
AL-MUHAJIRIN- Dzikir (mengingat Allah SWT) dan kesabaran (sabar) merupakan dua pilar utama dalam ajaran Islam yang saling terkait dan menguatkan satu sama lain. Keduanya tidak hanya menjadi penyejuk hati di tengah ujian kehidupan, tetapi juga membentuk karakter Muslim yang tangguh dan penuh ketenangan.
Ketua Yayasan Al Muhajirin Purwakarta, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, menyampaikan bahwa dzikir bukanlah sekadar ucapan lisan, melainkan harus menjadi pondasi yang melahirkan sikap sabar dalam menghadapi segala cobaan. Dzikir yang istiqamah akan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap ujian adalah bagian dari rencana Allah SWT yang penuh hikmah.
“Dzikir adalah kunci ketenangan jiwa. Saat hati senantiasa mengingat Allah SWT, maka kesabaran akan muncul secara alami, karena kita yakin bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar,” ujar Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah.
Kesabaran sebagai Buah dari Dzikir yang Benar
Dalam Islam, kesabaran menempati kedudukan mulia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153). Dzikir menjadi sarana utama untuk memperkuat kesabaran, karena dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram sebagaimana firman-Nya: “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Orang yang rajin berdzikir akan lebih mudah bersabar saat menghadapi musibah, kegagalan, atau tantangan hidup. Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan tetap berikhtiar sambil tawakal kepada Allah SWT. Dzikir mengingatkan kita akan sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sehingga kita tidak mudah putus asa.
Dzikir, Syukur, dan Ketabahan Jiwa
Lebih dalam lagi, dzikir menumbuhkan rasa syukur yang menjadi fondasi kesabaran. Dengan merenungi nikmat Allah melalui kalimat-kalimat dzikir seperti “Alhamdulillah” atau “Subhanallah”, seorang Muslim akan melihat ujian sebagai sarana pensucian dosa dan peningkatan derajat. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya… Jika ditimpa musibah, ia bersabar, maka itu baik baginya” (HR. Muslim).
Konsep ini mengajarkan bahwa manusia sebagai khalifah di bumi harus tabah menghadapi cobaan. Dzikir menjadi pengingat agar kita tidak lalai, tetap beramal shaleh, dan menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesabaran.
Ketenangan Hati melalui Dzikir dan Sabar
Dzikir memberikan dampak psikologis yang luar biasa. Saat hati gelisah karena masalah duniawi, dzikir seperti “La hawla wa la quwwata illa billah” dapat meredakan kegundahan. Ketenangan ini melahirkan kesabaran yang kokoh, sehingga perilaku kita tetap terjaga, tidak mudah marah atau mengeluh. Lingkungan keluarga dan masyarakat pun menjadi lebih harmonis karena sikap sabar yang tercermin dari dzikir yang mendalam.
Implementasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam syariat Islam, kesabaran diwujudkan melalui amalan seperti menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan istiqamah dalam ibadah meski dalam kondisi sulit. Dzikir pagi dan petang, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, menjadi benteng utama untuk melatih kesabaran. Islam juga melarang sikap tergesa-gesa yang dapat merusak hubungan sosial, karena sabar adalah akhlak mulia yang diajarkan Nabi SAW.
Dzikir sebagai Pengingat Abadi
Dengan demikian, dzikir berperan sebagai pengingat spiritual yang tak henti-hentinya, mendorong umat Islam untuk bersabar dalam segala keadaan. Kesabaran bukan hanya reaksi terhadap ujian, melainkan manifestasi iman yang hidup dan kesadaran akan kebesaran Allah SWT dalam setiap hembusan napas kehidupan. (*)
