Kajian I’jaz Ilmi dalam Al-Qur’an oleh Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah pada Safari Dakwah Ramadan HIDMAT Muslimat NU Jabar

Bagikan artikel ini:
Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd.

AL-MUHAJIRIN– Rangkaian Safari Dakwah Ramadan 1447 H yang diselenggarakan oleh Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) Muslimat Nahdlatul Ulama Jawa Barat memasuki hari kelima sekaligus sesi penutup pada Jumat (15 Ramadan 1447 H). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube agar dapat diikuti lebih luas oleh jamaah.

Alhamdulillah, selama lima hari pelaksanaannya, kegiatan ini berhasil menghimpun ribuan Muslimat NU dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat dalam satu majelis ilmu. Safari Dakwah Ramadan ini menjadi ruang silaturahmi dan penguatan spiritual, dengan tujuan memperkokoh keimanan, meningkatkan ketakwaan, serta memperluas syiar Islam di bulan suci Ramadan.

Acara diawali dengan tawasul yang dibawakan oleh perwakilan PC Muslimat NU Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Pangandaran. Suasana khusyuk kemudian semakin terasa saat pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan oleh perwakilan PC Muslimat NU Kota Banjar.

Selanjutnya, lantunan shalawat bersama dibawakan oleh ibu-ibu Muslimat NU dari Kabupaten Pangandaran. Irama shalawat yang syahdu menghadirkan suasana haru dan kebersamaan, sekaligus menjadi pengingat akan harapan memperoleh syafaat Rasulullah SAW di yaumil jaza.

Ketua PW HIDMAT Muslimat NU Jawa Barat, Dra. Hj. Euis Badriah Nur Asikin, M.M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan dakwah digital tersebut. Ia menekankan bahwa dakwah pada era modern harus mampu memanfaatkan teknologi agar pesan-pesan Islam dapat menjangkau lebih luas.

“Dakwah digital ini membuat kita tetap bisa saling sapa, berdiskusi, bahkan melanjutkan silaturahmi setelah acara selesai. Ini justru menjadi ruang dakwah yang sangat hidup,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kreativitas para peserta yang mengikuti kajian dari berbagai tempat dan suasana—mulai dari rumah, ruang pertemuan, hingga mengikuti kajian sambil menikmati tadabur alam di kebun atau di tepi pantai.

I’jaz Ilmi: Ketika Al-Qur’an Berbicara dalam Bahasa Ilmu Pengetahuan

Materi utama disampaikan oleh Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd. dengan tema I’jaz Ilmi dalam Al-Qur’an, yakni kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an yang mengandung isyarat ilmiah yang melampaui zamannya.

Baca Juga:  Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah Hadiri Peresmian MI Hidayatul Islam, Sampaikan Selamat dan Apresiasi

Dalam pemaparannya, Dr. Hj, Ifa menjelaskan bahwa I’jaz Ilmi adalah salah satu bentuk kemukjizatan Al-Qur’an yang ditandai dengan kesesuaian kandungan ayat-ayatnya dengan fakta ilmiah, sekaligus mampu dipahami oleh manusia sepanjang zaman.

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang mengisyaratkan berbagai fenomena alam yang pada masa turunnya belum sepenuhnya dipahami manusia. Fakta-fakta tersebut baru dapat dijelaskan secara lebih ilmiah melalui perkembangan penelitian dan penemuan sains yang muncul berabad-abad kemudian.

“Informasi ilmiah dalam Al-Qur’an bukan untuk menggantikan sains, tetapi justru menjadi inspirasi bagi manusia untuk meneliti dan mentafakuri ciptaan Allah,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa sejumlah ulama dan ilmuwan meneliti banyaknya ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Misalnya, ulama tafsir Tantawi Jauhari memperkirakan terdapat sekitar 150 ayat ilmiah dan lebih dari 750 ayat yang berkaitan dengan fenomena alam dalam Al-Qur’an.

Jumlah ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an sangat mendorong manusia untuk mempelajari alam semesta sebagai bagian dari upaya mengenal kebesaran Allah.

Namun, menurut Dr. Hj. Ifa, umat Islam sering kali justru lebih fokus pada kajian fikih, sementara ayat-ayat kauniyah yang berbicara tentang alam dan sains belum banyak digali secara optimal.

“Seandainya ayat-ayat ilmiah ini menjadi gerakan bersama di dunia pendidikan dan majelis ilmu, maka umat Islam seharusnya bisa menjadi pelopor kemajuan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Isyarat Ilmiah yang Mendahului Sains Modern

Dalam penjelasannya, Dr. Hj. Ifa memaparkan sejumlah contoh fenomena ilmiah yang telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an jauh sebelum ditemukan oleh para ilmuwan modern.

Salah satunya adalah isyarat tentang asal-usul alam semesta dalam QS. Al-Anbiya ayat 30 yang menggambarkan bahwa langit dan bumi pada awalnya merupakan satu kesatuan sebelum kemudian dipisahkan—sebuah konsep yang sejalan dengan teori Big Bang dalam kosmologi modern.

Baca Juga:  Menjemput Ramadan 1447 Hijriah dengan Rencana: Apa Target Ramadan Kita Tahun Ini?

Al-Qur’an juga menyinggung tentang ekspansi alam semesta dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 47 yang menjelaskan bahwa langit terus berkembang, sebuah fenomena yang baru dibuktikan dalam ilmu astronomi modern.

Selain itu, Al-Qur’an menggambarkan secara rinci tahapan perkembangan embrio manusia, mulai dari nutfah (setetes cairan), ‘alaqah (segumpal darah yang melekat), hingga mudghah (segumpal daging), yang kini dipahami melalui ilmu embriologi.

Contoh lainnya adalah gambaran tentang gunung sebagai pasak bumi dalam QS. An-Naba ayat 6–7, yang mengisyaratkan fungsi stabilisasi kerak bumi, serta keunikan sidik jari manusia dalam QS. Al-Qiyamah yang menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki pola sidik jari yang berbeda satu sama lain.

Menurut Dr. Hj. Ifa, isyarat-isyarat ilmiah tersebut bukan sekadar informasi, melainkan ajakan bagi manusia untuk melakukan tafakur terhadap ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam wahyu (ayat qauliyah) maupun yang terbentang di alam semesta (ayat kauniyah).

“Semakin manusia meneliti alam, semakin terbuka pula rahasia kebesaran Allah. Justru perkembangan ilmu pengetahuan semakin menegaskan kesempurnaan Al-Qur’an,” ujarnya.

Integrasi Ilmu dan Al-Qur’an

Sebagai akademisi yang meneliti integrasi ilmu dan agama, Dr. Hj. Ifa juga menekankan pentingnya menghadirkan kurikulum pendidikan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Ia mencontohkan model pembelajaran yang mengintegrasikan sains dengan wahyu, seperti dalam pembelajaran biologi, kimia, atau fisika yang selalu dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan.

Pendekatan ini, menurutnya, bukan hanya memperkaya pengetahuan siswa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap ilmu pengetahuan pada hakikatnya mengarah pada pengenalan terhadap kebesaran Allah.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hj. Ifa juga memperkenalkan salah satu buku karyanya yang diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI, yang membahas integrasi pembelajaran biologi dengan Al-Qur’an. Buku ini menjadi salah satu upaya menghadirkan konsep pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan sains dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Refleksi dan Penguatan Keimanan

Pada bagian akhir acara, Ketua PW Muslimat NU Jawa Barat, Dr. Hj. R. Ella M. Giri Komala, M.M.Pd., menyampaikan refleksi yang menyentuh hati. Ia mengaku merasa kecil di hadapan keagungan Al-Qur’an yang kemukjizatannya tidak akan pernah habis untuk dikaji.

Baca Juga:  Rumah Tahfizh Al-Muhajirin Purwakarta Selenggarakan Tahfizh Camp Liburan Batch 7: Mengisi Liburan dengan Al-Qur'an

“Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Rasulullah SAW. Semakin dipelajari, semakin kita merasakan betapa luar biasanya kitab suci ini,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keseimbangan dan ketelitian bahasa Al-Qur’an yang menunjukkan kesempurnaan wahyu Ilahi, seperti keseimbangan kata-kata antonim, sinonim, maupun sebab-akibat yang menjadi bukti keagungan kitab suci tersebut.

Acara Safari Dakwah Ramadan 1447 H kemudian ditutup dengan doa bersama. Para peserta berharap seluruh rangkaian kegiatan ini menjadi amal ibadah yang diterima oleh Allah SWT sekaligus menjadi momentum memperkuat gerakan dakwah Muslimat NU di era digital.

Adapun selama lima hari pelaksanaannya, Safari Dakwah Ramadan 1447 H yang berlangsung hingga 5 Maret 2026 (11–15 Ramadan 1447 H) menghadirkan sejumlah pemateri utama dengan tema-tema aktual dan relevan bagi kehidupan umat.

Di antaranya, Prof. Dr. dr. Yoni Fuadah Syukriani, M.Si., DFM yang membahas persoalan malpraktik kedokteran; Prof. Dr. Hj. Ummu Salamah, M.S. dengan materi kepedulian sosial sebagai bentuk kesempurnaan iman; serta Dra. Hj. Euis Badriah Nur Asikin, M.M.Pd. yang memberikan sambutan sekaligus penguatan organisasi. Selain itu, Dr. Hj. R. Ella M. Giri Komala, M.M.Pd. menyampaikan materi tentang peran ilmu akidah dalam kehidupan, Prof. Dr. Hj. Ulfiah, M.Si. membahas psikologi dakwah, dan Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd. menutup rangkaian kajian dengan tema I’jaz Ilmi dalam Al-Qur’an.

Dengan berakhirnya rangkaian Safari Dakwah Ramadan ini, Muslimat NU Jawa Barat berharap semangat dakwah dan majelis ilmu yang telah terbangun dapat terus berlanjut. Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi para jamaah untuk memperkuat iman, memperluas wawasan keislaman, serta meneguhkan peran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *