
AL-MUHAJIRIN- Dzikir (mengingat Allah SWT) dan kebersihan lingkungan memiliki keterkaitan yang erat dan saling menguatkan dalam ajaran Islam. Keduanya tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga etika dan praktik kehidupan sehari-hari umat Muslim.
Ketua Yayasan Al Muhajirin Purwakarta, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, menyampaikan bahwa dzikir tidak berhenti pada lisan dan hati, melainkan harus tercermin dalam sikap dan perilaku, termasuk dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar.
“Dzikir adalah fondasi kesadaran spiritual. Ketika seseorang senantiasa mengingat Allah SWT, maka nilai-nilai keimanan itu akan terwujud dalam tindakan nyata, salah satunya melalui kepedulian terhadap kebersihan lingkungan,” ujar Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah.
Kebersihan sebagai Bagian dari Iman
Dalam Islam, kebersihan menempati posisi yang sangat penting. Hal ini ditegaskan dalam hadis masyhur Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim). Dzikir sebagai inti dari iman dan ketakwaan berperan mengingatkan seorang Muslim untuk senantiasa menjalankan perintah agama, termasuk menjaga kebersihan, baik kebersihan diri, tempat tinggal, maupun lingkungan sosial.
Dzikir juga menumbuhkan kesadaran ilahiah bahwa Allah SWT Maha Suci dan mencintai kebersihan. Kesadaran ini mendorong umat Islam untuk menjaga kesucian (thaharah) dalam berbagai aspek kehidupan. Lingkungan yang bersih dipandang sebagai cerminan dari hati yang terjaga dan iman yang hidup.
Dzikir, Syukur, dan Tanggung Jawab Lingkungan
Lebih lanjut, dzikir menumbuhkan rasa syukur atas nikmat ciptaan Allah SWT, termasuk alam dan lingkungan hidup. Dengan merenungi keagungan ciptaan-Nya, seorang Muslim akan terdorong untuk menjaga dan memelihara lingkungan, bukan merusaknya.
Konsep manusia sebagai khalifah di bumi sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 30) menjadi landasan tanggung jawab ekologis umat Islam. Dzikir berfungsi sebagai pengingat spiritual agar manusia tidak lalai dalam mengemban amanah tersebut dan senantiasa mengelola bumi dengan bijak dan penuh tanggung jawab.
Ketenangan Hati dan Ketertiban Lingkungan
Dzikir juga memiliki dampak psikologis yang kuat. Allah SWT berfirman, “…hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram…” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ketenangan hati ini tercermin dalam perilaku yang tertib dan teratur, termasuk dalam menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan.
Lingkungan yang bersih dan tertata rapi turut mendukung kekhusyukan ibadah. Masjid, rumah, dan tempat ibadah lainnya membutuhkan kebersihan agar dzikir dan shalat dapat dilakukan dengan nyaman dan penuh kekhidmatan. Oleh karena itu, orang yang rajin berdzikir akan memiliki kepedulian tinggi terhadap kebersihan ruang-ruang ibadah.
Implementasi Praktis dalam Syariat Islam
Dalam praktik syariat, Islam sangat menekankan pentingnya thaharah atau bersuci sebelum melaksanakan ibadah, seperti wudu dan mandi wajib. Ajaran ini secara tidak langsung mengajarkan pentingnya air bersih dan lingkungan yang sehat. Orang yang terbiasa berdzikir akan lebih sadar untuk menjaga sarana dan prasarana kebersihan sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.
Selain itu, Islam juga melarang perbuatan membuang kotoran atau sampah sembarangan, terutama di jalan, tempat umum, dan sumber air. Larangan ini berakar dari nilai dzikir yang menumbuhkan kesadaran akan dampak perbuatan manusia terhadap orang lain dan lingkungan sekitar.
Dzikir sebagai Pengingat Spiritual Kehidupan
Dengan demikian, dzikir berfungsi sebagai pengingat spiritual yang terus-menerus, mendorong seorang Muslim untuk mengamalkan nilai-nilai kebersihan dalam kehidupan sehari-hari. Kebersihan bukan sekadar persoalan fisik, melainkan manifestasi nyata dari keimanan dan kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan. (*)
