KH. Marpu Ajak Jamaah Perkuat Keterhubungan dengan Guru dan Ulama, Maulana Syaikh ‘Alaa Ijazahkan Doa Iftitah Al-Qur’an di Al-Muhajirin Pusat


AL-MUHAJIRIN – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, mengajak jamaah Perayaan Maulid Agung Nabi Muhammad SAW untuk memperkuat keterhubungan dengan guru dan ulama sebagai jalan menuju Rasulullah SAW dan Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada Perayaan Maulid Agung Nabi Muhammad SAW bersama Mau’lana Syaikh ‘Alaa Muhammad Mushthafa Na’imah Al-Azhari As-Syafi’i di Lapangan Al-Muchtar, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Jumat (18/9/2026).
Mengawali sambutan, KH. Marpu menyampaikan penghormatan kepada Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, pimpinan umum Pondok Pesantren Al-Muhajirin, serta para masyaikh, pengurus jam’iyah thariqah, jajaran PWNU Jawa Barat, undangan, jamaah, dan santri yang hadir.
Secara khusus, KH. Marpu menyambut kehadiran Mau’lana Syaikh ‘Alaa Muhammad Musthafa Na’imah dari Alexandria, Mesir, sebagai guru dan bagian dari sanad keilmuan keluarga besar Al-Muhajirin.
“Di dalam menjalankan tugas kita sebagai muslim, di dalam menjalankan keislaman, sangat penting kita memiliki sanad dan guru,” ungkapnya.

Sanad dan Guru sebagai Jalan Menuju Rasulullah
KH. Marpu menjelaskan bahwa keterhubungan dengan Rasulullah SAW menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Menurutnya, seseorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT perlu mengenal Rasulullah SAW melalui bimbingan para ulama dan guru.
“Kita bahkan tidak akan bisa menghampiri halaman kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa terhubung kepada guru, kepada ulama yang jadi pintu gerbang, menjadi jalan besar kita menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” tuturnya.
Beliau mengajak jamaah untuk memanfaatkan kehadiran para masyaikh dan ulama sebagai kesempatan memperkaya bekal ruhani. Menurutnya, kehadiran para guru dan ahli ilmu di dalam majelis sudah menjadi nikmat besar, bahkan sebelum jamaah menerima tausiyah.
“Bahkan seandainya hari ini hadirin semua tidak dapat ceramah apa-apa, hanya melihat orang tua kita syaikhuna, hanya melihat para masyayikh dari PWNU, hanya melihat Maulana Syekh ‘Alaa, hanya melihat orang-orang baik para ahli ilmu di depan kita semua, itu sesungguhnya sudah cukup atau bahkan lebih dari cukup untuk nutrisi, untuk gizi ruhani kita,” ujarnya.
KH. Marpu kemudian mengajak jamaah menyimak tausiyah Maulana Syaikh ‘Alaa secara sungguh-sungguh agar ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal dalam meningkatkan kecintaan dan kedekatan kepada Allah SWT.
“Sehingga pulang dari majelis ini kita bawa oleh-oleh ilmu, bukan hanya membawa oleh-oleh informasi, pengetahuan atau apapun yang tidak jadi bekal kita untuk makin mencintai Allah,” katanya.
Menjelaskan Rangkaian Sanad Keilmuan Syaikh ‘Alaa
Dalam sambutannya, KH. Marpu turut menjelaskan rangkaian sanad keilmuan Syaikh ‘Alaa. Ia menyebut Syaikh ‘Alaa sebagai murid Maulana Syaikh Abdussalam Muhammad Ali Syita, yang kemudian terhubung dengan Maulana Syaikh ‘Alaiddin ‘Azaim dan Al-Imam al-Mujaddid Sayyid Muhammad Madhi Abul ‘Azaim.
Beliau menyampaikan bahwa para ulama tersebut memiliki hubungan nasab dengan Rasulullah SAW. Namun, menurut KH. Marpu, Syaikh ‘Alaa tidak pernah menjadikan nasab sebagai hal yang ditonjolkan dalam hubungan mereka.
“Saya mengenal beliau dari 2013. Tidak pernah satu kata pun menyebutkan nasabnya. Saya taunya malah dari orang lain,” ungkapnya.
Karena itu, KH. Marpu menekankan bahwa hubungan dan keterikatan dengan Syaikh ‘Alaa diharapkan tumbuh atas dasar kecintaan terhadap ilmu akhirat dan karunia ruhani dari Allah SWT, bukan karena kepentingan duniawi.
“Maka mutaba‘an kita, rabitah kita, keterhubungan kita dengan beliau insyaallah memang murni karena memang niat,” katanya.
Beliau kembali mengajak jamaah untuk menyerap ilmu Syaikh ‘Alaa dan terus menjaga hubungan dengan para masyaikh serta ulama yang menjadi jalan keterhubungan kepada Rasulullah SAW.
Syaikh ‘Alaa Akan Mensyarahi dan Mengijazahkan Doa Iftitah Al-Qur’an
Selain membahas pentingnya sanad, KH. Marpu menyampaikan agenda khusus dalam majelis tersebut, yakni pembacaan, penjelasan, dan pengijazahan doa Iftitah Al-Qur’an oleh Syaikh ‘Alaa.
Ia menjelaskan bahwa doa tersebut dikutip dari kitab Al-Hayah ath-Thayyibah Ma’al Quran, karya tafsir yang disusun oleh Syaikh ‘Alaa. Doa Iftitah Al-Qur’an tersebut kemudian menjadi bagian dari pengajaran Al-Qur’an di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, termasuk melalui metode Hijroti.
KH. Marpu menegaskan bahwa pengajaran doa tersebut telah memperoleh izin dari Syaikh ‘Alaa.
“Saya berani mengajarkan karena diizinkan. Seandainya beliau mengatakan, ‘Oh tidak, itu untuk Anda pribadi saja,’ saya nggak akan berani,” jelasnya.
Ia kemudian meminta Ustaz Oman dan tim Hijroti mempersiapkan pembacaan doa Iftitah Al-Qur’an secara langsung di hadapan Syaikh ‘Alaa. Dalam kesempatan tersebut, Syaikh ‘Alaa akan memberikan penjelasan mengenai makna doa sekaligus mengijazahkannya kepada jamaah.
KH. Marpu menjelaskan bahwa doa tersebut dapat diamalkan oleh seluruh jamaah sebelum membaca, mengkaji, atau merenungkan Al-Qur’an, termasuk mereka yang tidak mengikuti metode Hijroti.
“Walaupun tidak semua yang hadir mengikuti metode Hijroti, tetapi doanya bisa dipakai setiap yang akan baca Quran,” tuturnya.
Menutup sambutannya, KH. Marpu menyampaikan terima kasih atas kehadiran seluruh jamaah. Ia berharap majelis Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi sebab keberkahan bagi Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat dan seluruh peserta yang hadir. (*)
