Pengajian Bulanan Direktorat Pusat bersama Syaikhuna berlangsung Khidmat, Dr. Hj. Ifa Faizah: Al-Muhajirin adalah Rumah dan Perahu Bersama


AL-MUHAJIRIN— Direktorat Al-Muhajirin Pusat menggelar Pengajian Bulanan bersama Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, Jumat, 4 September 2026, di Aula Syaikh Datul Kahfi, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Purwakarta.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Yayasan Al-Muhajirin Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, seluruh kepala unit di lingkungan Direktorat Al-Muhajirin Pusat, para pengawas, asatidz, ustazah, guru, karyawan, serta keluarga besar Al-Muhajirin.
Dalam sambutannya, Dr. Hj. Ifa menyampaikan sejumlah pesan penting mengenai khidmat, kebersamaan, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan sumber daya manusia, serta berbagai program pengembangan Al-Muhajirin ke depan.
Beliau mengawali sambutannya dengan menyampaikan amanah baru yang diterima, Dr. H. Amit Saepul Malik, M.Pd.I, yang kini mendapat penugasan di Kementerian Agama sebagai Penyelenggara Zakat dan Wakaf.
Menurutnya, amanah tersebut menjadi kebanggaan sekaligus keberkahan bagi keluarga besar Al-Muhajirin.
“Alhamdulillah, insyaallah berkah untuk Al-Muhajirin dan untuk kita semuanya,” ujarnya.
Seiring dengan penugasan baru Dr. H. Amit Saepul Malik tersebut, pada kesempatan ini Yayasan melaksanakan pelantikan Ustazah Heni Nuraini, S.Pd.I sebagai Kepala MTs Al-Muhajirin Pusat.
Pelantikan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan kepemimpinan dan pelayanan pendidikan di lingkungan Al-Muhajirin Pusat, sekaligus memastikan seluruh program pendidikan tetap berjalan dengan baik.


Al-Muhajirin sebagai Rumah Bersama
Hj. Ifa menyampaikan terima kasih kepada seluruh asatidz, ustazah, guru, karyawan, dan setiap unsur yang selama ini menjaga kebersamaan serta berjuang untuk kemajuan Al-Muhajirin.
Beliau mengajak seluruh keluarga besar Al-Muhajirin menempatkan lembaga sebagai rumah dan perahu bersama dalam mengarungi kehidupan menuju rida Allah SWT.
Dalam sebuah perjalanan besar, kata Hj. Ifa, setiap orang mempunyai peran masing-masing. Ada yang bertugas mengayuh, menjaga, membersihkan, menyiapkan kebutuhan, dan menjalankan tugas lainnya. Semua peran sama pentingnya selama diarahkan pada tujuan yang sama.
“Bismillah, kita sama-sama niatkan Al-Muhajirin ini menjadi rumah kita bersama, perahu kita bersama dalam mengarungi kehidupan menuju rida Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.
Perjalanan sebuah lembaga hanya akan berlangsung dengan baik apabila seluruh unsurnya saling percaya, saling menjaga, dan bergerak menuju arah yang sama.
“Jangan sampai sebagian mengayuh, sebagian membolongi sampan. Jangan sampai yang satu ingin ke kiri, yang satu mengayuh ke kanan. Kalau itu semua terjadi, kita tidak akan sampai kepada tujuan,” katanya.
Sebaliknya, apabila setiap orang mampu menjalankan dan memaksimalkan perannya, perjalanan akan terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Hj. Ifa menegaskan bahwa berkhidmat kepada Al-Muhajirin merupakan bagian dari pengabdian kepada guru, pesantren, umat, dan perjuangan agama.
Memasuki usia sekitar 35 tahun, Al-Muhajirin telah melewati perjalanan panjang dengan berbagai tantangan. Di tengah tekanan ekonomi yang dihadapi banyak lembaga pendidikan swasta, Al-Muhajirin masih diberikan kekuatan untuk bertahan, berkembang, dan terus memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.
“Tidak semua lembaga diberikan kesempatan sebagaimana yang Allah anugerahkan kepada kita semua di Al-Muhajirin. Alhamdulillah,” katanya.
Meneladani Perjuangan Para Masyaikh
Dalam sambutannya, Hj. Ifa juga mengulas amanah yang diterima Syaikhuna Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, setelah terpilih menjadi anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35.
Hj. Ifa yang turut mendampingi dalam rangkaian muktamar menyaksikan langsung beratnya perjuangan para masyaikh. Para ulama harus mengikuti rapat, diskusi, dan dinamika organisasi hingga larut malam, bahkan menjelang pagi.
Pada salah satu rangkaian kegiatan, pembahasan berlangsung hingga sekitar pukul dua dini hari. Agenda berikutnya bahkan berjalan sampai pukul empat subuh. Setelah mendapatkan amanah sebagai anggota AHWA, Syaikhuna masih harus kembali mengikuti rapat pada pagi harinya.
Menurut Hj. Ifa, perjuangan tersebut memperlihatkan besarnya kecintaan dan pengabdian para ulama kepada umat.
“Kalau bukan karena kesadaran tingkat tinggi untuk betul-betul berjuang demi umat, semuanya itu sulit,” ujarnya.
Beliau mengajak keluarga besar Al-Muhajirin menjadikan semangat para masyaikh sebagai uswah atau teladan. Setiap orang mempunyai kesulitan masing-masing, baik dalam pekerjaan, sekolah, keluarga, maupun kehidupan pribadi. Namun, ketika perjuangan dijalani dengan cinta kepada Allah, Rasulullah SAW, guru, dan umat, setiap kesulitan dapat menjadi bagian dari mujahadah.
Pengabdian di Al-Muhajirin, lanjutnya, jangan semata-mata dipandang sebagai pekerjaan duniawi, tetapi juga sebagai investasi untuk kehidupan akhirat.
“Mudah-mudahan perjuangan kita bersama inilah investasi terbaik untuk kehidupan kita. Mudah-mudahan Allah menyaksikan kita, Rasulullah menyaksikan kita, dan kita menjadi bagian dari pewaris perjuangan para auliya,” katanya.
Pengajian Bulanan dan Pengembangan Lingkungan
Hj. Ifa turut menyampaikan sejumlah agenda pengembangan Direktorat Al-Muhajirin Pusat. Pengajian bersama seluruh jajaran direktorat akan dijadikan agenda rutin setiap bulan.
Pengajian tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, menyamakan arah perjuangan, dan memperkuat nilai-nilai spiritual para guru serta karyawan.
Selain penguatan spiritual, pembangunan sarana dan lingkungan pendidikan juga terus dilakukan. Hj Ifa menyampaikan bahwa sejumlah fasilitas telah dibenahi, termasuk penataan berbagai bagian bangunan.
Kawasan terbuka di lingkungan Al-Muhajirin juga direncanakan menjadi ruang belajar luar kelas. Gazebo-gazebo akan dibangun dan dapat digunakan para santri serta siswa untuk belajar, berdiskusi, dan melakukan berbagai kegiatan pendidikan.
Perhatian terhadap lingkungan turut diperkuat melalui pengelolaan sampah organik dan anorganik. Salah satu program yang mulai dikembangkan ialah budidaya cacing untuk mendukung pengolahan limbah organik sekaligus menjadi sarana pendidikan lingkungan.
Hj. Ifa meminta seluruh unit turut menjaga kebersihan serta menumbuhkan budaya pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Pemetaan Kompetensi Guru
Pada bidang pendidikan, Yayasan Al-Muhajirin terus memperkuat program supervisi dan pemetaan kompetensi guru. Hj. Ifa memberikan amanah kepada para pengawas, yakni Dr. Cece dan Hj. Olis, untuk melakukan pemetaan supervisi pada seluruh bidang studi.
Pemetaan dilakukan untuk mengetahui kemampuan guru, kekuatan proses pembelajaran, serta bagian-bagian yang masih perlu ditingkatkan. Pada semester pertama, setiap unit diharapkan telah mempunyai gambaran mengenai kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran.
Hasil pemetaan tersebut selanjutnya menjadi dasar penyusunan program peningkatan kompetensi pada semester berikutnya, sesuai kebutuhan masing-masing guru.
Program supervisi akan diperkuat melalui berbagai kegiatan pendampingan. Pembinaan tahsin dilaksanakan mulai dari jenjang PAUD hingga SMA bersama LTTQ Al-Muhajirin, Ustaz Oman, dan tim. Sementara itu, program tahfidz dan supervisi lainnya akan dilakukan bersama Ustazah Vera dan tim.
Proses belajar antarguru juga akan diperkuat melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Program tersebut melengkapi supervisi rutin yang dilakukan kepala sekolah dan para wakil kepala sekolah.
Hj. Ifa menegaskan bahwa kunci peningkatan kualitas seorang guru terletak pada kemauan untuk terus belajar. Para pendidik tidak boleh merasa telah selesai belajar meskipun sudah mengajar selama puluhan tahun.
“Semakin seseorang punya semangat belajar, berarti dia semakin memahami nilai sebuah ilmu. Kalau berhenti belajar, hakikatnya dia sudah pensiun menjadi guru,” tegasnya.
Beliau mengajak seluruh guru mencontoh Syaikhuna yang terus belajar, berinovasi, membangun jejaring, dan berkolaborasi dengan berbagai kalangan meskipun telah berada pada posisi yang sangat senior.
Semangat belajar membuat seseorang terus tumbuh. Sebaliknya, berhenti belajar dan berinovasi akan membuat seseorang kehilangan daya hidup dalam menjalankan tugas pendidikan.
“Kalau berhenti berbuat, berhenti berinovasi, berhenti belajar, kita sudah tua sebelum waktunya,” katanya.
Guru Harus Terus Bergerak
Seluruh pendidik di lingkungan Al-Muhajirin didorong untuk terus meningkatkan kompetensi secara profesional. Hj. Ifa memberikan apresiasi kepada para dosen yang berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral dan berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi guru serta dosen lainnya.
Peningkatan kompetensi dapat ditempuh melalui berbagai jalan, seperti pendidikan pembimbing haji, kompetisi, pelatihan, inovasi pendidikan, serta kegiatan lain yang mampu memperluas wawasan dan pengalaman.
Menurutnya, guru harus menjadi pribadi yang terus bergerak. Ilmu, pengalaman, dan kompetensi yang terus bertambah pada akhirnya akan kembali memberikan manfaat kepada peserta didik dan lembaga.
“Bismillah, kita ingin memberikan yang terbaik secara profesional dengan apa yang kita miliki. Mudah-mudahan kita semua senantiasa saling menguatkan,” ujarnya.
Menjadi guru di lingkungan pesantren, lanjut Hj. Ifa, berarti menjalankan peran sebagai murabbi dan muallim. Karena itu, tugas mendidik harus dilaksanakan dengan kesungguhan, keteladanan, ilmu, dan keikhlasan.
Guru tidak hanya menyampaikan pelajaran di ruang kelas. Guru juga membentuk akhlak, menanamkan nilai, memberikan teladan, dan membimbing peserta didik agar tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat.
Membersihkan Jiwa dan Hati
Setelah pelantikan Kepala MTs Al-Muhajirin Pusat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tausiah Syaikhuna Dr. KH. Abun Bunyamin, MA.

Dalam tausiahnya, Syaikhuna mengingatkan pentingnya tazkiyatun nafs atau proses membersihkan jiwa dan hati sebagai bagian dari tugas kenabian.
Hati perlu dibersihkan dari berbagai sifat tercela melalui taubat, istighfar, zikir, penyesalan atas dosa, serta kemampuan menjaga diri di tengah lingkungan yang penuh godaan. Manusia tidak cukup memperbaiki perilaku lahiriah, tetapi juga harus membersihkan batin agar tumbuh sifat tawadhu, zuhud, wara’, ikhlas, dan berbagai akhlak terpuji lainnya.
Syaikhuna mengajak jamaah agar tidak terpedaya oleh kehidupan dunia, tidak gemar membandingkan diri dengan orang lain, tidak merasa paling hebat, serta mampu mengendalikan hawa nafsu. Jamaah juga diingatkan agar terbuka terhadap kritik, tidak menunda pekerjaan, dan tidak mudah tersinggung.
Kehidupan dunia hanya sementara. Karena itu, setiap orang harus terus memperbaiki salat, memperbanyak istighfar, mensyukuri rezeki yang Allah berikan, dan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk beramal.
Tausiah ditutup dengan doa agar ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat. Syaikhuna juga mendoakan seluruh keluarga besar Al-Muhajirin agar diberikan keselamatan dalam agama, kesehatan, tambahan ilmu, keberkahan rezeki, kesempatan bertaubat sebelum wafat, dan husnul khatimah.
Pengajian Bulanan Direktorat Al-Muhajirin Pusat menjadi momentum untuk kembali meneguhkan arah perjuangan seluruh unsur lembaga. Di tengah pertumbuhan Al-Muhajirin yang semakin luas, tantangan pendidikan pun semakin besar.
Kekuatan lembaga tak cukup dibangun melalui sarana dan program. Kebersamaan, kepercayaan, profesionalisme, semangat belajar, serta kesatuan tujuan menjadi fondasi yang harus terus dijaga.
Melalui pesan tentang “rumah bersama” dan “perahu bersama”, Hj. Ifa mengingatkan bahwa perjalanan Al-Muhajirin merupakan perjalanan kolektif. Setiap pimpinan unit, guru, ustaz, ustazah, dosen, dan karyawan mempunyai peran dalam menjaga arah perjalanan tersebut.
Ketika seluruh unsur bergerak bersama, saling menguatkan, dan menjalankan amanah masing-masing, perjalanan Al-Muhajirin dalam melayani pendidikan dan berkhidmat kepada umat akan terus berlangsung dengan kokoh. (*)
