
AL-MUHAJIRIN – Pengajian Ramadhan di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat terus berlanjut dengan suasana yang semakin khusyuk dan mendalam. KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA melanjutkan pembahasan Bab Ikhlas dan Niat dari Riyadhus Shalihin, menekankan pentingnya memurnikan niat agar benar-benar lillah, tanpa campuran tujuan duniawi atau selain Allah.
Beliau menjelaskan, niat memang bisa saja bercampur. Namun ikhlas adalah ketika niat hanya berisi satu tujuan: Allah semata.
“Kalau bercampur ke Allah ada, ke selain Allah pun ada, itu bukan ikhlas. Itu namanya mix, isyrok, campuran, bukan ori,” ujar beliau dengan analogi bahan yang 90% tiruan.
Tugas utama seorang mukmin adalah ihdarun niyah—selalu menghadirkan dan memeriksa niat dalam setiap amal zahir, ucapan, bahkan gerak hati.
“Ihdarinah ini seperti presensi. Niat harus selalu dicek,” tambah beliau.
Yang perlu dicurigai bukan niat orang lain, tetapi niat diri sendiri.
“Kita harus mengawali ke diri dengan curiga. Cek harian, bahkan detikan. Karena amal terus ada, kata-kata sering, dan respon hati—suka, benci, senang, sedih—bisa per detik.”
Mengutip Sufyan ats-Tsauri, beliau menyampaikan, “Tidak ada yang lebih berat daripada memperbaiki niat.” Sementara Al-Ghazali menyebut kebanyakan manusia “jorok” dalam bab niat—tidak diperiksa, langsung dilakukan.
Cara praktis mengecek niat, jelas beliau, adalah dengan menyingkirkan faktor-faktor eksternal: tempat, teman, fasilitas, bahkan jumlah jamaah. Jika iradah shadiqah (keinginan tulus) masih ada setelah semua itu disingkirkan, maka itulah indikasi niat sejati.
“Misalnya ke masjid untuk tarawih. Singkirkan semua aspek pendukungnya. Apakah masih tetap ingin? Itu cara mencurigai nafsu,” terang beliau.
Kekuatan Niat dalam Hadis Perang Tabuk
Puncak kajian adalah hadis keempat dari Jabir bin Abdillah al-Ansari r.a., tentang peristiwa Perang Tabuk. Nabi SAW bersabda bahwa di Madinah ada orang-orang yang tidak menempuh perjalanan atau lembah bersama pasukan, tetapi mereka tetap bersama dalam pahala karena tertahan oleh sakit atau uzur.
Hadis ini menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan niat ikhlas.
“Ini informasi dari Nabi bahwa para sahabat perang ikhlas, sehingga orang di Madinah yang uzur pun menyamai pahala mereka. Kalau sahabat dapat pahala bil amal, ini bil niyat,” jelas beliau.
Beliau memberi contoh konkret: santri yang tidak bisa hadir ngaji karena tugas atau sakit, namun memiliki iradah shadiqah, tetap mendapat pahala dan bagian ilmu.
“Ini seperti passive income pahala. Secara fisik pasif, tapi income datang jika ikhlas,” ungkap beliau, disambut senyum jamaah.
Doa yang Mengikat Dunia dan Akhirat
Dalam sesi berikutnya, beliau membahas doa panjang—memohon kemudahan ikhlas dalam ibadah dan sidq dalam muamalah. Doa itu memohon keindahan dalam keluarga dan kehidupan, namun semuanya diarahkan kembali pada tujuan akhir: mendekatkan diri kepada Allah.
“Lihat polanya. Minta dunia sekalipun, dibawa ke ingat dan syukur pada Allah,” renung beliau.
Di akhir kajian, beliau mengakui bahwa ikhlas bukan perkara ringan.
“Ikhlas gampang atau sulit? Sulit banget.”
Namun beliau mengutip sabda Nabi SAW, “La yasirun liman yassarahullah”—mudah bagi yang dimudahkan Allah.
Pesan optimisme pun mengalir: jangan berhenti pada kesulitan, tetapi jadikan kesulitan sebagai alasan untuk terus meminta kepada Allah.
“Tanamkan optimisme dalam bab ahwal qalbiah. Yang sering meminta, itu tanda akan diberi.”
Pengajian Ramadhan ini semakin memperkaya jiwa jamaah di bulan suci. Semoga menjadi bekal untuk memperbaiki niat, membersihkan hati, dan menapaki amal dengan lebih jernih.
Allahu Akbar. Barakallahu fiikum. Wallahu a’lam bisshawab. (*)
