
AL-MUHAJIRIN – Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) Muslimat Nahdlatul Ulama Jawa Barat kembali menggelar Safari Dakwah Ramadan 1447 H secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh Muslimat NU se-Jawa Barat dengan penuh kekhidmatan dan semangat ukhuwah Islamiyah .
Acara dipandu oleh Ratu Hadijah selaku MC yang memimpin jalannya kegiatan dengan tertib dan khidmat. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan tawasul yang dipimpin oleh perwakilan Muslimat NU PC Karawang, dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh utusan dari Purwakarta .
Suasana Ramadan semakin terasa saat pembacaan sholawat dipimpin bersama oleh perwakilan dari Bekasi dan Cimahi. Para peserta yang hadir secara virtual tampak mengikuti dengan penuh penghayatan .
Ketua PW HIDMAT Muslimat NU Jawa Barat, Dra. Hj. Euis Badriah Nur Asikin, M.M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas konsistensi dan kekompakan Muslimat NU dalam mengikuti Safari Dakwah Ramadan. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi sarana silaturahmi sekaligus penguatan dakwah di era digital serta momentum peningkatan kualitas ibadah dan kepedulian sosial .
Kepedulian Sosial sebagai Bentuk Kesempurnaan Iman
Materi utama disampaikan oleh Prof. Dr. Hj. Ummu Salamah, M.S. dengan tema Kepedulian Sosial sebagai Bentuk Kesempurnaan Iman .
Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Puasa bertujuan membentuk pribadi yang bertakwa sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, bahwa kewajiban puasa agar manusia mencapai derajat takwa .
Beliau menjelaskan bahwa puasa melatih pengendalian diri secara menyeluruh — menjaga lisan dari ghibah, menahan tangan dari perbuatan zalim, serta membersihkan hati dari sifat sombong, iri, dan dengki. Ramadan juga menjadi momentum Nuzulul Qur’an sehingga interaksi dengan Al-Qur’an harus semakin ditingkatkan .
Menurutnya, iman tidak berhenti pada keyakinan dan ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kepedulian sosial adalah bukti konkret dari iman yang hidup. Ia mengutip hadis Nabi bahwa tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri .
Beliau juga mengingatkan hadis bahwa siapa yang meringankan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan meringankan kesulitannya di akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa menolong sesama merupakan investasi akhirat .
Dalam Surah Al-Ma’un ditegaskan bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak peduli terhadap orang miskin. Ayat ini menegaskan bahwa kesalehan sejati tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga sosial .
Islam telah menyediakan berbagai instrumen sosial seperti zakat produktif, wakaf tunai, sedekah, serta penguatan lembaga ekonomi umat seperti BMT dan koperasi syariah. Kepedulian sosial, menurut beliau, harus bergerak dari sekadar charity menuju pemberdayaan berkelanjutan .
Beliau menambahkan bahwa di era modern, tantangan kepedulian sosial muncul dalam bentuk individualisme, gaya hidup konsumtif, dan berkurangnya empati akibat ketergantungan digital. Oleh karena itu, Ramadan harus menjadi momentum mengembalikan kepekaan hati dan solidaritas sosial .
Kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui pembagian takjil, santunan anak yatim, infak subuh, sedekah harian, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Semua itu merupakan implementasi iman dalam tindakan nyata .
Di akhir kegiatan, Ketua PW Muslimat NU Jawa Barat, Dr. Hj. R. Ella M. Giri Komala, M.M.Pd., memberikan penguatan dan refleksi atas materi yang telah disampaikan .
Beliau menegaskan bahwa kepedulian sosial harus menjadi karakter utama Muslimat NU, bukan hanya saat Ramadan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi akan kuat apabila anggotanya memiliki kepekaan sosial dan semangat berbagi yang tinggi.
“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi bagaimana kita membersihkan hati, memperkuat iman, dan menumbuhkan empati. Kepedulian sosial adalah wujud nyata kesempurnaan iman,” ujarnya.
Safari Dakwah Ramadan 1447 H akan berlangsung hingga 5 Maret 2026 (11–15 Ramadan 1447 H) dengan menghadirkan sejumlah pemateri utama yang mengangkat tema-tema aktual dan relevan. Di antaranya Prof. Dr. dr. Yoni Fuadah Syukriani, M.Si., DFM dengan materi Masalah Malpraktik Kedokteran; Prof. Dr. Hj. Ummu Salamah, M.S. tentang Kepedulian Sosial sebagai Bentuk Kesempurnaan Iman; Dra. Hj. Euis Badriah Nur Asikin, M.M.Pd. yang memberikan sambutan dan penguatan organisasi; Dr. Hj. R. Ella M. Giri Komala, M.M.Pd. dengan tema Peran Ilmu Akidah dalam Kehidupan; Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd. mengenai I’jaz Ilmi dalam Al-Qur’an; serta Prof. Dr. Hj. Ulfiah, M.Si. yang membahas Psikologi Dakwah.
Selain sebagai forum penguatan spiritual dan intelektual, Safari Dakwah ini juga menjadi ajang absensi virtual bagi Muslimat NU se-Jawa Barat. Kabupaten/kota dengan tingkat kehadiran terbaik akan mendapatkan apresiasi khusus pada penutupan acara sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi aktif dan komitmen dalam dakwah.
Kegiatan ini dapat disaksikan secara langsung maupun melalui tayangan ulang di kanal YouTube HIDMAT Muslimat NU Jawa Barat, sehingga jangkauan manfaatnya semakin luas dan berkelanjutan.
Semoga seluruh rangkaian Safari Dakwah Ramadan 1447 H ini membawa keberkahan, memperkuat ukhuwah, serta semakin mengokohkan peran Muslimat NU dalam membangun masyarakat yang beriman, peduli, dan berakhlakul karimah. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)
