Syaikhuna KH Abun Bunyamin Bekali Mahasiswa KPU STAIM Purwakarta dengan Lima Tugas Kehidupan

Bagikan artikel ini:
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A.,

ALMUHAJIRIN — Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., memberikan tausiyah kepada mahasiswa Kuliah Pengabdian Umat (KPU) STAIM Purwakarta di Kecamatan Sukasari, Minggu, 9 Agustus 2026.

Dalam tausiyahnya, Syaikhuna menyampaikan lima tugas penting yang harus dijalankan manusia selama hidup di dunia, yaitu beribadah, berdakwah, belajar, bekerja, dan menjalin silaturahmi.

Pesan tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa selama melaksanakan pengabdian di tengah masyarakat. KPU tidak cukup diisi dengan rangkaian program, tetapi perlu menjadi ruang untuk mengamalkan ilmu, menumbuhkan kepedulian, serta menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Ibadah sebagai Landasan Kehidupan

Syaikhuna menjelaskan bahwa tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah Swt. Di antara seluruh bentuk ibadah, salat menjadi kewajiban paling pokok yang harus dijaga dan dilaksanakan dengan benar.

Mahasiswa KPU didorong ikut membimbing masyarakat agar mampu menunaikan salat sesuai tuntunan, meliputi ketepatan bacaan, gerakan, dan ketentuan syariat.

Masjid juga perlu diramaikan dengan salat berjamaah, pengajian, zikir, serta kegiatan keagamaan lainnya. Dengan demikian, keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat dapat turut menguatkan kehidupan spiritual dan sosial warga.

Berdakwah dengan Hikmah dan Kesabaran

Tugas berikutnya adalah berdakwah, mengajak masyarakat kepada kebaikan, serta menjalankan amar makruf nahi mungkar. Syaikhuna mengingatkan firman Allah Swt.:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.”

Menurut Syaikhuna, dakwah harus disampaikan dengan hikmah. Cara, bahasa, dan pendekatan yang digunakan perlu disesuaikan dengan situasi serta kondisi masyarakat. Nasihat disampaikan dengan perkataan yang baik, sedangkan perbedaan pandangan dihadapi melalui dialog yang santun.

Hal tersebut sejalan dengan firman Allah Swt.:

Baca Juga:  Wisuda Tahsin Hijroti dan Tahfidz Juz 2–20, Syaikhuna KH Abun Bunyamin Pesan Santri Jaga Al-Qur’an, Akhlak, dan Kemandirian

اُدْعُ إِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.”

Syaikhuna mencontohkan keteladanan Rasulullah Saw. yang tetap sabar meskipun mengalami penghinaan dan perlakuan buruk. Walaupun seseorang memiliki hak untuk membalas perlakuan yang diterimanya, kesabaran tetap menjadi pilihan yang lebih utama.

Karena itu, mahasiswa diminta tidak mudah lemah dan bersedih ketika menghadapi tantangan selama mengabdi. Penolakan, perbedaan karakter, dan keterbatasan di lapangan harus dihadapi dengan keteguhan hati serta cara yang bijaksana.

Belajar Sepanjang Kehidupan

Tugas ketiga adalah belajar. Syaikhuna menegaskan bahwa mencari ilmu tidak berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal. Belajar harus dilakukan sepanjang kehidupan.

Beliau mencontohkan dirinya yang hingga kini masih senang membaca dan menulis. Semangat tersebut menunjukkan bahwa usia dan kedudukan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti menambah pengetahuan.

Allah Swt. memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk terus memohon tambahan ilmu. Rasulullah Saw. juga mendorong umatnya menguasai berbagai keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan, termasuk berenang, memanah, dan berkuda.

Mahasiswa didorong menempuh pendidikan setinggi mungkin. Setelah menyelesaikan strata satu, mereka diharapkan tidak cepat merasa cukup, tetapi terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister dan doktor.

“Kalau ada S4, Bapak akan kuliah lagi,” tutur Syaikhuna untuk menggambarkan pentingnya semangat belajar sepanjang hayat.

Selain pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan pesantren juga harus mendapat perhatian. Ilmu pengetahuan memerlukan landasan agama, akhlak, kedisiplinan, dan pengalaman hidup agar dapat memberikan manfaat yang luas.

Syaikhuna juga mengingatkan mahasiswa agar memiliki cita-cita tinggi. Cita-cita diibaratkan sebagai sayap yang membuat burung mampu terbang. Tanpa cita-cita, seseorang akan kehilangan arah dan dorongan untuk berkembang.

Baca Juga:  Syaikhuna KH Abun Bunyamin: Jangan Tenang karena Dunia, Tapi Tenang karena Allah SWT

Beliau menuturkan bahwa sejak awal perjuangannya, dirinya memiliki cita-cita membangun pendidikan, melahirkan ulama, mencetak sarjana, dan menumbuhkan pengusaha yang mampu memberikan manfaat bagi umat.

Bekerja agar Mampu Memberi

Tugas keempat ialah bekerja. Syaikhuna meminta mahasiswa menggunakan kaki, tangan, pikiran, keterampilan, dan kesempatan yang dimiliki untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, termasuk memperoleh penghasilan secara halal.

Dengan bekerja, seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidup, membahagiakan keluarga, dan memberikan sesuatu kepada orang lain, terutama kepada orang tua.

Syaikhuna mengingatkan agar masyarakat tidak hanya melihat kemajuan Al-Muhajirin hari ini. Di balik perkembangan tersebut terdapat proses panjang yang ditempuh melalui kerja keras, perdagangan, usaha, dan berbagai ikhtiar.

“Kita maju bukan karena bantuan, tetapi karena bekerja,” pesannya.

Bekerja juga membentuk kemandirian agar seseorang mampu memberi dan tidak terus bergantung kepada orang lain. Tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang meminta.

Syaikhuna mengingatkan mahasiswa agar tidak memiliki “mental cicak” yang hanya diam menunggu mangsa datang. Seseorang harus aktif bergerak, membaca keadaan, dan menjemput peluang.

Beliau menggunakan gambaran “jiwa serigala” untuk menjelaskan keberanian dalam melihat dan memanfaatkan peluang. Pesan tersebut tidak dimaksudkan untuk membenarkan keserakahan, melainkan mendorong keberanian, ketangguhan, kejelian, dan kegigihan dalam berusaha.

Para nabi pun bekerja dan menjalani profesi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu, bekerja secara halal merupakan bagian dari kehormatan, tanggung jawab, dan keteladanan.

Silaturahmi Menjadi Jalan Keberhasilan

Tugas kelima adalah membangun silaturahmi. Menurut Syaikhuna, salah satu jalan yang mengantarkan perjuangan Al-Muhajirin hingga berkembang seperti sekarang adalah luasnya hubungan yang dibangun dengan berbagai lapisan masyarakat.

Sebelum mendirikan pesantren, Syaikhuna banyak bersilaturahmi kepada para ulama. Salah satu ulama yang paling sering dikunjungi adalah KH. A.F. Ghazali. Dari silaturahmi tersebut, ia memperoleh ilmu, nasihat, dukungan moral, dan arah perjuangan.

Baca Juga:  Ponpes Al-Muhajirin Purwakarta Mengucapkan Selamat Hari Lahir Pancasila 2026

Syaikhuna menyebut lima kelompok yang perlu dirangkul dalam membangun perjuangan. Pertama, ulama sebagai sumber ilmu, nasihat, dan bimbingan keagamaan. Kedua, umara atau unsur pemerintahan, mulai dari tingkat RT hingga pemerintah pusat.

Ketiga, aghniya atau orang-orang yang memiliki kelapangan rezeki. Kedekatan dengan mereka bukan semata-mata untuk meminta bantuan, melainkan menawarkan jalan dan sarana agar mereka dapat berbagi serta memberikan manfaat kepada masyarakat.

Keempat, ulul albab atau para cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu. Pemikiran dan keahlian mereka diperlukan untuk membantu memecahkan persoalan umat secara tepat dan terarah.

Kelima, masyarakat miskin dan orang-orang terdekat di lingkungan pesantren. Mereka harus dirangkul, dihormati, dan diperlakukan secara manusiawi. Syaikhuna mencontohkan caranya memperlakukan para karyawan sebagai teman seperjuangan.

“Yang ringan sama dijinjing, yang berat sama dipikul,” pesannya.

Hubungan yang dibangun atas dasar persaudaraan dan kebersamaan membuat para karyawan merasa dihargai serta betah bekerja. Kemajuan sebuah lembaga, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari kerja sama dan kesetiaan orang-orang yang berjuang di dalamnya.

Bekal Pengabdian di Tengah Masyarakat

Kelima tugas kehidupan tersebut menjadi pedoman bagi mahasiswa KPU STAIM Purwakarta selama berada di Kecamatan Sukasari. Mereka diharapkan mampu menjaga ibadah, menyampaikan dakwah dengan hikmah, terus belajar, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan membangun hubungan baik dengan seluruh lapisan masyarakat.

Pesan Syaikhuna juga memperkuat arah KPU STAIM Purwakarta 2026 yang mengusung pemberdayaan masyarakat berbasis riset melalui penguatan ekonomi syariah, pendidikan Islam, literasi digital, dan tata kelola desa.

Dengan bekal ilmu, akhlak, kerja keras, dan silaturahmi, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menyelesaikan kewajiban akademik. Kehadiran mereka harus mampu menumbuhkan kepercayaan, membuka peluang, serta meninggalkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Kecamatan Sukasari. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *