Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Kamis, 20 Agustus 2026

Berita

KH Marpu: Memahami Keagungan Rasulullah SAW Meneguhkan Tauhid

Oleh Fajar Maritim20 Agustus 20266 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN – Memahami dan mengagungkan Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan tauhid. Selama kedudukan Allah sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya dipahami dengan benar, berbagai keistimewaan Rasulullah akan semakin menguatkan keimanan kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dalam pengajian rutin hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat, 19 Agustus 2026.

Dalam kajian spesial bulan Maulid itu, KH Marpu membahas salah satu bagian dari keagungan nubuwah Nabi Muhammad SAW, yakni pengetahuan beliau mengenai perkara-perkara gaib yang diperlihatkan dan diberitahukan oleh Allah SWT.

Menurut KH Marpu, pembahasan mengenai keistimewaan Rasulullah harus dimulai dari pemahaman yang utuh terhadap dua kalimat syahadat. Allah SWT tetap menjadi satu-satunya Tuhan, sedangkan Nabi Muhammad SAW tetap berada dalam kedudukan sebagai hamba dan rasul-Nya.

Beliau mengutip penjelasan Al-Qadhi Iyadh dalam kitab Asy-Syifa bahwa berbagai keistimewaan Rasulullah akan mudah dipahami oleh seseorang yang telah memahami makna syahadatain dengan benar.

“Kalau sudah memahami ‘Asyhadu alla ilaha illallah’ dan ‘wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah’, memahami apa pun keistimewaan Nabi menjadi mudah. Allah tetap sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad tetap sebagai rasul,” jelasnya.

Tauhid Menjadi Dasar Memahami Keistimewaan Nabi

KH Marpu menegaskan bahwa pengetahuan Rasulullah SAW mengenai sebagian perkara gaib tidak berarti beliau mengetahui segala sesuatu secara mandiri. Pengetahuan tersebut merupakan karunia yang bersumber dari wahyu dan pemberitahuan Allah SWT.

“Allah memperlihatkannya kepada Nabi. Kalau Allah yang memberitahukan, maka selesai persoalannya,” ujarnya.

Landasan tersebut, lanjutnya, dapat ditemukan dalam Surah Al-Jinn ayat 26–27. Allah SWT menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui segala yang gaib dan tidak memperlihatkan perkara gaib itu kepada siapa pun, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya.

KH Marpu mengingatkan agar ayat tersebut tidak dibaca secara sepotong-sepotong. Bagian pertama menegaskan bahwa pengetahuan mutlak mengenai perkara gaib hanya dimiliki Allah. Bagian berikutnya menerangkan bahwa Allah dapat memperlihatkan sebagian pengetahuan tersebut kepada rasul pilihan-Nya.

Dengan demikian, ayat tersebut tidak meniadakan adanya pengetahuan gaib yang diberikan kepada rasul. Justru ayat itu menunjukkan bahwa para rasul dapat mengetahui perkara gaib sepanjang Allah berkehendak memberitahukannya.

Baca Juga:  Gapai Kreativitas Santri, Al-Muhajirin Kampus Pusat Rutin laksanakan Pentas Seni di Malam Ahad

“Pengetahuan Nabi bukan dalam kedudukan sebagai Tuhan. Nabi mengetahuinya karena Allah memperlihatkan dan memberitahukannya,” terangnya.

KH Marpu juga mengingatkan bahwa riwayat-riwayat yang menyebutkan Rasulullah belum mengetahui suatu perkara harus dipahami berdasarkan konteks dan waktunya. Sebelum menerima wahyu mengenai suatu hal, Nabi tidak mengetahuinya. Setelah Allah memberitahukan, beliau mengetahui dan menyampaikannya kepada umat.

Prinsip serupa berlaku dalam persoalan syafaat. Syafaat sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT. Namun, sebagaimana diterangkan dalam Ayat Kursi, Allah dapat memberikan izin kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya untuk memberikan syafaat.

Karena itu, meyakini adanya syafaat para nabi dan hamba-hamba saleh yang diberi izin oleh Allah tidak mengurangi kemahakuasaan-Nya. Semua tetap berlangsung atas kehendak dan izin Allah SWT.

“Kalau tauhidnya benar, tidak perlu khawatir ketika membicarakan keistimewaan Rasulullah. Kita tidak akan mengubah Nabi menjadi Tuhan. Allah tetap Rabbul ‘alamin dan Nabi Muhammad adalah rasul-Nya,” tegas KH Marpu.

Rasulullah Mengabarkan Peristiwa hingga Hari Kiamat

Untuk memperkuat penjelasannya, KH Marpu mengutip hadis Hudzaifah bin Al-Yaman yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadis tersebut mengisahkan Rasulullah SAW berdiri di hadapan para sahabat dan menerangkan berbagai peristiwa yang akan terjadi hingga datangnya hari kiamat.

Di antara para sahabat yang mendengar penjelasan itu, ada yang mampu mengingatnya dan ada pula yang kemudian melupakannya. Ketika sebagian peristiwa yang pernah dikabarkan Rasulullah benar-benar terjadi, Hudzaifah kembali mengingat penjelasan tersebut, sebagaimana seseorang mengenali wajah kawannya setelah lama tidak berjumpa.

Dari riwayat para sahabat itulah umat Islam kemudian mengetahui berbagai kabar mengenai kejadian pada masa mendatang dan tanda-tanda datangnya hari kiamat.

KH Marpu juga menyampaikan hadis Abu Zaid Amr bin Akhthab dalam Shahih Muslim. Seusai memimpin salat Subuh, Rasulullah SAW naik ke mimbar dan menyampaikan penjelasan hingga waktu Zuhur. Setelah salat Zuhur, beliau kembali ke mimbar dan berbicara sampai Asar. Seusai salat Asar, beliau melanjutkan penjelasan hingga matahari terbenam.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Al-Muhajirin Mengucapkan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H

Dalam pengajaran yang berlangsung panjang itu, Rasulullah SAW mengabarkan berbagai perkara yang telah terjadi dan yang akan terjadi hingga hari kiamat. Para sahabat yang paling kuat mengingat penjelasan tersebut kemudian menjadi orang yang paling luas pengetahuannya mengenai perkara-perkara itu.

Riwayat tersebut menunjukkan keluasan ilmu yang Allah karuniakan kepada Rasulullah SAW. Namun, KH Marpu juga menemukan pelajaran penting di dalamnya bagi para guru dan pendidik.

Menurutnya, lamanya waktu pengajaran tidak selalu menjadi penyebab kebosanan. Keberhasilan pembelajaran turut ditentukan oleh kedalaman materi, metode penyampaian, kemampuan guru membaca keadaan peserta, serta cara menghidupkan suasana.

“Tidak bisa dipatok bahwa mengajar lama pasti membosankan. Bisa saja pengajaran setengah jam lebih membosankan daripada dua jam. Karena itu, yang terpenting bagi seorang guru adalah metode,” tuturnya.

Mengabarkan Peristiwa Sebelum Kelahiran Nabi

KH Marpu menjelaskan bahwa pembahasan mengenai kabar kenabian secara garis besar terbagi menjadi dua. Pertama, tanabbu’un Nabi bima kana, yaitu kabar Rasulullah mengenai sesuatu yang telah terjadi. Kedua, tanabbu’un Nabi bima sayakun, yakni kabar mengenai peristiwa yang akan terjadi.

Pada pertemuan tersebut, kajian difokuskan pada bagian pertama. Rasulullah SAW mengabarkan berbagai peristiwa yang berlangsung jauh sebelum kelahiran beliau, mulai dari awal penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia, ketetapan takdir, hingga keberadaan dan tugas para malaikat.

Salah satu hadis yang dibahas adalah riwayat Abdullah bin Amr bin Ash. Rasulullah SAW menerangkan bahwa Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.

“Berarti sejarah takdir kita lebih tua daripada sejarah langit dan bumi. Semuanya sudah berada dalam ketetapan Allah. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan,” ungkap KH Marpu.

Pemahaman mengenai takdir, menurutnya, tidak seharusnya membuat manusia kehilangan semangat untuk berikhtiar. Sebaliknya, keyakinan tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan berada dalam pengetahuan dan kekuasaan Allah. Manusia tetap berkewajiban berusaha, berdoa, dan menjalankan perintah-Nya.

Keteraturan Alam dan Tugas Para Malaikat

KH Marpu selanjutnya menerangkan keberadaan dan tugas para malaikat sebagaimana dikabarkan Rasulullah SAW. Ada malaikat yang senantiasa bertasbih tanpa mengenal lelah, menjaga manusia atas perintah Allah, mencatat perbuatan baik dan buruk, mengatur berbagai urusan, serta menjalankan tugas-tugas lain sesuai ketetapan-Nya.

Baca Juga:  Keluarga Besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 H

Keberadaan para malaikat dengan beragam tugas tersebut tidak menunjukkan kelemahan Allah SWT. Sebaliknya, hal itu memperlihatkan keteraturan alam semesta serta keluasan kekuasaan-Nya.

“Allah menugaskan malaikat bukan karena Allah lemah. Melalui semua itu, kekuasaan dan keteraturan yang Allah tetapkan menjadi tampak bagi kita,” jelasnya.

Beliau juga membahas hadis Abdullah bin Mas’ud mengenai tahapan perkembangan manusia di dalam rahim. Manusia mengalami tahapan sebagai nutfah, alaqah, dan mudghah. Setelah mencapai waktu yang telah ditentukan, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh serta mencatat ketentuan hidupnya.

Penjelasan tersebut mengingatkan manusia bahwa kehidupannya berada dalam pengetahuan, kehendak, dan ketetapan Allah sejak sebelum dilahirkan. Kesadaran itu semestinya melahirkan kerendahan hati, rasa syukur, dan kesungguhan menggunakan usia untuk beribadah serta berbuat kebaikan.

Mengenal Rasulullah, Jalan Menuju Allah

Pada bagian akhir kajian, KH Marpu mengajak para guru dan jamaah terus memperdalam pengetahuan mengenai kemuliaan Rasulullah SAW. Mengenal Nabi tidak berhenti pada hafalan sejarah kelahiran, nasab, perjuangan, dan berbagai peristiwa dalam kehidupan beliau.

Pengetahuan tersebut harus melahirkan kecintaan, penghormatan, serta kesungguhan mengikuti sunnah dan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, mengagungkan Rasulullah SAW tidak akan mengurangi penghambaan kepada Allah. Justru melalui risalah dan keteladanan Rasulullah, manusia mengenal Allah, memahami Al-Qur’an, mengetahui tata cara beribadah, serta menemukan jalan menjalani kehidupan sesuai kehendak-Nya.

“Meyakini keagungan Rasulullah adalah pintu terbesar untuk tersambung dengan keagungan Allah. Pengetahuan kita tentang Rasulullah merupakan jalan terbaik untuk sampai kepada Allah SWT,” tuturnya.

Rasulullah SAW adalah utusan yang memperkenalkan manusia kepada Allah, menyampaikan Al-Qur’an, menjelaskan tata cara beribadah, serta memberikan teladan dalam menjalani kehidupan. Karena itu, kecintaan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari keimanan, penghormatan, dan ketaatan kepada Rasul-Nya.

Kajian ditutup dengan doa agar pemahaman mengenai keagungan nubuwah semakin meneguhkan iman, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta mendorong umat Islam menghidupkan ajaran dan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *