginya.

Baca Juga:  Jamaah Haji KBIH Al-Muhajirin Purwakarta Ziarah ke Situs Bersejarah di Sekitar Masjid Nabawi

Bahkan kesulitan sekecil tertusuk duri pun, jika dihadapi dengan sabar, menjadi penghapus dosa.

Kisah seorang perempuan yang mengalami penyakit berat hingga sering pingsan dan kesurupan turut disampaikan. Ketika ia meminta doa kepada Rasulullah SAW, beliau menawarkan dua pilihan: didoakan sembuh atau bersabar dan dijanjikan surga. Perempuan itu memilih sabar—dan Rasulullah menjanjikan surga baginya.

“Inilah happy ending orang sabar,” ujar KH Marpu.

Dalam konteks sosial, KH Marpu menegaskan bahwa sabar juga bermakna kemampuan merespons keburukan dengan kebaikan, sebagaimana firman Allah:

“Idfa’ billati hiya aḥsan.”
Balaslah dengan cara yang lebih baik.

Sabar bukan kelemahan, melainkan kekuatan spiritual yang mampu mengubah musuh menjadi sahabat. Bahkan di akhirat, sabar menjadi sebab dikumpulkannya keluarga saleh dalam satu derajat surga.

Beliau juga mengingatkan bahwa banyak orang menyalahkan setan atas keburukan dirinya, padahal sering kali sumbernya adalah nafsu yang tidak dilatih. Ramadan, menurutnya, adalah momentum terbaik untuk mengenali musuh internal tersebut.

Mengulas ayat-ayat puasa dalam Surat Al-Baqarah (183–187), KH Marpu menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya bicara fikih, tetapi juga bicara zikir, tadarus Al-Qur’an, dan doa.

“Ramadan adalah syahrud du‘a, bulan doa. Syahrut taubah, bulan tobat. Doa itu inti kehambaan,” ujarnya

Baca Juga:  Alhamdulillah, TK Al-Muhajirin Pusat Purwakarta Raih Juara Umum Gebyar PIAUD 2025!

Beliau menambahkan satu perspektif menarik: bahwa ijabah (pengabulan) sebenarnya mendahului doa. Allah memberi ilham untuk berdoa sebagai tanda bahwa Dia hendak mengabulkan.

Kajian ini tidak berhenti pada dimensi spiritual individual. KH Marpu juga menyoroti aspek sosial puasa: fidyah bagi yang tidak mampu berpuasa, zakat fitrah, dan kepedulian terhadap fakir miskin.

“Semua syariat berdampak sosial. Puasa membentuk empati. Zakat menyucikan jiwa dan harta,” jelasnya.

Dalam konteks modern yang penuh stres dan ketidakpastian, beliau mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai laboratorium kesabaran—tempat membangun ketahanan mental berbasis iman.

Pengajian ditutup dengan doa bersama untuk para jamaah yang sedang sakit, di antaranya Pak Haji Dadang dan Pak Haji Yopi, serta pembacaan doa Ramadan hari keempat dari Imam Abu Hazaim.

Kajian yang disiarkan langsung melalui Al-Muhajirin TV ini memungkinkan lebih banyak jamaah mengikuti pembahasan.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, pembahasan tentang sabar seperti menemukan relevansinya, bukan hanya sebagai cara untuk bertahan, tetapi sebagai jalan untuk meningkatkan derajat di hadapan Allah SWT.

Pengajian ini akan berlanjut pada Ahad mendatang. Jamaah kembali diajak memperdalam ilmu yaqin, agar Ramadan tidak sekadar lewat sebagai rutinitas tahunan, melainkan benar-benar membentuk kualitas iman. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *