Kolaborasi STAIM Purwakarta–DPPKB, Mahasiswa Kuliah Pengabdian Umat Jadi Mitra Program Kependudukan

Bagikan artikel ini:
Kolaborasi STAIM Purwakarta–DPPKB

AL-MUHAJIRIN— Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Muhajirin (STAIM) Purwakarta membuka ruang kolaborasi dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Purwakarta untuk memperkuat edukasi dan pelaksanaan program kependudukan di tengah masyarakat.

Kolaborasi tersebut dibahas dalam kunjungan Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Advokasi DPPKB Kabupaten Purwakarta, Iqbal Tawakal, bersama Pejabat Fungsional Penata Kependudukan dan Keluarga Ahli Muda, Aas Asiah, ke STAIM Purwakarta, Senin, 10 Agustus 2026.

Pertemuan diarahkan untuk menyinergikan program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dengan kegiatan Kuliah Pengabdian Umat (KPU) mahasiswa STAIM Purwakarta di Kecamatan Sukasari.

Pelaksanaan KPU tersebut menjangkau empat desa, yakni Kutamanah, Kertamanah, Ciririp, dan Sukasari. Keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat dinilai dapat mendukung penyampaian edukasi sekaligus pelaksanaan program pembangunan keluarga secara lebih dekat dan kontekstual.

Dalam pertemuan tersebut, DPPKB memperkenalkan sejumlah program prioritas yang relevan untuk dikolaborasikan dengan perguruan tinggi, antara lain GENTING, SIDAYA, GATI, dan TAMASYA.

Perguruan Tinggi Berperan dalam Kolaborasi Pentahelix

Berbagai program kependudukan dan pembangunan keluarga membutuhkan keterlibatan banyak unsur melalui pendekatan pentahelix. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena menjalankan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kontribusi perguruan tinggi dapat diwujudkan melalui edukasi, pendampingan, serta penelitian yang berangkat dari persoalan kependudukan dan keluarga di lapangan. Hasil kajian akademik tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan untuk memperkuat kebijakan dan menyempurnakan pelaksanaan program.

Baca Juga:  Hj. Lia Yulindaria Raih Juara 1 Kepala Sekolah Inspiratif Tingkat Kabupaten Purwakarta 2025

Ketua STAIM Purwakarta, Deden Saepudin, menyambut baik peluang kolaborasi tersebut. Menurutnya, kerja sama dengan DPPKB sejalan dengan amanat Tridharma Perguruan Tinggi yang mengharuskan kampus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

“Perguruan tinggi memiliki tiga tugas utama, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, program-program kependudukan seperti ini sangat relevan untuk diimplementasikan bersama mahasiswa di tengah masyarakat,” ujar Deden Saepudin.

Ia menjelaskan, mahasiswa KPU dapat berperan sebagai agen edukasi yang membantu menyampaikan informasi mengenai program kependudukan dan pembangunan keluarga. Mahasiswa juga dapat memetakan persoalan yang ditemukan di desa untuk dikembangkan menjadi bahan penelitian maupun rekomendasi program.

GENTING Perkuat Pencegahan Stunting Berbasis Masyarakat

Salah satu program yang disosialisasikan adalah GENTING, yakni gerakan pencegahan stunting yang mengedepankan partisipasi dan kekuatan masyarakat. Pelaksanaannya didorong melalui semangat gotong royong dan swadaya, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pembiayaan APBN maupun APBD.

Angka stunting Jawa Barat yang disebut berada di bawah angka nasional menjadi modal penting untuk terus memperkuat gerakan pencegahan berbasis keluarga dan masyarakat.

Dalam program ini, mahasiswa STAIM diharapkan dapat membantu mengedukasi keluarga mengenai pemenuhan gizi, pola pengasuhan, kesehatan ibu dan anak, serta pentingnya mencegah stunting sejak dini.

SIDAYA dan Persiapan Menghadapi Bonus Demografi Kedua

Program SIDAYA diarahkan untuk mendukung terwujudnya bonus demografi kedua melalui peningkatan kualitas hidup dan keberdayaan kelompok lanjut usia.

Pelaksanaannya memberikan perhatian kepada dua kelompok lansia, yaitu lansia yang masih produktif dan lansia yang membutuhkan dukungan serta pendampingan dari caregiver.

Baca Juga:  Takhalli–Tahalli–Tajalli: Al-Muhajirin Purwakarta Sambut Ramadan 1447 Hijriah

Permasalahan lansia perlu dilihat secara menyeluruh. Selain berkaitan dengan kesehatan, persoalan tersebut mencakup kemandirian, keberdayaan, dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan kualitas hidup.

Melalui keterlibatan mahasiswa, kondisi dan kebutuhan kelompok lansia di desa dapat dipetakan secara langsung. Hasilnya dapat menjadi dasar untuk merancang kegiatan pendampingan yang sesuai dengan karakter masyarakat setempat.

GATI Dorong Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

Program GATI berkaitan dengan upaya memperkuat kehadiran dan peran ayah dalam kehidupan serta pengasuhan anak.

Dalam sosialisasi tersebut turut diluruskan informasi yang menyebut Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan tingkat fatherless tertinggi di dunia. Klaim tersebut dinilai tidak memiliki dasar data valid yang dapat dipertanggungjawabkan.

Meski demikian, pentingnya keterlibatan ayah dalam keluarga tetap menjadi perhatian. Kehadiran ayah dalam pengasuhan berperan dalam membangun ketahanan psikologis, karakter, dan perkembangan sosial anak.

Tokoh agama dan tokoh masyarakat dinilai memiliki posisi penting dalam menguatkan pesan mengenai tanggung jawab ayah. Mahasiswa STAIM juga dapat menyampaikan edukasi tersebut melalui pendekatan keagamaan dan sosial yang sesuai dengan kondisi masyarakat desa.

TAMASYA Dukung Pengasuhan Anak dan Perempuan Bekerja

Program TAMASYA diarahkan untuk memperkuat layanan pengasuhan anak sekaligus mendukung peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja.

Program ini mencakup pendampingan bagi pengasuh, anak, serta orang tua atau keluarga. Di dalamnya juga terdapat mekanisme rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Baca Juga:  Operasi Pekat Lodaya, Polres Subang Sisir Penjual Miras llegal

Untuk meningkatkan kompetensi pengasuh, tersedia pelatihan melalui Learning Management System (LMS) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). TAMASYA juga telah dilengkapi aplikasi berbasis Android yang dapat digunakan pada sejumlah tempat penitipan anak atau daycare tertentu.

Di Jawa Barat tercatat terdapat enam TAMASYA. Informasi mengenai program tersebut dapat diakses lebih lanjut melalui platform Orang Tua Hebat atau Kerabat.

Mahasiswa Menjadi Penghubung Program dan Kebutuhan Masyarakat

Deden Saepudin menegaskan bahwa kolaborasi STAIM Purwakarta dengan DPPKB harus diterjemahkan menjadi kegiatan nyata yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Mahasiswa yang melaksanakan KPU di empat desa di Kecamatan Sukasari memiliki kesempatan untuk menjadi penghubung antara pengetahuan akademik, program pemerintah, dan kebutuhan masyarakat.

“Mahasiswa datang ke desa untuk membaca persoalan masyarakat, memberikan edukasi, melakukan pendampingan, dan apabila diperlukan, mengembangkannya menjadi objek penelitian. Inilah bentuk nyata integrasi Tridharma Perguruan Tinggi,” tegasnya.

Kolaborasi STAIM Purwakarta dan DPPKB Kabupaten Purwakarta diharapkan menjadi langkah awal menuju kemitraan berkelanjutan dalam bidang pendidikan kependudukan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan keluarga.

Melalui kolaborasi tersebut, kehadiran mahasiswa STAIM di Kecamatan Sukasari diharapkan mampu memberikan kontribusi sosial yang nyata sekaligus membantu menerjemahkan program kependudukan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat desa. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *