Pengajian Khusus Ramadan Al-Muhajirin Pusat, Khulashah Kitab Al-‘Ilmi (Bagian 1: Keutamaan Ilmu)

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhyidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN- Ramadhan 1447 Hijriah menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, Purwakarta. Di tengah suasana bulan suci yang penuh keberkahan, digelar pengajian khusus bertajuk Khulashah Kitab Al-‘Ilmi, sebuah ringkasan dari mahakarya monumental Ihya Ulumiddin karya Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali.

Pengajian yang dibuka pada Kamis, 19 Februari 2026, dan berlangsung dari 1 hingga 23 Ramadhan ini diikuti para ustadz dan asatidz. Kajian dibawakan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhyidin Ilyas, MA. Kegiatan ini menjadi ruang tafaqquh yang mendalam, bukan sekadar membaca teks, tetapi menyelami ruh ilmu sebagai cahaya kehidupan.

Acara dibuka dengan hadrah yang dihadiahkan untuk Imam Al-Ghazali, sebagai bentuk takzim kepada ulama besar yang ilmunya menembus zaman. Dalam pengantarnya, KH. Marpu mengajak seluruh hadirin mendoakan sang imam agar ilmu yang dipelajari menjadi nur yang menuntun hati.

“Mudah-mudahan apa yang kita baca dari kitab beliau ini menjadi cahaya yang memandu hati kita semuanya,” ujar beliau mengawali majelis.

Ia menegaskan bahwa ilmu adalah keunggulan terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Ilmu menjadi jalan makrifatullah dan warisan para nabi. Merujuk pada firman Allah dalam QS. Thaha: 114, “Rabbi zidni ‘ilma”, beliau menekankan bahwa bahkan Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk terus meminta tambahan ilmu. “Tidak mungkin Allah menyuruh Kanjeng Nabi meminta tambahan sesuatu kecuali sesuatu itu sangat baik, bahkan yang terbaik,” jelasnya.

Baca Juga:  Santri Penghafal Al-Quran dari Al-Muhajirin Pusat Purwakarta Lolos Seleksi Praja IPDN Tahun 2025, Selamat ya…

Ayat lain seperti QS. Al-Mujadilah: 11—“Yarfa‘illahu alladzina amanu minkum walladzina utul ‘ilma darajat”—dijelaskan sebagai dalil kemuliaan orang berilmu. Mengutip tafsir Ibnu Abbas, beliau menyampaikan bahwa perbedaan derajat itu di akhirat diibaratkan sejauh perjalanan ratusan tahun. Demikian pula QS. Ali Imran: 18 yang menempatkan ulul ‘ilmi sebagai saksi kebenaran bersama Allah dan malaikat.

Hadis-hadis Nabi turut menguatkan posisi ilmu, seperti sabda Rasulullah SAW, “Man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fiddin” dan “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin.” Ilmu yang dimaksud, tegas beliau, bukan sekadar pengetahuan, melainkan ilmu yang membuahkan rasa takut kepada Allah dan melahirkan amal saleh.

Dalam bab pertama, Al-Bab al-Awwal fi Fadhilatil ‘Ilmi wa at-Ta‘lim wa at-Ta‘allum, ditegaskan bahwa ilmu adalah nilai plus nomor satu dalam kehidupan manusia. KH. Marpu membagi ilmu menjadi dua: ilmu muamalah—yang berkaitan dengan ibadah dan akhlak menuju keselamatan akhirat—serta ilmu mukasyafah, yakni penyingkapan hakikat yang tidak layak diajarkan kepada awam.

Baca Juga:  Launching Buku "Meningkatkan Kinerja Pesantren dengan Metode Balance Scorecard" Karya DR. H. Amit Saepul Malik, M.Pd.I

Memasuki bab kedua, pembahasan bergeser pada klasifikasi ilmu berdasarkan hukum mempelajarinya: fardu ‘ain dan fardu kifayah. Ilmu fardu ‘ain mencakup tauhid, fikih, tasawuf, serta pemahaman tentang ahwalul qalbi (keadaan hati). “Setiap detik hati kita bergerak. Maka wajib bagi kita mengetahui apakah niat kita lurus saat puasa atau tarawih,” jelas beliau, seraya mengingatkan pentingnya menjaga niat bahkan dalam perkara kecil.

Adapun ilmu fardu kifayah meliputi bidang-bidang yang menopang keberlangsungan umat: pengobatan, pertanian, sains, teknologi informasi, ushul fikih, nahwu, hingga saraf. Jika tidak ada yang menguasainya, seluruh masyarakat berdosa; namun jika telah ada yang menunaikannya, gugurlah kewajiban yang lain. Dalam konteks modern, beliau mencontohkan bahwa kemampuan coding dapat menjadi fardu kifayah ketika masyarakat sangat bergantung padanya.

Bab ketiga membahas ilmu tercela: yang haram seperti sihir dan praktik menyimpang, yang makruh seperti syair percintaan yang merusak, serta yang mubah seperti sejarah umum dan sains non-agama. KH. Marpu menegaskan bahwa Islam tidak mengenal ilmu bebas nilai. Semua ilmu harus tunduk pada syariat. Ia juga mengkritik cara pandang sekuler yang memisahkan ilmu dari dimensi ketuhanan, menyebutnya sebagai bentuk “penjajahan epistemik”.

Baca Juga:  Asyiknya Santri Daycare Al-Muhajirin 1 Purwakarta Outing Class di Sasakala Farm House Cibungur!

Menjelang penutup, beliau memberi gambaran bab-bab berikutnya: adab guru dan murid, penyakit ilmu seperti riya’ dan kesombongan, ciri ulama akhirat dan ulama su’, hingga pembahasan tentang akal—baik yang bersifat garizi, tajribi, maupun nazari. Penekanan terletak pada integrasi: ilmu duniawi dapat bernilai ibadah jika diniatkan untuk akhirat.

Di akhir majelis, KH. Marpu kembali mengingatkan pentingnya memperbanyak doa “Rabbi zidni ‘ilma” sepanjang Ramadhan. “Tidak ada toleransi untuk kebodohan. Al-Qur’an dan hadis justru mencela kebodohan yang disengaja. Inilah fitnah akhir zaman: orang merasa sudah belajar agama, padahal belum menunaikan ilmu yang wajib,” pungkasnya.

Pengajian ini menjadi katalisator integrasi ilmu agama dan ilmu dunia di lingkungan pesantren. Rekaman pengajian dapat diakses melalui kanal resmi Pondok Pesantren Al-Muhajirin yakni Al-Muhajirin TV. Mari jadikan Ramadhan pbulan kebangkitan ilmu—sebab dengan ilmu, manusia mengenal Tuhannya, menjaga akhlaknya, dan menapaki jalan warisan para nabi. Wallahu a‘lam bisshawab. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *