
AL-MUHAJIRIN— Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 di Citapen, Sukatani, Purwakarta menggelar Tes Seleksi Penerimaan Santri Baru (PSB) Gelombang 2 untuk Tahun Pelajaran 2026/2027 pada Ahad, 8 Februari 2026. Kegiatan berlangsung tertib dan diikuti para calon santri tingkat SMP 3 dan SMA 3 Al-Muhajirin dengan antusias.
Tes seleksi ini menjadi bagian dari proses penjaringan santri baru yang akan dibina dalam sistem pendidikan terpadu pesantren dan sekolah formal di lingkungan Al-Muhajirin 3.
Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin 3 sekaligus Kepala SMP 3 Al-Muhajirin 3, Hj. Kiki Zakiah Nuraisyah, S.S.I., M.H., menyampaikan bahwa Al-Muhajirin 3 memiliki tiga program unggulan utama untuk menjembatani kesuksesan para santri. Program tersebut meliputi: Takhosus Tahfizh, Takhosus Bahasa, Takhosus Kitab.
Menurutnya, ketiga program ini dirancang agar saling bersinergi sehingga kemampuan bahasa, penguasaan kitab, dan hafalan Al-Qur’an menjadi fondasi kuat dalam membangun masa depan santri.
Sementara itu, Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, menegaskan keteladanan Pimpinan Ponpes Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH Abun Bunyamin, MA, yang telah mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya untuk dunia santri.

Beliau juga menekankan pentingnya pembiasaan ibadah tepat waktu sebagai karakter dasar santri. “Harus perih agar menjadi peurah (berhasil),” ujarnya, menggambarkan bahwa proses disiplin dan kesungguhan adalah kunci keberhasilan.
Dalam sesi taushiyah pada PSB Gelombang 2, Pimpinan Ponpes Al-Muhajirin Purwakarta Ibu Kyai Dra. Hj. Euis Marfuah, MA menyampaikan kunci sukses seorang santri, yang di antaranya termasuk Kecerdasan, Kesungguhan, Kesabaran, hingga bimbingan guru. Beliau menekankan bahwa keberhasilan santri tidak diraih secara instan, tetapi melalui proses panjang dengan bimbingan dan kedisiplinan.

Kegiatan seleksi mencakup beberapa tahapan penilaian akademik dan wawancara, serta penguatan motivasi bagi calon santri. Pihak panitia berharap melalui proses ini akan terjaring santri yang siap mengikuti pendidikan pesantren secara menyeluruh — baik dalam aspek ilmu, akhlak, maupun kemandirian. (*)
