
AL-MUHAJIRIN — Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu momentum paling agung dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar kisah perjalanan lintas ruang dan waktu, melainkan penegasan ilahiah tentang kedudukan shalat sebagai fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Dalam peristiwa inilah Rasulullah SAW menerima langsung perintah shalat dari Allah SWT, menjadikannya satu-satunya kewajiban yang diturunkan di langit, bukan melalui wahyu di bumi.
Hal ini menunjukkan bahwa shalat selain sebagai ritual ibadah, juga sarana komunikasi tertinggi antara hamba dan Sang Pencipta. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa ketinggian derajat seorang hamba di sisi Allah SWT tidak diukur dari status sosial atau capaian duniawi, tetapi dari kualitas shalatnya—dari kekhusyukan, kedisiplinan, dan kesadaran ruhani yang menyertainya.
Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, mengatakan bahwa makna Isra Mi’raj harus dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, terutama dengan menjadikan shalat sebagai pusat orientasi hidup.
“Shalat adalah mi’rajnya orang beriman. Ketika shalat ditegakkan dengan benar dan khusyuk, ia akan melahirkan pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, jujur, serta memiliki kekuatan moral dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” tutur Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah.
Shalat: Perintah Langit yang Mengikat Bumi
Keistimewaan shalat terletak pada posisinya sebagai penghubung langsung antara langit dan bumi. Dalam shalat, seorang hamba berdiri, rukuk, dan sujud dalam kepasrahan total kepada Allah SWT, sekaligus menata kembali orientasi hidupnya. Shalat mengajarkan keteraturan waktu, pengendalian diri, dan kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan.
Allah SWT berfirman:
“Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”
(QS. Thaha: 14)
Ayat ini menegaskan bahwa esensi shalat adalah dzikrullah—menghadirkan Allah dalam hati, pikiran, dan perbuatan. Tanpa kesadaran ini, shalat berpotensi kehilangan ruhnya.
Mi’raj dan Pembentukan Kepribadian
Makna Mi’raj tidak berhenti pada kisah historis perjalanan Rasulullah SAW, melainkan teraktualisasi dalam shalat yang dijaga secara konsisten. Shalat yang benar akan membentuk kepribadian yang utuh: jujur dalam perkataan, amanah dalam tanggung jawab, serta mampu menahan diri dari perbuatan keji dan mungkar.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Dalam konteks pendidikan dan pengabdian umat, shalat yang terjaga akan melahirkan etos kerja yang disiplin, keikhlasan dalam menjalankan amanah, serta keteguhan moral dalam menghadapi perubahan zaman. Nilai-nilai inilah yang terus ditanamkan di lingkungan pendidikan Al-Muhajirin sebagai bagian dari pembentukan karakter Islami yang paripurna.
Momentum Muhasabah Bersama
Peringatan Isra Mi’raj menjadi momentum muhasabah bagi umat Islam: sudahkah shalat benar-benar menjadi poros kehidupan kita? Sudahkah ia membimbing sikap, keputusan, dan pengabdian kita kepada sesama?
Isra Mi’raj menegaskan bahwa kemuliaan hidup seorang Muslim terletak pada kualitas shalatnya. Dengan menjaga shalat lima waktu, menyempurnakan kekhusyukan, dan memahami hakikat Mi’raj, umat Islam diarahkan untuk senantiasa terhubung dengan Allah SWT dalam setiap dimensi kehidupan—baik pribadi, sosial, maupun profesional.
Semoga peringatan Isra Mi’raj 1447 Hijriah ini semakin memperkuat komitmen kita untuk menegakkan shalat sebagai tiang agama dan menjadikannya mi’raj ruhani menuju ridha Allah SWT. (*)
