KH Marpu Muhiddin Ilyas: Pendidikan Islam Harus Mengantarkan Manusia Menuju Kebahagiaan Abadi

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA

ALMUHAJIRIN – Kebahagiaan dalam pandangan Al-Qur’an tidak berhenti pada kesenangan yang dirasakan manusia selama hidup di dunia. Kebahagiaan sejati adalah saat seseorang memperoleh keridaan Allah SWT dan ditempatkan di dalam surga-Nya.

Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, dalam Pengajian Rutin Hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat, Purwakarta.

Dalam pengajian tersebut, KH Marpu melanjutkan kajian Tafsir Juz ‘Amma Kontemporer Al-Hayat Ath-Thayyibah Ma‘al Qur’an. Kitab yang disusun Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i tersebut merupakan tafsir kontemporer Juz 30 yang berpijak pada Tafsir Jalalain.

Kajian kali ini membahas ayat-ayat penutup Surah An-Naba, khususnya gambaran tentang kebahagiaan yang disediakan Allah bagi orang-orang bertakwa. Ayat-ayat itu menjelaskan adanya kemenangan, taman-taman, buah anggur, pasangan yang sebaya, minuman yang penuh, serta kehidupan yang terbebas dari perkataan sia-sia dan dusta.

Menurut KH Marpu, gambaran tersebut tidak cukup dibaca secara harfiah. Setiap ayat harus ditempatkan dalam kerangka keimanan agar pesan rohaninya dapat dipahami secara benar.

Membaca Al-Qur’an dengan Kacamata Iman

KH Marpu menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang kenikmatan surga dapat disalahpahami apabila dibaca hanya dengan dorongan hawa nafsu. Cara pandang seseorang sangat menentukan makna yang ia tangkap dari Al-Qur’an.

Orang yang membaca dengan keimanan akan melihat ayat tersebut sebagai kabar gembira dan janji Allah bagi hamba yang mampu menjaga dirinya selama hidup di dunia. Sebaliknya, orang yang tidak beriman dapat memandang gambaran kenikmatan surga secara rendah dan terlepas dari tujuan ayat.

“Yang menentukan adalah keimanan. Kalau dibaca dengan hawa nafsu, pemahamannya akan berbeda dengan orang yang membacanya menggunakan iman,” terang KH Marpu.

Ia mengingatkan bahwa kekeliruan cara pandang pernah terjadi ketika sebagian orientalis membaca kisah Nabi Yusuf AS. Kisah yang penuh pelajaran tentang kesucian, kesabaran, dan kemampuan menahan diri justru dinilai dengan sudut pandang yang tidak sejalan dengan tujuan Al-Qur’an.

Hal serupa dapat terjadi ketika membaca gambaran mengenai pasangan, minuman, dan berbagai kesenangan di surga. Ayat tersebut harus dipahami sebagai penjelasan bahwa segala kenikmatan dunia yang ditinggalkan seorang mukmin karena ketakwaannya akan diganti Allah dengan sesuatu yang lebih baik, lebih suci, dan tidak menimbulkan kerugian.

“Kenikmatan dunia yang tidak diambil oleh seorang mukmin karena keimanannya akan Allah berikan di akhirat. Di dunia, ketakwaannya menahan dia. Di akhirat, Allah menggantinya dengan kenikmatan yang tidak lagi membawa akibat buruk,” jelasnya.

Seseorang mungkin mempunyai keinginan, sebab nafsu merupakan bagian dari dirinya sebagai manusia. Namun, keimanan membuatnya mampu berhenti ketika keinginan tersebut bertentangan dengan ketentuan Allah.

Kemampuan menahan diri itulah yang kemudian memperoleh balasan. Di surga, segala kenikmatan hadir dalam bentuk yang sempurna, suci, dan terbebas dari dosa maupun mudarat.

Kebahagiaan yang Disediakan bagi Orang Bertakwa

KH Marpu kemudian menguraikan firman Allah SWT dalam Surah An-Naba ayat 31:

“Inna lil-muttaqina mafaza.”

“Sesungguhnya bagi orang-orang bertakwa terdapat kemenangan.”

Kata mafaza mengandung makna tempat memperoleh kemenangan, keselamatan, kebahagiaan, dan keberuntungan. Allah menyiapkan semua itu bagi orang-orang yang menjalani kehidupan dunia dengan ketakwaan.

Menurut KH Marpu, orang bertakwa memiliki rasa takut dan segan kepada Allah. Ia membedakan antara khauf dan khasyiah. Khauf merupakan rasa takut, sedangkan khasyiah merupakan rasa takut yang disertai pengetahuan, penghormatan, dan rasa segan.

Orang yang hanya takut dapat memilih menjauh. Namun, orang yang memiliki khasyiah akan tetap mendekat kepada Allah dengan penuh penghormatan.

Ia mencontohkan seseorang yang terlambat datang ke pengajian. Karena takut dimarahi, ia dapat memilih pulang dan tidak jadi mengaji. Namun, apabila memiliki rasa segan, ia akan tetap datang, duduk di belakang dengan penuh adab, dan mengikuti pengajian hingga selesai.

Baca Juga:  Rois Syuriah PWNU Jabar, Dr. KH. Abun Bunyamin, MA Sambut Hangat Kunjungan Silaturahmi Kapolda Irjen Pol. Rudi Setiawan

“Orang yang mempunyai khasyiah tetap datang. Ada rasa takut dan malu, tetapi rasa itu tidak membuatnya menjauh. Justru ia tetap mendekat kepada Allah dengan menjaga adab,” terangnya.

Ketakwaan itu dibangun di atas keimanan kepada Allah, para rasul, kitab suci, dan kehidupan akhirat. Keimanan kemudian diwujudkan dalam ketaatan selama hidup di dunia. Bagi orang seperti itulah Allah menyiapkan negeri kemenangan, kedamaian, keberhasilan, dan kebahagiaan abadi.

Tujuan Tertinggi Pendidikan Islam

Dalam konteks pendidikan, KH Marpu menegaskan bahwa tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mengantarkan manusia menuju sa‘adah abadiyyah atau kebahagiaan abadi.

Pendidikan tidak cukup apabila hanya membuat seseorang berhasil meraih kedudukan, kekayaan, popularitas, atau kesenangan yang bersifat sementara. Ilmu harus menuntun manusia menjadi hamba yang mengenal Allah, bertakwa, berakhlak, dan selamat dalam kehidupan akhirat.

“Itulah tujuan tertinggi pendidikan Islam, membawa manusia kepada sa‘adah abadiyyah,” tegasnya.

Kebahagiaan dunia bersifat sementara dan relatif. Seseorang dapat merasa bahagia hari ini, kemudian menghadapi kesulitan pada hari berikutnya. Kekayaan pun memiliki batas. Bahkan orang yang dianggap paling kaya di dunia tetap mempunyai jumlah harta yang dapat dihitung.

Berbeda dengan kebahagiaan rohani yang lahir dari ketakwaan. Kedekatan kepada Allah tidak mempunyai batas akhir. Di atas suatu tingkat ketakwaan masih terdapat tingkat berikutnya yang dapat terus ditempuh seorang hamba.

KH Marpu menyebut tingkatan tersebut sebagai “darajatun fauqa darajat”, tingkatan-tingkatan yang terus naik. Karena itu, perjalanan rohani tidak mengenal titik selesai selama manusia masih hidup.

Semakin bertambah ilmu, seseorang seharusnya semakin menyadari luasnya pengetahuan Allah. Semakin meningkat ibadah, ia semakin menyadari banyaknya kekurangan diri. Kesadaran itulah yang menjaga manusia dari kesombongan.

Gambaran Surga sebagai Pendekatan bagi Akal Manusia

Al-Qur’an menggambarkan surga dengan bahasa yang dapat didekati oleh pemahaman manusia: taman, sungai, buah-buahan, minuman, tempat tinggal, dan berbagai kesenangan.

Namun, KH Marpu menegaskan bahwa gambaran tersebut bukan pembatasan terhadap hakikat kenikmatan surga. Bahasa Al-Qur’an memberikan pendekatan agar akal manusia mampu memperoleh gambaran awal mengenai sesuatu yang hakikatnya belum pernah dilihat, didengar, maupun dibayangkan.

“Berita-berita Al-Qur’an tentang surga merupakan pendekatan pemahaman agar mudah divisualkan oleh akal. Itu tidak berarti kenikmatan surga hanya sebatas yang disebutkan,” jelasnya.

Kenikmatan surga tidak dapat diukur dengan pengalaman dunia. Apa yang disebutkan Al-Qur’an merupakan petunjuk menuju kenyataan yang jauh lebih agung.

Allah merahasiakan berbagai kejutan bagi orang-orang bertakwa. Tidak seorang pun mengetahui seluruh kebahagiaan yang telah dipersiapkan untuk mereka.

Menurut KH Marpu, cara Allah membahagiakan hamba bertakwa dapat digambarkan sebagai kejutan yang datang tanpa batas. Ketika seseorang menyangka telah memperoleh kenikmatan tertinggi, Allah kembali memberikan sesuatu yang lebih besar dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

“Jangan membatasi pemberian Allah. Sifat Allah tidak dapat dibatasi oleh siapa pun. Kebahagiaan akhirat bagi orang bertakwa merupakan kebahagiaan abadi dari Allah yang mustahil dihitung dan dibatasi,” tuturnya.

Taman yang Mengelilingi Penghuninya

Surah An-Naba menyebut hada’iqa wa a‘naba, taman-taman dan buah anggur. KH Marpu menjelaskan bahwa penggunaan kata hada’iq memberikan gambaran taman yang mengelilingi penghuninya.

Kenikmatan itu tidak berada di satu sisi saja. Ke mana pun penghuni surga memandang—ke depan, belakang, kiri, maupun kanan—ia akan menyaksikan keindahan.

Buah anggur disebutkan sebagai salah satu gambaran kenikmatan. Namun, penyebutan anggur tidak berarti buah di surga hanya terbatas pada jenis tersebut. Al-Qur’an menyebutnya sebagai contoh sekaligus isyarat terhadap buah-buahan yang berkualitas istimewa.

Bentuk pohon anggur yang merambat juga berkaitan dengan gambaran taman yang rimbun dan mengelilingi. Dari sana terlihat bahwa pemilihan kata dalam Al-Qur’an memiliki hubungan yang sangat teliti antara satu ayat dengan ayat lainnya.

Baca Juga:  Ketua PBNU KH Masyhuri Malik Hadiri Upacara Hari Santri Nasional 2024 di Ponpes Al-Muhajirin 3

KH Marpu juga menerangkan fungsi bentuk nakirah atau kata tidak tertentu dalam bahasa Arab. Kata mafaza dan a‘naba yang hadir dalam bentuk nakirah memberikan makna keluasan, keagungan, dan sesuatu yang tidak dibatasi.

Dengan demikian, anggur yang disebut dalam ayat tidak dapat disamakan dengan anggur yang dikenal manusia di dunia. Nama boleh sama, tetapi kualitas, rasa, keindahan, dan kenikmatannya berada dalam tingkatan yang sama sekali berbeda.

Kenikmatan Tanpa Dampak Buruk

Ayat berikutnya menggambarkan adanya minuman yang dituangkan dalam gelas-gelas penuh. KH Marpu menjelaskan bahwa minuman surga tidak dapat disamakan dengan minuman memabukkan di dunia.

Di dunia, minuman keras merusak akal, kesehatan, perilaku, keluarga, dan kehidupan sosial. Sementara minuman di surga tidak menimbulkan mabuk, pertengkaran, perkataan kotor, maupun perbuatan dosa.

Gambaran tersebut kembali menunjukkan bahwa kenikmatan yang ditinggalkan seorang mukmin karena ketaatan akan digantikan dalam bentuk yang suci dan sempurna.

Di surga, minuman dihidangkan terus-menerus dalam keadaan bersih. Tidak ada rasa jenuh, gangguan kesehatan, kehilangan kesadaran, ataupun akibat merugikan lainnya.

Kenikmatan itu juga tidak berhenti pada sesuatu yang diminum. Menurut penjelasan tafsir yang dikaji, kebahagiaan tertinggi terletak pada kesadaran bahwa seluruh hidangan tersebut merupakan pemberian Allah.

Manusia tidak hanya menikmati pemberian, tetapi juga merasakan kedekatan dengan Zat Yang Memberikan. Pada tingkat itulah, kenikmatan surga berubah menjadi pengalaman rohani yang jauh melampaui kenikmatan fisik.

Surga Tanpa Perkataan Sia-sia

Allah SWT kemudian berfirman:

“La yasma‘una fīha laghwan wa la kidzdzaba.”

“Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan sia-sia dan tidak pula perkataan dusta.”

KH Marpu menjelaskan bahwa salah satu bentuk kenikmatan surga adalah terbebasnya manusia dari kata-kata yang mengganggu hati. Tidak ada kebohongan, tuduhan, penghinaan, pertengkaran, ucapan kotor, maupun perkataan tanpa manfaat.

Semua yang didengar penghuni surga merupakan ucapan yang benar, menyenangkan, dan mendatangkan ketenteraman. Tidak ada polusi suara yang merusak suasana kebahagiaan.

“Di surga tidak ada suara yang mengganggu kegembiraan. Semuanya menjadi suara kebahagiaan. Tidak ada perkataan batil, kebohongan, dosa, ataupun kekurangan,” ujarnya.

Penjelasan tersebut mengandung pelajaran bagi kehidupan dunia. Apabila manusia ingin menjadi ahli surga, ia harus mulai melatih lisannya sejak sekarang: meninggalkan perkataan sia-sia, tidak berdusta, tidak menuduh orang lain tanpa dasar, serta tidak menggunakan ucapan untuk menyakiti sesama.

Hal itu sejalan dengan prinsip al-jaza’u min jinsil ‘amal, bahwa balasan diberikan sesuai dengan jenis amal yang dilakukan. Mereka yang menjaga dirinya dari perkataan sia-sia dan dusta selama hidup di dunia akan ditempatkan Allah di sebuah negeri yang sama sekali terbebas dari keduanya.

Kenikmatan yang Mencakup Seluruh Diri

KH Marpu menerangkan bahwa kenikmatan penghuni surga bersifat sempurna dan menyeluruh. Setiap bagian dari diri manusia memperoleh kebahagiaan.

Perut menikmati makanan dan minuman. Mata menyaksikan pemandangan yang indah. Telinga mendengar ucapan yang menenteramkan. Indra penciuman menikmati aroma yang harum. Setiap pertemuan membawa kegembiraan dan setiap tarikan napas dipenuhi kenikmatan.

Tidak ada satu pun indra yang mengalami gangguan. Tidak ada pemandangan yang menakutkan, suara yang menyakitkan, aroma yang mengganggu, makanan yang membahayakan, maupun perjumpaan yang menimbulkan kesedihan.

Karena itu, kenikmatan akhirat tidak boleh dibayangkan sepenuhnya menggunakan ukuran dunia. Manusia cukup mengimani kabar Allah, sedangkan hakikatnya kelak akan disaksikan secara langsung.

Pertemuan dengan Allah sebagai Kenikmatan Tertinggi

Di atas seluruh gambaran fisik tentang surga, terdapat kenikmatan paling agung, yaitu memperoleh kedekatan, mendengar kalam, dan bertemu dengan Allah SWT.

Baca Juga:  Mukena Cantik dan Sholat Dhuha Berjama'ah di TK dan SD Plus Al Muhajirin 6

KH Marpu menegaskan bahwa perjumpaan dengan Allah harus menjadi cita-cita tertinggi seorang mukmin. Seluruh nikmat surga memperoleh kesempurnaannya karena datang dari Allah dan mengantarkan manusia semakin dekat kepada-Nya.

“Bertemu Allah di surga harus menjadi cita-cita kita. Itulah nikmat terbesar dan pemberian paling agung,” tuturnya.

Pada titik tersebut, manusia menyadari keterbatasannya dalam mengenal dan memuji Allah. Setinggi apa pun ilmu, ibadah, zikir, dan makrifat seseorang, semua itu belum mampu mencapai kemuliaan Allah sebagaimana mestinya.

Puncak pengenalan kepada Allah justru melahirkan pengakuan bahwa manusia tidak mampu mengenal-Nya secara sempurna. Kesadaran ini tidak membuat seorang hamba berhenti beribadah, tetapi menjadikannya semakin rendah hati dan bersungguh-sungguh mendekat kepada-Nya.

Balasan yang Melampaui Amal

Ayat selanjutnya menyebut seluruh kenikmatan itu sebagai jaza’an min rabbika ‘atha’an hisaba, balasan dari Tuhan berupa pemberian yang banyak dan mencukupi.

KH Marpu menyoroti penggunaan kata ‘atha’an, yang berarti pemberian atau anugerah. Kata tersebut mengandung pesan bahwa surga tidak diperoleh semata-mata karena jasa manusia.

Amal merupakan jalan ketaatan, tetapi pemberian Allah jauh lebih besar daripada nilai amal yang dilakukan seorang hamba.

“Jangan sombong. Semua itu adalah ‘atha’, pemberian Allah. Memang banyak, istimewa, dan melimpah, tetapi bukan semata-mata jasa kita,” tegasnya.

Ia menjelaskan perbedaan antara balasan bagi orang yang ingkar dan pemberian bagi orang bertakwa. Ketika membicarakan azab, Al-Qur’an menggunakan ungkapan jaza’an wifaqa, yaitu balasan yang setimpal. Allah tidak menghukum seseorang melebihi kesalahan yang dilakukannya.

Namun, ketika menjelaskan kenikmatan bagi orang bertakwa, Al-Qur’an menggunakan kata ‘atha’an. Pemberian Allah kepada ahli surga dapat melampaui amal mereka karena bersumber dari kasih sayang dan kemurahan-Nya.

“Azab tidak akan melebihi kesalahan, tetapi pemberian kepada ahli surga dapat jauh melampaui amalnya. Sebab, ‘atha’ bukan sekadar upah. Itu pemberian Allah yang lahir dari kasih sayang-Nya,” jelas KH Marpu.

Perbedaan pilihan kata tersebut memperlihatkan kesempurnaan keadilan sekaligus keluasan rahmat Allah. Dalam menghukum, Allah berlaku adil dan tidak pernah berlebihan. Dalam memberi, Allah melimpahkan karunia tanpa batas.

Menjadi Guru yang Mengantarkan pada Keselamatan

Kajian tersebut mempunyai arti penting bagi para guru Al-Muhajirin. Seorang pendidik memikul amanah yang lebih luas daripada menyampaikan pelajaran di ruang kelas. Guru bertugas mengarahkan peserta didik agar memahami tujuan hidup dan mengenal jalan menuju kebahagiaan abadi.

Ilmu yang diajarkan harus menumbuhkan iman, adab, ketakwaan, kemampuan mengendalikan diri, serta kesadaran bahwa seluruh pencapaian merupakan karunia Allah.

Pendidikan yang hanya mengejar keberhasilan dunia akan menghasilkan kebahagiaan yang sementara. Pendidikan Islam harus membentuk manusia yang mampu menjalani kehidupan dunia dengan baik sekaligus mempersiapkan kehidupan akhirat.

Melalui Tafsir Juz ‘Amma Kontemporer Al-Hayat Ath-Thayyibah Ma‘al Qur’an, para guru diajak memahami ayat Al-Qur’an secara kontekstual dan aplikatif. Ayat tentang surga tidak berhenti menjadi gambaran kehidupan setelah kematian, tetapi menjadi dasar untuk membentuk cara berpikir, mengendalikan keinginan, menjaga ucapan, merendahkan hati, dan mengarahkan tujuan pendidikan.

Kajian tersebut menegaskan bahwa kehidupan yang baik bersama Al-Qur’an adalah kehidupan yang menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah. Ketakwaan mungkin menuntut seseorang meninggalkan sebagian kesenangan, menahan keinginan, dan menjaga diri dari sesuatu yang diharamkan. Namun, tidak ada pengorbanan karena Allah yang akan hilang tanpa balasan.

Apa yang ditinggalkan karena iman akan diganti dengan sesuatu yang lebih suci. Apa yang dilakukan dengan ikhlas akan dibalas dengan kemurahan. Pada akhirnya, seluruh perjalanan pendidikan dan kehidupan diarahkan menuju satu tujuan: memperoleh ‘atha’an hisaba, pemberian Allah yang melimpah, dan mencapai sa‘adah abadiyyah, kebahagiaan yang tidak pernah berakhir. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *