Pengajian Bulanan Direktorat Al-Muhajirin Pusat, Syaikhuna KH Abun Bunyamin Ajak Jamaah Senantiasa Tazkiyatun Nafs Membersihkan Hati


AL-MUHAJIRIN— Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, mengajak seluruh keluarga besar Al-Muhajirin untuk senantiasa melakukan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa dan hati.
Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Bulanan Direktorat Al-Muhajirin Pusat, Jumat, 4 September 2026, di Aula Syaikh Datul Kahfi, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Purwakarta.
Kegiatan dihadiri Ketua Yayasan Al-Muhajirin Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, para pengawas, seluruh kepala unit di lingkungan Direktorat Al-Muhajirin Pusat, asatidz, ustazah, guru, karyawan, serta keluarga besar Al-Muhajirin.
Dalam tausiyahnya, Syaikhuna menjelaskan bahwa di antara tugas Rasulullah SAW adalah membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan manusia, serta mengajarkan Al-Kitab dan hikmah.
Beliau merujuk pada Surah Al-Jumu’ah ayat 2 tentang tugas Rasulullah SAW dalam membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan manusia serta mengajarkan Al-Kitab dan hikmah.
Menurut Syaikhuna, proses penyucian manusia mencakup dua aspek, yakni lahir dan batin. Aspek lahir dibersihkan melalui akhlak, sedangkan batin dibersihkan melalui tasawuf.
Tujuannya agar hati manusia menjadi bersih, tumbuh sifat tawadhu, tidak takabur, memiliki sifat zuhud, wara’, serta berbagai sifat terpuji lainnya.

Para ulama tasawuf, lanjut Syaikhuna, mengenal tiga tahapan dalam membersihkan hati, yakni takhalli, tahalli, dan tajalli.
Takhalli adalah membersihkan hati dari sifat-sifat tercela. Tahalli berarti menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji. Sedangkan tajalli merupakan keadaan ketika hati memperoleh pancaran dan kedekatan kepada Allah SWT.
Syaikhuna kemudian membacakan firman Allah:
“Yā ayyuhan-nabiyyu innā arsalnāka syāhidan wa mubashshiran wa nadhīran, wa dā‘iyan ilallāhi bi idznihī wa sirājan munīrā.”
Syaikhuna KH Abun mengingatkan bahwa manusia harus selalu menyadari kedekatan Allah SWT. Allah SWT mengetahui apa yang dilakukan manusia dan mendengar apa yang diucapkannya.
Namun, menjaga hati agar tetap bersih bukan perkara mudah.
Menurut Syaikhuna, manusia berhadapan dengan kemungkinan dosa melalui pikiran, pandangan, pendengaran, ucapan, makanan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh.
Beliau mengibaratkan diri manusia seperti pakaian. Sebagus apa pun pakaian, apabila kotor tetap harus dicuci dan dibersihkan.
Demikian pula hati manusia yang harus terus dibersihkan.
“Inilah yang disebut tazkiyatun nafs,” terangnya.
Dalam tausiyah tersebut, Syaikhuna kemudian menjelaskan beberapa jalan untuk melakukan tazkiyatun nafs.
Pertama adalah uzlah.
Syaikhuna menegaskan bahwa uzlah tidak berarti meninggalkan kehidupan dunia atau sama sekali tidak bergaul dengan masyarakat.
Seseorang tetap hidup dan beraktivitas di tengah masyarakat, tetapi hatinya tidak ikut terbawa oleh keburukan lingkungan.
Syaikhuna mengibaratkannya seperti berada di lautan, tetapi tidak membiarkan hati ikut tenggelam.
“Kita hidup di tengah masyarakat, tetapi hati kita tidak terpengaruh oleh keburukan masyarakat,” pesannya.
Karena itu, seorang guru tidak boleh memahami uzlah dengan meninggalkan tugas mengajar. Seorang dai juga tidak boleh menjadikan uzlah sebagai alasan meninggalkan tugas dakwah dan membimbing masyarakat.
Tetaplah bergaul dan berdakwah, tetapi jagalah hati.
Syaikhuna kemudian mengingatkan firman Allah:
“Yā ayyuhalladzīna āmanū ‘alaikum anfusakum, lā yadhurrukum man dhalla idzāhtadaitum.”
Pesannya, seseorang harus menjaga dirinya agar keburukan orang lain tidak menjadikannya ikut buruk.
Jalan kedua adalah taubat.
Syaikhuna menegaskan bahwa taubat bukan hanya ucapan, melainkan harus tampak dalam sikap, perbuatan, dan tindakan.
Taubat adalah kembali kepada Allah.
“Wa tūbū ilallāhi taubatan nashūhā.”
“Bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
Taubat yang sungguh-sungguh, menurutnya, disertai tekad untuk tidak kembali kepada dosa.
Namun ketika seseorang kembali terjatuh dalam dosa, ia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.
“Walaupun seseorang berbuat dosa berkali-kali, hendaknya ia tetap kembali bertaubat kepada Allah. Taubatlah terus-menerus sampai suatu saat kita meninggal dunia dalam keadaan telah bertaubat,” pesan Syaikhuna.
Syaikhuna juga menjelaskan perbedaan antara istighfar dan taubat.
Istighfar berarti memohon ampun kepada Allah, sedangkan taubat disertai kesadaran, penyesalan, dan keinginan untuk meninggalkan dosa.
Karena itu ketika seorang Muslim membaca:
“Astaghfirullāhal-‘azhīm alladzī lā ilāha illā huwa al-hayyul-qayyūmu wa atūbu ilaih.”
Maka kalimat “wa atūbu ilaih” tidak boleh sekadar menjadi ucapan di lisan, tetapi harus diikuti kesungguhan untuk kembali kepada Allah.
Jalan ketiga adalah dzikrullah atau memperbanyak mengingat Allah.
Menurut Syaikhuna, salah satu zikir yang sangat penting adalah mengingat kematian.
“Makan, ingat mati. Tidur, ingat mati. Bekerja, ingat mati. Beribadah, ingat mati.”
Kesadaran akan kematian akan memengaruhi cara seseorang menjalani kehidupan.
Dalam shalat, misalnya, seseorang dapat membayangkan bahwa shalat yang sedang dilakukannya merupakan shalat terakhir.
Dengan cara itu, ia akan berusaha menghadirkan shalat yang lebih khusyuk.
Zikir juga tidak terbatas pada tasbih, tahmid, takbir dan tahlil. Membaca Al-Qur’an adalah zikir, membaca shalawat adalah zikir, tafakkur adalah zikir, demikian pula muhasabah.
Jalan berikutnya adalah an-nadam atau penyesalan.
Menurut para ulama, kata Syaikhuna, inti taubat adalah an-nadam, yakni rasa menyesal atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.
Penyesalan yang sungguh-sungguh akan mendorong seseorang meninggalkan dosa dan memperbaiki kehidupannya.
Kemudian istighfar.
Syaikhuna mengingatkan bahwa Rasulullah SAW sendiri banyak beristighfar. Sementara manusia biasa dengan segala kekurangan dan kesalahannya tentu jauh lebih membutuhkan ampunan Allah.
Karena itu, syaikhuna meminta jamaah untuk tidak meninggalkan wirid dan istighfar.
Apa yang terus dimasukkan ke dalam diri, menurutnya, akan memberikan pengaruh terhadap hati.
Jika hati terus diisi dengan zikir, shalawat, Al-Qur’an, dan berbagai amal saleh, insyaallah hati akan menjadi tenang.
Syaikhuna juga mengingatkan pentingnya kualitas ibadah.
Beliau mengibaratkan ibadah sebagai sebuah bingkisan. Jika bingkisan itu tidak memiliki isi yang baik, tentu tidak memberikan nilai sebagaimana mestinya.
Demikian pula ibadah apabila tidak disertai keikhlasan dan kekhusyukan.
“Lebih baik sedikit tetapi berkualitas dan penuh kekhusyukan daripada banyak tetapi kosong dari penghayatan,” pesannya.
Shalat, kata Syaikhuna, mempunyai kedudukan penting karena berkaitan erat dengan amal-amal lainnya.
Jika shalat seseorang baik, insyaallah amal lainnya juga akan ikut baik.
Karena itu, gelar, jabatan, kepintaran, maupun keberhasilan duniawi tidak otomatis menjamin kualitas ibadah seseorang.
Seseorang mungkin telah menjadi profesor atau doktor, tetapi tetap harus memperbaiki hati dan kekhusyukan shalatnya.
Syaikhuna kemudian mengajak jamaah memperbanyak istighfar:
“Astaghfirullāh min al-khatāyā.
Astaghfirullāha Rabbal-barāyā.
Astaghfirullāh min al-khatāyā.”
Dilanjutkan dengan doa:
“Rabbi zidnī ‘ilman nāfi‘ā,
wa waffiqnī li‘amalin maqbūlah,
wa hab lī rizqan wāsi‘ah,
wa tub ‘alayya taubatan nashūhā.”
“Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, berilah aku taufik untuk melakukan amal yang diterima, karuniakanlah kepadaku rezeki yang luas, dan terimalah taubatku dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
Pada bagian berikutnya, Syaikhuna mengingatkan jamaah agar jangan terpedaya oleh kehidupan dunia.
“Hidup di dunia ini sebentar saja. Kita hanya sekadar mampir, sekejap mata,” pesannya.
Akhirat adalah tempat manusia kembali. Karena itu, kehidupan dunia tidak boleh membuat seseorang terlena hingga melupakan kehidupan yang sesungguhnya.
Beliau kemudian memberikan nasihat dalam menjalani kehidupan.
Pertama, jangan suka membanding-bandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain.
Dalam urusan dunia, lihatlah orang yang berada di bawah agar muncul rasa syukur. Namun dalam urusan ibadah dan kebaikan, lihatlah orang yang lebih baik agar muncul semangat meningkatkan amal.
Kedua, jangan merasa paling hebat.
Ilmu, harta, jabatan, dan berbagai kelebihan yang dimiliki seseorang merupakan pemberian Allah. Jangan sampai semua itu melahirkan kesombongan.
Ketiga, jangan terpedaya oleh keindahan dunia karena semua yang dimiliki manusia pada akhirnya akan ditinggalkan.
Keempat, jangan mengikuti hawa nafsu.
Syaikhuna mengingatkan kandungan Surah Ali ‘Imran ayat 14 tentang berbagai kesenangan yang dicintai manusia, mulai dari keluarga hingga harta benda. Semuanya merupakan kesenangan dunia, sementara Allah menyediakan tempat kembali yang lebih baik.
Kelima, jangan menutup diri dari kritik.
Ketika ada orang yang mengingatkan kekurangan, jangan langsung tersinggung atau marah.
“Bisa jadi kritik tersebut merupakan jalan Allah untuk memperbaiki diri kita,” pesannya.
Keenam, jangan suka menunda pekerjaan.
Jika suatu pekerjaan dapat dilakukan sekarang, jangan selalu menunggu esok hari. Manusia tidak pernah mengetahui apakah esok masih mendapatkan kesempatan dari Allah.
Ketujuh, jangan mudah tersinggung.
Syaikhuna mengajak jamaah belajar menerima nasihat dengan lapang dada, tidak mudah marah, serta menjadi manusia yang semakin dewasa dan sabar.
“Bisa jadi justru melalui orang tersebut Allah sedang memberikan jalan agar kita menjadi lebih baik,” pesannya.
Menutup tausiyahnya, Syaikhuna mengajak jamaah untuk terus memperbaiki diri dan mensyukuri seluruh nikmat serta rezeki yang telah diberikan Allah.
Beliau berharap ilmu yang diperoleh dalam pengajian menjadi ilmu yang barakah, bermanfaat, serta memberikan maslahat bagi kehidupan.
Syaikhuna kemudian menutup pengajian dengan doa:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ.
“Ya Allah, kami memohon keselamatan dalam agama, kesehatan badan, tambahan ilmu yang bermanfaat, keberkahan dalam rezeki, serta taubat sebelum datangnya kematian.”
Syaikhuna juga mendoakan agar seluruh jamaah dan keluarga besar Al-Muhajirin dianugerahi husnul khatimah.
“Amin, ya Rabbal ‘alamin.”
Pengajian kemudian ditutup dengan pembacaan Al-Fatihah. (*)
