Bumi yang Mengayun, Gunung yang Memancang: Menyelami Kemahakuasaan Allah dalam Tafsir Surah An-Naba

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA

Purwakarta – Suasana Aula Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran Purwakarta, Rabu (3/6/2026) sore, dipenuhi para guru dan jamaah yang mengikuti kajian rutin Tafsir Juz ‘Amma Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an. Kajian yang diasuh langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, kali ini melanjutkan pembahasan Surah An-Naba ayat 6 hingga 10.

Pada pertemuan tersebut, KH. Marpu mengajak peserta menyelami ayat-ayat tentang bumi, gunung, manusia, siang dan malam—yang menyimpan pesan besar tentang kemahakuasaan Allah dan kepastian terjadinya kebangkitan setelah kematian.

Bumi yang Bergerak Namun Menenangkan

Kajian dimulai dengan ayat:

“Alam naj’alil ardha mihada”
(Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan yang nyaman?)

Menurut KH. Marpu, ayat ini bukan sekadar menjelaskan bentuk bumi, melainkan mengandung keindahan bahasa Al-Qur’an yang luar biasa. Kata mihadan dalam ayat tersebut merupakan bentuk tasybih baligh (perumpamaan sempurna) yang mengibaratkan bumi seperti ayunan.

“Bumi itu seperti ayunan. Bergerak, tetapi gerakannya tidak membuat gelisah. Justru menghadirkan kenyamanan,” jelasnya.

Beliau menerangkan bahwa Al-Qur’an menggunakan bentuk pertanyaan retoris untuk menegaskan sebuah kebenaran yang tidak bisa dibantah. Allah mengajak manusia mengakui bahwa bumi memang diciptakan dengan karakter demikian sejak awal penciptaannya.

KH. Marpu mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan sains sebagai penentu benar atau tidaknya Al-Qur’an. Sebaliknya, sainslah yang semestinya terdorong untuk meneliti dan menemukan bukti-bukti yang telah lebih dahulu diisyaratkan Al-Qur’an.

Baca Juga:  Aku Olahraga Seru di RA Al-Muhajirin 2: Sigap Memindahkan Bola

“Al-Qur’an tidak membutuhkan sains agar dianggap benar. Justru sains yang harus belajar dari Al-Qur’an dan terdorong untuk membuktikan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di dalamnya,” tegasnya.

Gunung Sebagai Pasak Penjaga Keseimbangan

Pembahasan kemudian berlanjut pada ayat:

“Wal jibala autada”
(Dan gunung-gunung sebagai pasak.)

KH. Marpu menjelaskan bahwa kata autad merupakan bentuk jamak dari watad, yaitu pasak atau pancang yang digunakan untuk menegakkan tenda.

Beliau menggambarkan bahwa setelah Allah menjelaskan bumi sebagai ayunan yang nyaman, muncul pertanyaan logis dalam benak manusia: bagaimana bumi yang bergerak itu tetap stabil?

Jawabannya terdapat pada ayat berikutnya.

“Gunung berfungsi seperti pasak pada tenda. Ia menjaga kestabilan sehingga bumi tetap nyaman menjadi tempat kehidupan manusia,” ungkapnya.

Menurutnya, pemilihan kata autad menunjukkan ketepatan luar biasa Al-Qur’an dalam menggambarkan bentuk dan fungsi gunung. Secara fisik maupun fungsional, gunung digambarkan sebagai penyangga yang menjaga keseimbangan bumi.

Manusia Diciptakan Berpasangan

Pada ayat berikutnya:

“Wa khalaqnakum azwaja”
(Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.)

KH. Marpu mengajak peserta melihat makna yang lebih luas dari sekadar laki-laki dan perempuan.

Beliau menjelaskan bahwa sifat berpasangan merupakan karakter dasar seluruh ciptaan Allah. Bukan hanya manusia dalam konteks pernikahan, tetapi juga berbagai unsur kehidupan yang berjalan dalam keseimbangan.

Baca Juga:  Di Ajang Gebyar PAUD 2023, TK Al-Muhajirin Raih 9 Penghargaan dan Jadi Juara UMUM

“Sifat tunggal hanya milik Allah. Selain Allah semuanya memiliki pasangan. Ada positif dan negatif, ada siang dan malam, ada kiri dan kanan, ada berbagai unsur yang saling melengkapi,” terangnya.

Karena itu, konsep berpasangan bukan sekadar urusan biologis, melainkan bagian dari sunnatullah yang melekat dalam penciptaan manusia dan alam semesta.

Tidur: Latihan Meninggalkan Dunia

Bagian yang paling menyentuh dalam kajian sore itu ketika KH. Marpu menafsirkan firman Allah:

“Wa ja’alna naumakum subata”
(Dan Kami jadikan tidurmu untuk beristirahat.)

Beliau menjelaskan bahwa kata subata menunjukkan tidur yang nyenyak dan sempurna.

Menurutnya, tidur merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Saat tidur, manusia kehilangan kendali atas dirinya. Kekuasaan, jabatan, harta, bahkan orang-orang yang paling dicintai sekalipun seakan tidak lagi memiliki arti.

“Ketika tidur, manusia meninggalkan dunia sejenak. Karena itu tidur adalah miniatur kematian,” ujarnya.

KH. Marpu kemudian mengaitkannya dengan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah menahan dan mengembalikan ruh manusia ketika tidur.

Dari sinilah beliau mengajak jamaah menjadikan tidur sebagai latihan menghadapi kematian.

“Kalau ingin mati dalam keadaan baik, biasakan tidur dengan baik. Berwudhu sebelum tidur, membaca doa, berdzikir, dan menghadapkan diri kepada Allah. Tidur adalah latihan meninggalkan dunia,” pesannya.

Baca Juga:  SD Plus Al-Muhajirin Gelar Tes Siswa Berprestasi untuk Jaring Potensi Terbaik

Beliau juga mengingatkan bahwa kemampuan untuk tidur nyenyak merupakan nikmat besar yang sering kali tidak disadari manusia.

“Tidur yang nyenyak itu karunia. Tidak semua orang mampu mendapatkannya. Maka syukurilah ketika Allah memberikan nikmat tidur dan nikmat bangun kembali,” tambahnya.

Membaca Alam dengan Mata Keimanan

Menjelang akhir kajian, KH. Marpu menegaskan bahwa ayat-ayat yang dibahas dalam Surah An-Naba sebenarnya sedang mengarahkan manusia kepada satu kesimpulan besar: Allah yang mampu menciptakan bumi, gunung, manusia, siang dan malam tentu sangat mudah membangkitkan kembali manusia setelah kematian.

Karena itu, menurutnya, seorang mukmin tidak cukup hanya melihat bumi sebagai tempat berpijak, gunung sebagai pemandangan, atau tidur sebagai rutinitas harian. Semua itu harus dibaca sebagai tanda-tanda kebesaran Allah yang memperkuat keyakinan terhadap kehidupan akhirat.

“Ketika melihat bumi, gunung, dan tidur, yang harus hadir dalam hati kita adalah kesadaran bahwa semua itu adalah bukti kekuasaan Allah. Jika Allah mampu menciptakan semuanya sejak awal, maka membangkitkan manusia kembali tentu jauh lebih mudah bagi-Nya,” tuturnya.

Kajian Tafsir Juz ‘Amma Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an yang menggunakan rujukan karya Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i ini akan terus berlanjut setiap pekan sebagai bagian dari pembinaan keilmuan dan penguatan pemahaman Al-Qur’an bagi keluarga besar Al-Muhajirin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *