Pengajian Ramadan Kitab Riyadus Sholihin Al-Muhajirin Pusat: Air Mata Rahmat Rasulullah dan Hikmah Sabar Menghadapi Musibah

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN– Majelis pengajian Ramadan kitab Riyadus Sholihin di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat kembali berlangsung dengan suasana khusyuk dan penuh perenungan. Dalam lanjutan kajian Bab Sabar, KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA menguraikan hadis-hadis Rasulullah SAW yang menggambarkan keteladanan beliau dalam menghadapi musibah, makna air mata sebagai rahmat, serta prinsip-prinsip dasar kesabaran yang menenangkan hati seorang mukmin.

Sejak awal kajian, beliau menegaskan bahwa sabar bukanlah sikap kaku yang menolak rasa sedih. Justru dalam banyak peristiwa kehidupan Rasulullah SAW tampak bahwa kesedihan dan air mata adalah bagian dari kemanusiaan yang diliputi kasih sayang.

Ujian Berat Rasulullah sebagai Energi Kesabaran

KH Marpu memulai dengan hadis yang menggambarkan kondisi Rasulullah SAW menjelang wafat. Saat itu beliau mengalami sakit yang sangat berat hingga napasnya terengah-engah. Para sahabat yang melihat keadaan itu merasa sangat prihatin.

Ketika mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sakit ini sangat berat bagi Anda,” beliau menjawab bahwa para nabi memang diuji dengan ujian yang lebih berat daripada manusia lainnya.

Menurut KH Marpu, hadis ini menjadi sumber kekuatan bagi seorang mukmin ketika menghadapi musibah.

“Kalau Rasulullah yang paling mulia saja diuji demikian berat, maka ujian kita sebenarnya hanya pembersih dosa. Bahkan tertusuk duri saja bisa menggugurkan dosa seorang mukmin,” jelas beliau.

Baca Juga:  Pengajian Ramadan Al-Muhajirin Pusat Kitab Riyadus Sholihin: Tobat Nasuha, Tobat Sepanjang Hayat, dan Karunia Allah yang Luar Biasa

Dengan cara pandang seperti ini, musibah tidak lagi dilihat sebagai hukuman, melainkan sebagai proses penyucian diri di hadapan Allah.

Air Mata Rasulullah: Rahmat yang Mengalir

Dalam hadis lain yang dibahas, Rasulullah SAW mendatangi cucu beliau yang sedang dalam keadaan sakaratul maut. Bayi tersebut dipangku oleh Rasulullah, lalu mengembuskan napas terakhir di pangkuan beliau.

Saat itu, kedua mata Rasulullah SAW dipenuhi air mata.

Melihat hal tersebut, salah seorang sahabat bertanya dengan heran, karena dalam budaya Arab saat itu tangisan laki-laki sering dianggap sebagai kelemahan.

Rasulullah SAW menjawab dengan kalimat yang sangat dalam:

“Ini adalah rahmat.”

Beliau kemudian menjelaskan bahwa Allah menanamkan kasih sayang di dalam hati hamba-hamba-Nya, dan Allah hanya akan menyayangi orang-orang yang memiliki kasih sayang.

KH Marpu menekankan bahwa tangisan Rasulullah tidak bertentangan dengan kesabaran.

“Air mata Rasul tidak merusak sabar. Justru itu bukti kasih sayang. Sabar bukan berarti hati kita mati rasa. Sabar adalah menerima takdir Allah dengan ikhlas, meskipun hati terasa terluka,” jelasnya.

Prinsip Emas Sabar: Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un

Dalam kesempatan tersebut, KH Marpu juga mengulas prinsip dasar kesabaran yang diajarkan Rasulullah kepada putrinya ketika menghadapi kematian anaknya.

Baca Juga:  Program Makan Bergizi Gratis Perdana di SMA MA Al-Muhajirin Purwakarta Berjalan Sukses, Santri: Terima Kasih Bapak Presiden!

Rasulullah mengajarkan kalimat yang menjadi fondasi kesabaran seorang mukmin:

“Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik Allah pula apa yang Dia berikan. Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki batas waktu. Maka bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah.”

Dari hadis ini, beliau menjelaskan empat prinsip besar kesabaran:

  • Segala sesuatu adalah milik Allah.
  • Apa yang diambil kembali oleh Allah harus diterima dengan kerelaan.
  • Apa yang diberikan juga hanya sementara karena setiap makhluk memiliki ajal.
  • Seorang mukmin diperintahkan untuk bersabar dan mengharap pahala dari Allah.

“Tanamkan keyakinan ini sejak awal: semua yang kita miliki tidak abadi. Kalau kita siap kehilangan, hati akan lebih kuat menghadapi takdir,” tutur beliau.

Kisah Perempuan Penghuni Surga

Kajian kemudian dilanjutkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas tentang seorang perempuan yang sering mengalami penyakit hingga pingsan dan auratnya terbuka.

Perempuan tersebut datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta didoakan agar sembuh.

Rasulullah memberikan pilihan: jika ia bersabar dengan penyakitnya, maka baginya surga; jika ia ingin sembuh, Rasulullah akan mendoakannya.

Perempuan itu memilih bersabar demi memperoleh surga, namun meminta agar ketika penyakitnya kambuh auratnya tidak terbuka. Rasulullah kemudian mendoakannya.

Baca Juga:  Pengajian Ramadan Kitab Riyadus Sholihin: Bab Sabar – Pahala Tanpa Hisab dan Hikmah Ujian Kecil dari Allah

KH Marpu menyampaikan doa khusus kepada para jamaah yang hadir.

“Mudah-mudahan ibu-ibu yang hadir di majelis ini termasuk ahlil jannah,” ujarnya, disambut dengan ucapan amin dari jamaah.

Memahami Takdir dengan Hati Lapang

Di bagian akhir kajian, beliau mengingatkan bahwa takdir Allah mencakup seluruh perjalanan hidup manusia: yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.

Karena itu, sikap terbaik seorang mukmin adalah menerima fakta kehidupan, mencari hikmah di balik setiap peristiwa, dan menjalani hidup dengan hati yang lapang.

“Terima takdir, cari hikmah, dan nikmati prosesnya. Itulah tanda iman yang kuat,” pesan beliau.

Pengajian kemudian ditutup dengan doa hari ke-15 yang dinisbatkan kepada Abu Hazim, berisi permohonan ampunan, kesehatan, penerimaan tobat, serta ridha Allah. Doa juga dipanjatkan bagi jamaah yang sedang menunaikan ibadah umrah agar diberi kemudahan dan memperoleh kemabruran, serta bagi mereka yang sedang sakit agar segera diberikan kesembuhan.

Majelis diakhiri dengan doa bersama dan pembacaan Al-Fatihah, dalam suasana haru dan penuh harapan.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kesabaran seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, menjadikan setiap musibah sebagai penghapus dosa, dan mengumpulkan kita kelak bersama para penghuni surga. Amin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *