Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Sabtu, 29 Agustus 2026

Berita

KH Marpu: Keagungan Nubuwah Membimbing Umat Membaca Masa Lalu dan Menyiapkan Masa Depan

Oleh Fajar Maritim28 Agustus 202611 menit baca
Bagikan artikel ini:

AL-MUHAJIRIN — Berita yang disampaikan Nabi Muhammad SAW mengenai masa lampau dan masa depan bukan hasil perkiraan maupun pembacaan terhadap pola kehidupan. Semua itu merupakan bagian dari keagungan nubuwah karena bersumber dari wahyu Allah SWT.

Karena itu, kabar-kabar Rasulullah tidak berhenti menjadi pengetahuan untuk dikagumi. Di dalamnya terdapat petunjuk yang dapat membantu umat membaca perubahan zaman, mengantisipasi tantangan, serta menentukan arah pendidikan dan dakwah.

Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, dalam Pengajian Rutin Hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat, Purwakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.

Dalam pengajian spesial bulan Maulid bertema Mengenal Keagungan Nubuwah Nabi Muhammad SAW itu, KH Marpu menguraikan pengetahuan Rasulullah mengenai peristiwa masa lampau dan masa depan. Ia juga menjelaskan perjanjian para nabi, fitrah tauhid dalam diri manusia, pendidikan anak, serta sikap yang perlu dibangun ketika menerima berita kenabian.

Memahami Kesalahan Sesuai Kedudukan Seseorang

KH Marpu membuka kajian dengan menjelaskan bahwa istilah dosa atau kesalahan perlu dipahami sesuai dengan tingkat kedekatan seseorang kepada Allah.

Bagi kebanyakan manusia, tidak berbuat maksiat dan mampu menjaga hubungan dengan Allah saat beribadah sudah menjadi pencapaian besar. Namun, bagi para ulama dan kekasih Allah yang memiliki kedudukan rohani lebih tinggi, terputusnya perhatian kepada Allah dalam waktu yang sangat singkat dapat dirasakan sebagai sebuah kesalahan.

KH Marpu mengibaratkannya dengan kualitas sambungan jaringan. Sebagian orang masih menganggap dirinya terhubung meskipun sinyalnya lemah dan prosesnya lambat. Sementara orang yang terbiasa dengan sambungan kuat akan segera merasakan gangguan ketika koneksi terputus selama beberapa detik.

Pemahaman mengenai tingkatan tersebut penting ketika umat mendoakan ampunan bagi para guru dan ulama. Membaca doa “Allahummaghfir lahu warhamhu” untuk seorang guru tidak berarti menuduhnya melakukan dosa seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Ampunan dimohonkan sesuai dengan kedudukan dan tingkat kedekatannya kepada Allah.

“Dosa itu dipahami sesuai dengan levelnya. Ketika kita memohon ampunan untuk guru, jangan membayangkan kesalahan beliau sama dengan kesalahan kita,” terang KH Marpu.

Penjelasan tersebut kemudian menjadi pengantar untuk memahami kisah Nabi Adam AS. Kesalahan Nabi Adam tidak dapat disamakan dengan kemaksiatan yang dilakukan manusia karena sengaja menentang perintah Allah.

Menurut KH Marpu, Nabi Adam terjebak oleh godaan untuk tetap berada di surga dan mempertahankan kedekatannya dengan Allah. Keinginannya bukan menjauh dari Allah, melainkan terus tinggal dalam ketenteraman alam tersebut. Namun, karena kedudukan Nabi Adam sangat tinggi, peristiwa itu tetap disebut sebagai khathiah atau kesalahan pada tingkat beliau.

Nabi Muhammad Mengabarkan Peristiwa Nabi Adam

KH Marpu kemudian menguraikan riwayat yang dinukil dari Sayidina Umar bin Khattab RA mengenai doa Nabi Adam setelah melakukan kesalahan.

Dalam riwayat tersebut, Nabi Adam berdoa kepada Allah dengan menyebut kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Allah kemudian bertanya bagaimana Nabi Adam dapat mengenal Muhammad, sedangkan beliau belum lahir ke dunia.

Nabi Adam menjawab bahwa setelah diciptakan dan ditiupkan ruh, ia mengangkat kepala dan melihat kalimat “Lā ilāha illallāh, Muhammadur Rasūlullāh” tertulis pada tiang-tiang Arasy.

Dari sana Nabi Adam memahami bahwa Allah tidak mungkin menyandingkan sebuah nama dengan nama-Nya, kecuali nama makhluk yang sangat dicintai-Nya.

KH Marpu menegaskan bahwa kisah tersebut menunjukkan salah satu bentuk pengetahuan Rasulullah mengenai perkara gaib pada masa lampau. Nabi Muhammad hidup ribuan tahun setelah Nabi Adam, tetapi dapat mengabarkan peristiwa tersebut karena Allah memberitahukannya melalui wahyu.

“Nabi mengetahui masa lalu bukan karena menyaksikannya sebagai manusia yang hidup pada masa itu. Allah yang mengabarkannya. Inilah berita kenabian, bukan cerita fiktif,” jelasnya.

Riwayat itu juga menjadi salah satu dasar dalam tradisi tawasul dengan menyebut kemuliaan Rasulullah. Permohonan tetap ditujukan kepada Allah, sedangkan nama Nabi disebut karena kecintaan, kedudukan, dan kemuliaan yang Allah berikan kepadanya.

KH Marpu mengingatkan bahwa ulama dapat berbeda dalam menilai suatu riwayat. Sebagian menerima dan sebagian lainnya melemahkan. Dalam riwayat yang dibahas, ia merujuk penilaian Imam Al-Hakim yang menyatakannya sahih.

Menurutnya, perbedaan penilaian tersebut perlu disikapi dengan adab keilmuan. Seseorang boleh mengikuti penilaian ulama tertentu tanpa menganggap semua pendapat lain tidak mempunyai dasar.

“Kalau seseorang berpegang pada ulama yang menilai lemah, silakan. Kita juga dapat berpegang pada Imam Al-Hakim yang menilainya sahih. Jangan seolah-olah pendapat yang kita ikuti menjadi satu-satunya pendapat yang berlaku,” pesannya.

Perjanjian Allah dengan Para Nabi

Keagungan Nabi Muhammad SAW juga tampak dalam perjanjian yang Allah ambil dari para nabi. KH Marpu menjelaskannya melalui Surah Ali Imran ayat 81.

Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah mengambil perjanjian dari para nabi setelah memberikan kitab dan hikmah kepada mereka. Apabila datang seorang rasul yang membenarkan ajaran yang telah mereka terima, mereka diwajibkan beriman dan memberikan pertolongan kepadanya.

Para nabi kemudian menyatakan kesiapan dan mengikrarkan perjanjian tersebut.

Menurut KH Marpu, rasul yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW. Seandainya Rasulullah hadir pada masa Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, atau nabi lainnya, mereka akan beriman dan mendukung beliau.

“Para nabi sudah menerima perjanjian dari Allah. Apabila rasul yang dijanjikan datang pada masa mereka, mereka harus mengimaninya dan membelanya,” ujarnya.

Ayat tersebut memperlihatkan bahwa risalah para nabi berada dalam satu mata rantai yang saling berhubungan. Mereka tidak membawa agama yang berdiri sendiri dan saling bertentangan. Seluruhnya mengajarkan tauhid dan mempersiapkan manusia untuk menerima risalah yang mencapai kesempurnaannya melalui Nabi Muhammad SAW.

Hubungan itu kelak terlihat dengan jelas pada hari kiamat. Ketika manusia mencari pertolongan, para nabi mengarahkan mereka kepada Nabi Muhammad. Setelah memperoleh izin dari Allah, Rasulullah bersujud, memuji-Nya, dan memohon keselamatan bagi umat.

Kalimat yang diucapkan Rasulullah adalah, “Ummati, ya Rabbi”—umatku, wahai Tuhanku.

KH Marpu menjelaskan bahwa umat yang dimaksud dalam keadaan tersebut mencakup manusia yang datang sejak masa Nabi Adam. Hal itu memperlihatkan keluasan risalah dan kasih sayang Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah diutus untuk seluruh manusia. Risalah beliau tidak dibatasi oleh suku, wilayah, atau generasi tertentu. Allah mengutus beliau sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan bagi umat manusia.

Perjanjian Tauhid Seluruh Anak Adam

Selain mengambil perjanjian dari para nabi, Allah juga mengambil kesaksian dari seluruh keturunan Nabi Adam. Peristiwa tersebut dijelaskan dalam Surah Al-A’raf ayat 172.

Allah bertanya, “Alastu birabbikum?”—Bukankah Aku ini Tuhanmu?

Seluruh keturunan Adam menjawab, “Balā syahidnā”—Benar, kami bersaksi.

Menurut KH Marpu, peristiwa itu berlangsung ketika manusia masih berada di alam ruh. Setiap manusia pernah mengakui Allah sebagai Tuhan, Pencipta, dan Pemiliknya.

Kesaksian tersebut menjadi dasar bahwa tauhid telah tertanam dalam fitrah manusia. Karena itu, manusia tidak dapat beralasan pada hari kiamat bahwa dirinya sama sekali tidak pernah mengetahui keberadaan Allah.

Pengertian Fitrah dalam Pendidikan Islam

Pembahasan mengenai perjanjian tauhid mempunyai hubungan langsung dengan pendidikan. KH Marpu menegaskan bahwa fitrah dalam hadis “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah” tidak dimaknai sebagai bakat atau kecenderungan profesi.

Fitrah yang dimaksud adalah kesiapan menerima tauhid, kalimat ikhlas, dan agama Islam. Hal itu diperkuat dengan lanjutan hadis yang menyebutkan bahwa orang tua dapat menjadikan anak mengikuti keyakinan lain.

“Fitrah bukan berarti anak ini mempunyai bakat memasak, menulis, atau keterampilan tertentu. Itu pembahasan lain. Fitrah dalam hadis tersebut adalah tauhid dan kesiapan menerima agama Allah,” jelas KH Marpu.

Beliau menghubungkannya dengan Surah Ar-Rum ayat 30 yang memerintahkan manusia menghadapkan wajah kepada agama Allah sesuai dengan fitrah yang telah Dia ciptakan dalam diri manusia.

Pemahaman tersebut membawa konsekuensi penting bagi guru dan orang tua. Anak tidak boleh dianggap sebagai wadah kosong yang sama sekali belum mempunyai dasar rohani. Sejak lahir, ia membawa fitrah yang perlu dijaga, disapa, dan ditumbuhkan.

KH Marpu mengajak orang tua berbicara kepada bayi dan anak dengan bahasa yang baik. Anak dapat diperdengarkan bacaan Al-Qur’an, doa, zikir, dan kalimat-kalimat yang benar, meskipun kemampuan fisiknya belum memungkinkan untuk memberikan jawaban.

“Jangan beranggapan anak belum mengerti, lalu tidak diajak berkomunikasi. Anggaplah anak memahami sesuai dengan tingkatannya. Bacakan Al-Qur’an dan ajak berbicara dengan bahasa yang benar. Fitrahnya sudah hidup,” pesannya.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan dengan membawa anak-anak ke masjid, berinteraksi dengan mereka, serta melibatkan mereka dalam kehidupan umat. Anak tidak dijauhkan dari suasana ibadah hanya karena kemampuan berbicaranya belum sempurna.

Tugas pendidikan adalah menjaga agar fitrah tauhid tersebut tumbuh. Lingkungan keluarga dan sekolah dapat menguatkannya, tetapi juga dapat menutup atau menguburnya apabila anak terus-menerus menerima nilai yang bertentangan dengan tauhid.

Tasdik Memerlukan Hati yang Bersih

KH Marpu menerangkan bahwa modal penting dalam menerima berita kenabian adalah tashdiq, yaitu membenarkan dengan hati.

Iman memang terlihat sederhana karena berawal dari kesediaan untuk percaya. Namun, membenarkan keterangan Allah, Rasulullah, ulama, dan guru memerlukan hati yang bersih.

Hati yang dipenuhi kesombongan akan selalu mencari alasan untuk menolak. Ia mengukur kekuasaan Allah menggunakan kemampuan manusia yang terbatas. Akibatnya, perkara gaib yang berada di luar pengalaman sehari-hari dianggap mustahil.

Sebaliknya, hati yang bersih memahami bahwa kekuasaan Allah tidak dapat dibatasi oleh logika manusia.

“Jangan mengukur kekuasaan Allah dengan kekuasaan diri kita yang kecil. Kalau kita yakin kepada kudrah Allah, perkara yang diberitakan Nabi dapat diterima dengan lurus,” ujarnya.

Tasdik juga berkaitan dengan adab kepada guru. Seorang murid perlu menyadari bahwa guru mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang belum dimilikinya. Kepercayaan tersebut tidak menghilangkan sikap kritis, tetapi mencegah murid merasa dirinya selalu lebih mengetahui.

Nubuwah Berbeda dengan Futurologi

Setelah membahas pengetahuan Rasulullah mengenai masa lampau, KH Marpu memasuki pembahasan tanabbu’ Nabi mengenai peristiwa yang akan terjadi.

Beliau membandingkannya dengan futurologi, yaitu usaha memperkirakan masa depan melalui data, pola, kecenderungan, dan perkembangan yang sedang berlangsung.

Para ahli dapat memperkirakan keadaan sepuluh atau tiga puluh tahun mendatang dengan menganalisis perkembangan teknologi, ekonomi, politik, lingkungan, dan pendidikan. Perkiraan tersebut kemudian dijadikan dasar dalam menyusun kebijakan.

Menurut KH Marpu, cara tersebut mempunyai nilai ilmiah karena didasarkan pada data. Namun, berita Nabi mengenai masa depan memiliki dasar yang berbeda. Rasulullah tidak memperolehnya melalui pembacaan pola, melainkan melalui wahyu dari Allah Yang Maha Mengetahui.

“Futurologi membaca masa depan dari pola yang ada sekarang. Adapun Nabi mengabarkan masa depan karena diberi tahu oleh Allah,” terangnya.

Kemenangan Romawi yang Dikabarkan Al-Qur’an

Salah satu contoh yang dibahas adalah kemenangan Romawi atas Persia dalam Surah Ar-Rum.

Ketika ayat tersebut turun, Romawi sedang mengalami kekalahan. Al-Qur’an mengabarkan bahwa Romawi akan kembali menang dalam waktu bidh‘i sinīn, yakni antara tiga hingga sembilan tahun.

Al-Qur’an juga menyebutkan lokasi peristiwa itu dengan ungkapan adnal ardh, yang diterangkan sebagai wilayah daratan rendah. Kabar tersebut kemudian benar-benar terjadi sesuai dengan waktu yang telah disebutkan.

Kaum Muslim bergembira atas kemenangan Romawi karena mereka merupakan Ahli Kitab. Sementara Persia pada masa itu menganut Majusi. Meskipun Romawi tidak mengikuti Nabi Muhammad, terdapat kedekatan karena mereka masih mengenal kitab suci dan ajaran ketuhanan.

Bagi KH Marpu, peristiwa tersebut memperlihatkan ketepatan berita Al-Qur’an. Keterangan yang disampaikan tidak berhenti pada siapa yang akan menang, tetapi juga mencakup rentang waktu dan karakter wilayah terjadinya peristiwa.

Runtuhnya Kekuasaan Kisra dan Kaisar

Contoh berikutnya adalah sabda Rasulullah tentang kehancuran kekuasaan Kisra di Persia dan Kaisar di Romawi.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah menyampaikan bahwa setelah kekuasaan mereka runtuh, kekayaan yang dimiliki kedua kerajaan tersebut akan digunakan di jalan Allah.

Ketika kabar itu disampaikan, Persia dan Romawi merupakan dua kekuatan besar dunia. Secara perhitungan politik dan militer, kaum Muslim yang masih berjumlah sedikit sulit dibayangkan dapat mengalahkan keduanya.

Namun, para sahabat menerima berita Rasulullah dengan tasdik. Mereka tidak mengetahui bagaimana peristiwa itu akan terjadi, tetapi meyakini kebenaran sabda Nabi. Dalam perjalanan sejarah, kabar tersebut kemudian menjadi kenyataan.

Pasukan Muslim Menyeberangi Lautan

Rasulullah juga mengabarkan adanya sekelompok umat Islam yang berjuang menyeberangi lautan. Mereka digambarkan seperti raja-raja yang duduk di atas singgasana, menunjukkan kemuliaan dan keadaan mereka yang tenang saat mengarungi laut.

KH Marpu mengisahkan Ummu Haram RA yang mendengar berita tersebut langsung dari Rasulullah. Ia meminta didoakan agar termasuk dalam rombongan pertama yang menyeberangi lautan.

Rasulullah menyatakan bahwa Ummu Haram termasuk dalam kelompok tersebut. Kabar itu terwujud pada masa pemerintahan Muawiyah ketika ia ikut dalam perjalanan laut bersama suaminya, Ubadah bin Shamit RA.

Dalam perjalanan pulang, Ummu Haram mengalami kecelakaan dan wafat. Ia memperoleh kemuliaan sebagai syahid karena telah berangkat dengan niat berjuang di jalan Allah.

Peristiwa tersebut menjadi contoh bahwa kabar Rasulullah tentang masa depan dapat terwujud secara sangat terperinci, termasuk mengenai orang yang akan terlibat di dalamnya.

Kemurtadan dan Munculnya Tokoh Perusak

KH Marpu turut membahas kabar Nabi mengenai munculnya kemurtadan setelah beliau wafat.

Peristiwa tersebut terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Sebagian kelompok menolak membayar zakat dan memisahkannya dari kewajiban shalat. Abu Bakar kemudian mengambil sikap tegas karena penolakan terhadap zakat dinilai sebagai pembangkangan terhadap syariat.

Pada masa tersebut juga muncul Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi. Kemunculannya telah diberitakan oleh Rasulullah.

Selain itu, Rasulullah mengabarkan akan muncul seorang pendusta dan seorang perusak dari Bani Tsaqif. Dalam riwayat yang disampaikan KH Marpu, Asma binti Abu Bakar RA kemudian menghubungkan sosok perusak itu dengan Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi yang dikenal menjalankan kekuasaan secara keras dan membunuh banyak orang.

Berita Nabi Menjadi Dasar Antisipasi

Pada bagian akhir kajian, KH Marpu menekankan bahwa berita Rasulullah mengenai masa depan tidak diberikan agar umat hanya menunggu peristiwa itu terjadi.

Setiap kabar mengandung peringatan dan arah tindakan. Ketika Rasulullah mengabarkan bahwa ilmu agama akan diangkat, umat harus memperkuat pendidikan, mencetak ulama, menjaga sanad keilmuan, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Ketika Nabi mengabarkan akan banyak terjadi peperangan, kerusakan moral, kedurhakaan anak kepada orang tua, dan berbagai kekacauan pada akhir zaman, umat perlu menyiapkan pendidikan keluarga, memperkuat akidah, membangun akhlak, dan menjaga lingkungan sosial.

“Kabar-kabar Nabi bukan untuk ditunggu begitu saja. Kalau Nabi mengabarkan akan terjadi sesuatu, kita harus memikirkan apa yang perlu disiapkan dan bagaimana menghadapinya,” tegas KH Marpu.

Beliau mencontohkan bagaimana hasil riset mengenai perkembangan kecerdasan buatan, ekonomi, dan teknologi dijadikan rujukan untuk menyusun kebijakan. Para pengelola pendidikan kemudian menyesuaikan kurikulum dan program karena mengetahui perubahan yang mungkin terjadi beberapa tahun mendatang.

Sikap serupa perlu diterapkan ketika mempelajari berita kenabian. Hadis-hadis tentang perubahan zaman harus dibaca untuk merumuskan langkah pendidikan dan dakwah yang tepat.

“Kalau futurologi Barat dijadikan rujukan untuk kebijakan negara, ekonomi, dan pendidikan, jangan sampai berita Rasulullah tentang masa depan justru diabaikan,” pesannya.

Bagi para guru Al-Muhajirin, kajian tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan Islam harus mempunyai pandangan jauh ke depan. Guru tidak hanya mengajarkan pelajaran untuk menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga mempersiapkan anak menghadapi keadaan yang telah diperingatkan Rasulullah.

Pendidikan perlu menjaga fitrah tauhid, membersihkan hati, menguatkan kemampuan membenarkan wahyu, menanamkan kecintaan kepada Nabi, serta membekali generasi muda agar mampu menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sosial tanpa kehilangan arah.

Melalui kajian spesial bulan Maulid tersebut, para guru diajak mengenal keagungan nubuwah Nabi Muhammad SAW secara lebih mendalam. Pengetahuan Rasulullah mengenai masa lampau memperkuat keyakinan bahwa sejarah para nabi berada dalam satu rangkaian risalah. Sementara berita beliau mengenai masa depan memberikan petunjuk agar umat tidak berjalan tanpa persiapan.

Maulid pun menjadi kesempatan untuk memperbarui hubungan dengan Rasulullah melalui ilmu, tasdik, selawat, dan pengamalan ajaran beliau. Sebab, mencintai Nabi berarti menjadikan petunjuknya sebagai cahaya untuk membaca masa lalu, menjalani kehidupan hari ini, dan menyiapkan masa depan. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *