
AL-MUHAJIRIN — Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, kembali menyampaikan tausiyah dalam Pengajian Ahad Pagi yang digelar di Masjid Al-Madinah, Kampus 2 Al-Muhajirin Sukamulya, Ahad (19/4/2026).
Dalam tausiyahnya, Syaikhuna menyoroti fenomena manusia modern yang mudah merasa tenang hanya karena memiliki penghasilan tetap, namun lupa pada jaminan rezeki dari Allah SWT.
Menurutnya, ketenangan seperti itu adalah keliru jika tidak dibarengi dengan keyakinan kepada Allah SWT.
“Ulah ngarasa tenang ku dunya, tapi kudu tenang ku Allah SWT,” ujarnya.
Jaminan Allah Lebih Besar dari Penghasilan
Syaikhuna mengingatkan bahwa jaminan Allah terhadap manusia jauh lebih besar dibandingkan angka berapa pun yang diterima setiap bulan.
Beliau mencontohkan bahwa uang yang dianggap cukup bisa habis dalam sekejap ketika datang musibah.
“Lamun aya musibah, sakali na wae ka rumah sakit, tiasa lima juta seep, malah tiasa langkung. Teras naon hartina lamun urang ngan saukur ngandelkeun artos?”
Karena itu, beliau menegaskan pentingnya membangun ketenangan hati yang bersumber dari keimanan, bukan semata dari materi.
Pesan ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Alā biżikrillāhi taṭma’innul qulūb“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Tiga Amalan Pembuka Rezeki
Dalam pengajian tersebut, Syaikhuna juga menjelaskan tiga amalan utama yang dapat mendatangkan rezeki.
1. Silaturahmi
Menurutnya, menjaga hubungan silaturahmi menjadi salah satu sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur.
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Man ahabba an yubsata lahu fi rizqihi wa yunsa’a lahu fi atsarihi falyasil rahimahu“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Lamun silaturahmi, insyaallah umur panjang, rezeki na cekap,” ujarnya.
2. Takwa
Amalan kedua adalah takwa kepada Allah. Syaikhuna menekankan bahwa ketakwaan merupakan kunci utama datangnya rezeki yang tidak disangka-sangka.
Beliau mengutip firman Allah:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Wa man yattaqillaha yaj‘al lahu makhrajan, wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
“Takwa ka Allah kudu yakin dijamin rezeki bahkan harta tanpa bilangan harta tanpa batasan,” ujarnya.
3. Menikah
Yang ketiga, menurut Syaikhuna, adalah menikah. Beliau menegaskan bahwa seseorang tidak perlu takut miskin karena menikah.
“Lamun hariwang teu boga duit, sing yakin Allah bakal mere rezeki ka nu nikah,” katanya.
Hal ini sejalan dengan janji Allah:
إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
In yakunu fuqara’a yughnihimullahu min fadlih“Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”
(QS. An-Nur: 32)
Beliau bahkan menyebutkan realitas yang sering terjadi di masyarakat, di mana sebelum menikah seseorang tidak memiliki apa-apa, namun setelah menikah justru perlahan diberi kecukupan.
Ukuran Keberhasilan Bukan Harta
Lebih jauh, Syaikhuna mengingatkan bahwa keberhasilan hidup tidak diukur dari banyaknya harta atau jabatan, melainkan dari kualitas iman dan keluarga.
Menurutnya, keluarga yang berhasil adalah yang mampu melahirkan anak-anak saleh, taat beribadah, dan berakhlak baik.
“Lamun anak jadi saleh, taat ibadah, eta tandana berhasil,” ujarnya.
Sebaliknya, beliau mengingatkan bahwa harta yang melimpah tidak menjamin kebahagiaan jika tidak diiringi dengan keimanan.
Sikap Seorang Mukmin: Syukur dan Sabar
Dalam menghadapi kehidupan, Syaikhuna menekankan dua sikap utama seorang mukmin, yaitu bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika mendapat ujian.
“Lamun meunang nikmat kudu syukur, lamun meunang musibah kudu sabar,” katanya.
Syaikhuna juga mengingatkan bahwa kesedihan adalah hal manusiawi, sebagaimana dicontohkan oleh para nabi.
Beliau mengisahkan bagaimana Nabi Ya’qub yang bersedih karena kehilangan Nabi Yusuf.
Namun demikian, seorang mukmin tetap harus berprasangka baik kepada Allah.
Syaikhuna kemudian mengisahkan betapa Nabi Ya’qub sangat menyayangi putranya, Nabi Yusuf.
Dalam perjalanan hidupnya, Nabi Yusuf sempat berpisah lama dari sang ayah setelah dibuang oleh saudara-saudaranya. Perpisahan itu menjadi ujian berat bagi Nabi Ya’qub, hingga ia bersedih mendalam dan penglihatannya menjadi kabur karena terlalu sering menangis.
Namun di balik ujian tersebut, Allah menyimpan rencana yang indah. Setelah melalui perjalanan panjang penuh cobaan, keduanya akhirnya dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih mulia.
Tanda Iman dalam Kehidupan
Di akhir tausiyah, Syaikhuna menyampaikan indikator sederhana keimanan seseorang.
“Tanda iman aya dua: bahagia nalika taat, sedih nalika maksiat,” ujarnya.
Jika seseorang tidak merasa bahagia dalam ibadah atau tidak merasa bersalah saat berbuat dosa, maka itu menjadi tanda lemahnya iman.
Beliau pun menutup dengan pesan istiqamah:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
Innal ladzina qalu rabbunallahu tsumma istaqamu tatanazzalu ‘alaihimul malaikatu alla takhafu wa la tahzanu“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): jangan takut dan jangan bersedih.”
(QS. Fussilat: 30)
Pengajian Ahad Pagi di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muhajirin terus menjadi majelis ilmu yang dinantikan masyarakat. Tausiyah yang disampaikan tidak hanya mendalam, tetapi juga dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mudah dipahami dan diamalkan oleh jamaah. (*)
