Pengajian Khusus Ramadan Al-Muhajirin Pusat, Khulashah Kitab Al-‘Ilmi (Bagian II: Adab Menuntut Ilmu)

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhyidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN – Melanjutkan keberkahan Ramadhan 1447 H, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, Purwakarta, kembali menggelar pengajian khusus Khulashah Kitab Al-‘Ilmi, ringkasan Bab Ilmu dari mahakarya Ihya Ulumiddin karya Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali.

Kajian Bagian II ini dibawakan langsung oleh Pengasuh Pesantren, KH. R. Marpu Muhyiddin Ilyas, MA, dalam suasana majelis yang khidmat dan penuh hikmah. Jika pada Bagian I dibahas tentang fadilah ilmu, klasifikasi ilmu (fardu ‘ain dan fardu kifayah), serta ilmu tercela, maka pada Bagian II fokus diarahkan pada fondasi utama: adab-adab dalam menuntut ilmu.

KH. Marpu menegaskan bahwa sebelum berbicara tentang metode, teknik belajar, atau kecanggihan literasi modern, yang paling mendasar adalah kebersihan hati. Ilmu, menurut beliau, adalah ibadah kalbu. Jika salat sebagai ibadah badani tidak sah tanpa kebersihan jasad, maka ilmu tidak akan menjadi cahaya tanpa kebersihan batin.

Beliau menguraikan pentingnya membersihkan hati dari riya’, ujub, hasud, dan kesombongan. Ilmu pada hakikatnya adalah nur dari Allah yang dikirim melalui malaikat. Hati yang kotor diibaratkan rumah yang tidak layak dimasuki malaikat. Karena itu, Ramadhan menjadi momentum strategis untuk tathahhur an-nafs—pensucian jiwa—agar ilmu yang dipelajari benar-benar berbuah hidayah.

Baca Juga:  Santri Penghafal Al-Quran dari Al-Muhajirin Pusat Purwakarta Lolos Seleksi Praja IPDN Tahun 2025, Selamat ya…

Selain kebersihan hati, beliau mengingatkan pentingnya fokus total dalam belajar. Mengutip QS. Al-Ahzab: 4, Allah tidak menjadikan dua hati dalam satu dada. Artinya, tidak ada ruang bagi pembelajar untuk setengah hati. Saat ngaji, tinggalkan distraksi, termasuk gawai dan pikiran duniawi. Bahkan mencatat pun, menurut beliau, memiliki timing: pahami dahulu sampai muncul “aha moment”, baru tuliskan agar ilmu benar-benar meresap.

Sikap tawadhu’ terhadap ilmu dan guru juga menjadi sorotan utama. Kesombongan terhadap ilmu bisa berupa meremehkan cabang ilmu tertentu, sedangkan kesombongan terhadap guru bisa muncul dalam bentuk merasa lebih tahu, enggan ditegur, atau hanya mau belajar dari tokoh yang populer. KH. Marpu mencontohkan adab Nabi Musa AS kepada Nabi Khidir AS sebagai model kesabaran dan husnuzan dalam belajar. Popularitas, tegas beliau, bukan ukuran kemuliaan; sebab syuhrah berbeda dengan fadhilah di sisi Allah.

Baca Juga:  Al-Muhajirin Purwakarta Sambut Ribuan Santri Baru Tahun Ajaran 2025/2026

Dalam tahap awal belajar, Imam Al-Ghazali mengingatkan agar tidak larut dalam perdebatan ikhtilaf. Pemula perlu kokoh dahulu dalam satu mazhab atau pendapat yang kuat sebelum masuk ke wilayah perbandingan. Tanpa fondasi, perbedaan justru berpotensi melahirkan kecerobohan dalam beragama.

Beliau juga menekankan pentingnya sistematika dan tahapan dalam belajar. Ilmu dipelajari secara bertahap, dari dasar menuju tingkat lanjut. Ulama rabbaniyyun adalah mereka yang mengajarkan ilmu kecil sebelum ilmu besar. Model ini, menurut KH. Marpu, menjadi kekuatan tradisi pesantren—dimulai dari tahsin, jurumiyah, takrib, hingga kitab-kitab yang lebih tinggi—membangun kedalaman, bukan sekadar keluasan.

Ilmu, lanjut beliau, memiliki kemuliaan berdasarkan buah dan dampaknya. Ilmu yang berorientasi akhirat tentu lebih tinggi nilainya dibanding ilmu yang hanya berhenti pada dunia. Namun bukan berarti ilmu duniawi rendah; ia menjadi mulia jika diarahkan untuk tujuan akhirat. Di sinilah pentingnya integrasi. Bahasa, sains, teknologi, bahkan coding sekalipun dapat bernilai ibadah jika diniatkan untuk mendekat kepada Allah.

Baca Juga:  Pengajian Bersama Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA: Meneladani Adab Guru kepada Murid dalam Tradisi Keilmuan Islam

Tujuan akhir menuntut ilmu, menurut penjelasan beliau, adalah menghiasi hati dengan akhlak mulia dan meraih kedekatan dengan Allah. Imam Al-Ghazali mengibaratkan perjalanan ilmu seperti manasik haji: setiap unsur—paspor, kendaraan, bekal—punya posisi masing-masing, tetapi seluruhnya bermuara pada tawaf dan wukuf sebagai simbol liqa’ullah. Semua ilmu memiliki tempat, selama ia mengantar pada tujuan tertinggi tersebut.

Di akhir majelis, KH. Marpu mengingatkan bahwa Ramadhan adalah musim emas untuk menyerap hakikat ilmu. Jangan mengejar popularitas, tetapi keikhlasan dan buah akhirat. Beliau mengajak jamaah untuk rutin membaca doa “Rabbi zidni ‘ilma” serta memperbanyak muhasabah agar ilmu tidak menjadi sebab kesombongan.

Rekaman lengkap Pengajian Ramadhan Bagian II dapat diakses melalui kanal resmi Al-Muhajirin TV. Seri ini akan terus berlanjut hingga 23 Ramadhan, menjadi ruang tafaqquh mendalam bagi keluarga besar Al-Muhajirin.

Semoga pengajian ini menjadi nur yang membersihkan hati, menundukkan ego, dan mengantarkan ilmu kita kepada ridha Allah. Barakallah fiikum. Wallahu a‘lam bisshawab. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *