Tausiyah Ibu Kiai Dra. Hj. Euis Marfuah, M.A. Menyambut Ramadan 1447 Hijriah

Bagikan artikel ini:
Ibu Kiai Dra. Hj. Euis Marfuah, M.A., Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin

AL-MUHAJIRIN — Dalam suasana silaturahmi menyambut Ramadan 1447 Hijriah, keluarga besar Al-Muhajirin Kampus Pusat mendapat tausiyah dari Ibu Kiai Dra. Hj. Euis Marfuah, M.A., Pimpinan Pondok Pesantren, yang mengajak seluruh hadirin menjadikan puasa sebagai momentum reformasi akidah, ibadah, dan akhlak.

Dalam tausiyahnya, Dra. Hj. Euis Marfuah, M.A. mengajak seluruh keluarga besar Al-Muhajirin untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat nilai silih asah, silih asih, silih asuh—saling menasihati dalam kebaikan, saling menyayangi, dan saling membimbing dalam keberkahan.

Beliau menyampaikan bahwa puasa harus dilandasi iman dan ikhlas, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Man shaama Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu maa taqaddama min dzambihi” — barang siapa berpuasa karena iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Baca Juga:  PJ Bupati Sumedang Sambut Baik Penyelenggaraan Kemah Moderasi LP Ma'arif PWNU se-Jawa Barat di Kiarapayung

Puasa, menurut beliau, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi jalan reformasi diri: mereformasi akidah, memperbaiki ibadah, serta menyempurnakan akhlak. Ramadan adalah madrasah ruhaniyah yang mengantarkan manusia pada perubahan yang hakiki.

Beliau juga mengingatkan agar umat menunggu keputusan isbat penetapan awal Ramadan dengan penuh ketaatan dan kebersamaan.

Dalam tausiyahnya, disampaikan pula keutamaan-keutamaan khusus Ramadan yang Allah Swt. anugerahkan kepada umat Nabi Muhammad saw., yang tidak diberikan kepada umat-umat terdahulu:

Baca Juga:  Penanaman Pohon di ABM Farm Al-Muhajirin Kampus 5 Wanayasa: Wujudkan Cita-Cita Santri Jadi Sarjana, Pengusaha, dan Ulama

Pada malam pertama Ramadan, Allah memandang hamba-hamba-Nya dengan pandangan kasih sayang. Siapa yang dipandang dengan rahmat-Nya, tidak akan diazab selamanya.

Allah memerintahkan para malaikat untuk memohonkan ampun bagi orang-orang yang berpuasa.

Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.

Allah memerintahkan surga untuk berhias, karena surga merindukan empat golongan: orang yang gemar membaca Al-Qur’an, yang menjaga lisan, yang memberi makan orang berbuka, dan yang berpuasa di bulan Ramadan.

Pada akhir Ramadan, Allah memberikan ampunan yang menyeluruh kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.

Baca Juga:  Santri Al-Muhajirin Pusat Purwakarta Isi Malam Nisfu Syaban dengan Kekhusyuan Ibadah

Beliau mengingatkan agar jangan sampai puasa hanya menghasilkan lapar dan dahaga, tanpa pahala dan perubahan diri. Ramadan harus menjadikan kita lebih bersih, lebih ikhlas, dan lebih beruntung dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

Di akhir tausiyahnya, beliau memanjatkan doa agar puasa tahun ini diterima Allah Swt., dosa-dosa masa lalu diampuni, dan takdir yang akan datang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semoga seluruh amal ibadah diijabah, ilmu diberkahi, rumah tangga dilimpahi sakinah, serta ekonomi dimudahkan dalam kebaikan. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *