KH Marpu: Mengenal Kedudukan Rasulullah SAW Menguatkan Cinta dan Harapan Syafaat

AL-MUHAJIRIN — Mengenal Nabi Muhammad SAW perlu melampaui pengetahuan tentang nama, nasab, dan kedudukan beliau sebagai nabi terakhir. Umat Islam juga perlu mempelajari sifat, kemuliaan, serta berbagai kedudukan istimewa yang Allah SWT anugerahkan kepada Rasulullah.
Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dalam Pengajian Rutin Sabtu atau Ngaji Sabtu Muhajirin Satu di Aula Syaikh Datul Kahfi (SDK), Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Purwakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Dalam kajian khusus bulan Maulid itu, KH Marpu melanjutkan pembahasan ilmu khashaish ar-Rasul, yakni ilmu yang menguraikan sifat dan kedudukan khusus Nabi Muhammad SAW. Kajian tersebut diharapkan dapat membuka hati, membangun hubungan rohani, serta menumbuhkan kecintaan umat kepada Rasulullah.
“Ilmu ini membahas sifat-sifat istimewa dan kedudukan-kedudukan khusus yang hanya dimiliki Rasulullah SAW. Dengan mempelajarinya, mudah-mudahan terbuka hati kita dan semakin terhubung dengan beliau,” tutur KH Marpu.
KH Marpu menjelaskan bahwa salah satu kitab rujukan dalam kajian tersebut menguraikan 77 maqam Rasulullah. Kata maqam dalam pembahasan itu berarti kedudukan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW, terutama kedudukan beliau pada hari kiamat.
Pada pertemuan tersebut, KH Marpu membahas lima maqam Rasulullah: pemilik Maqam Mahmud, pemilik telaga yang didatangi umat, pemegang Liwaul Hamdi, pemilik wasilah dan kedudukan yang tinggi, serta pemimpin umat yang wajah dan anggota wudunya bercahaya.
Maqam Mahmud dan Syafaat Terbesar
Kedudukan pertama yang dibahas adalah Shahibul Maqamil Mahmud, yakni Rasulullah sebagai pemilik Maqam Mahmud atau kedudukan terpuji.
Dasarnya terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 79 yang menjelaskan bahwa Allah akan membangkitkan Nabi Muhammad SAW pada maqam yang terpuji.
Menurut KH Marpu, Maqam Mahmud merupakan kedudukan yang dipuji oleh Allah dan disanjung oleh seluruh makhluk pada hari kiamat. Kedudukan tersebut berhubungan dengan kewenangan memberikan syafaat terbesar atau asy-syafa‘atul ‘uzhma.
Syafaat berarti memohon kebaikan kepada Allah untuk diberikan kepada orang lain. Dalam kehidupan dunia, seseorang terkadang memerlukan bantuan pihak yang memiliki kewenangan untuk menyelesaikan persoalan di luar jangkauannya. Pada hari kiamat, ketika kemampuan manusia telah berakhir, kebutuhan terhadap pertolongan itu jauh lebih besar.
“Syafaat adalah meminta kebaikan kepada pihak lain untuk orang lain. Rasulullah meminta kepada Allah untuk keselamatan umat, bukan untuk kepentingan pribadi beliau,” jelasnya.
KH Marpu kemudian menggambarkan keadaan manusia ketika dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Mereka menghadapi penantian yang berat sebelum datangnya keputusan Allah.
Bagi orang beriman, masa penantian tersebut akan diringankan. KH Marpu mengingatkan bahwa ringannya waktu itu bukan karena shalat seorang mukmin dilakukan dengan tergesa-gesa, melainkan karena shalat menjadi ketenteraman, kedamaian, dan kenyamanan baginya. Sebagaimana waktu terasa singkat ketika seseorang berada dalam keadaan nyaman, demikian pula Allah meringankan keadaan orang beriman di akhirat.
Dalam keadaan yang sangat berat tersebut, manusia mencari seseorang yang dapat memohon kepada Allah agar pengadilan segera dimulai. Mereka mendatangi Nabi Adam AS karena beliau merupakan bapak seluruh manusia. Nabi Adam menjawab bahwa kewenangan itu bukan miliknya dan mengarahkan mereka kepada Nabi Ibrahim AS.
Nabi Ibrahim juga menyatakan tidak memiliki kewenangan tersebut, kemudian mengarahkan manusia kepada Nabi Musa AS. Dari Nabi Musa, mereka diarahkan kepada Nabi Isa AS. Nabi Isa pun menyatakan bahwa tugas tersebut bukan miliknya dan meminta manusia mendatangi Nabi Muhammad SAW.
Ketika permohonan itu disampaikan kepada Rasulullah, beliau menjawab, “Ana laha, ana laha”—akulah yang diberi tugas untuk itu.
Jawaban tersebut menunjukkan bahwa kewenangan syafaat tidak muncul dari kehendak Rasulullah sendiri. Allah telah menetapkannya melalui Maqam Mahmud.
Rasulullah kemudian datang ke bawah Arasy dan bersujud kepada Allah. Dalam sujud itu, Allah membukakan kepada beliau rangkaian pujian yang belum pernah diberikan kepada makhluk lain.
KH Marpu menerangkan bahwa kemampuan seseorang memuji berhubungan dengan kedalaman pengenalannya. Semakin mengenal seseorang, semakin tepat pula kata-kata yang digunakan untuk memujinya. Pujian Rasulullah kepada Allah memperlihatkan keluasan makrifat dan kedekatan beliau kepada-Nya.
Setelah Rasulullah bersujud dan memuji Allah, datang perintah agar beliau mengangkat kepala, menyampaikan permohonan, dan memberikan syafaat.
Kalimat pertama yang diucapkan Rasulullah adalah, “Ummati ya Rabbi, ummati ya Rabbi, ummati ya Rabbi”—umatku, wahai Tuhanku.
“Yang pertama keluar dari lisan Rasulullah setelah sujud panjang itu bukan dirinya, keluarganya, nasabnya, atau keturunannya. Yang beliau sebut adalah umatnya. Di situlah terlihat betapa besar cinta dan perhatian Rasulullah kepada umat,” ungkap KH Marpu.
Allah kemudian memberikan izin kepada Rasulullah untuk memasukkan sebagian umatnya ke dalam surga tanpa melalui hisab. Mereka masuk melalui pintu sebelah kanan surga tanpa melewati rangkaian perhitungan amal, penimbangan, dan menyeberangi shirath.
Kisah tersebut, menurut KH Marpu, menunjukkan bahwa perhatian Rasulullah kepada umat tidak berakhir ketika beliau wafat. Perhatian itu terus berlangsung hingga hari kiamat.
Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya merasa sendirian ketika menghadapi sakit, kesulitan, dan berbagai ujian. Rasulullah sangat mencintai umatnya. Hubungan tersebut perlu dipelihara melalui iman, ketaatan, mengenal kepribadian beliau, mengamalkan sunah, dan memperbanyak selawat.
Telaga yang Menghilangkan Dahaga Selamanya
Kedudukan kedua adalah Shahibul Haudhil Maurud, yaitu Rasulullah sebagai pemilik telaga yang kelak didatangi umat.
KH Marpu menjelaskan bahwa telaga Rasulullah sangat luas. Jarak dari satu sisinya menuju sisi lain digambarkan sejauh perjalanan selama satu bulan. Airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada kasturi, sedangkan gelas-gelas yang tersedia di sekelilingnya begitu banyak dan indah seperti bintang-bintang di langit.
“Siapa yang meminum air telaga tersebut tidak akan mengalami dahaga selama-lamanya,” terangnya.
Telaga itu berada di Padang Mahsyar. Setelah manusia menghadapi penantian yang melelahkan, umat Rasulullah memperoleh minuman yang menjadi awal datangnya kenikmatan akhirat.
Air telaga tersebut bersumber dari surga. Dalam riwayat yang dijelaskan KH Marpu, terdapat dua saluran yang mengalirkan air dari surga menuju telaga Rasulullah. Satu saluran terbuat dari emas dan satu lainnya dari perak.
Telaga itu juga dikenal sebagai Telaga Kautsar. Kata Al-Kautsar mengandung makna kebaikan dan kenikmatan yang sangat banyak. Telaga Nabi menjadi salah satu bentuk karunia besar yang Allah berikan kepada Rasulullah dan umatnya.
Banyaknya gelas seperti bintang menggambarkan bahwa setiap orang yang memperoleh kesempatan mendatanginya akan mendapatkan bagian. Tidak ada perebutan, kekurangan, maupun kekhawatiran kehabisan.
KH Marpu mengajak jamaah berdoa agar kelak memperoleh minuman dari telaga Rasulullah. Doa itu juga dikenal dalam rangkaian doa ketika berada di bawah Mizab atau talang Ka’bah:
“Ya Allah, berilah kami minuman dari telaga Nabi-Mu, Sayidina Muhammad SAW, satu minuman yang menyegarkan dan setelahnya kami tidak akan merasakan dahaga selama-lamanya.”
Liwaul Hamdi dan Ukuran Keberhasilan Dakwah
Kedudukan ketiga adalah Shahibul Liwa’il Ma‘qud, yaitu Rasulullah sebagai pemegang bendera agung yang diikuti oleh seluruh umat. Bendera tersebut dikenal sebagai Liwaul Hamdi atau bendera pujian.
Pada hari kiamat, Nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin seluruh keturunan Nabi Adam. Para nabi dan rasul berada di bawah Liwaul Hamdi yang berada di tangan Rasulullah.
KH Marpu mengutip keterangan Rasulullah bahwa beliau merupakan pemimpin seluruh keturunan Adam pada hari kiamat, tetapi tidak menyampaikan kedudukan tersebut untuk menyombongkan diri.
“Di tangan Rasulullah terdapat Liwaul Hamdi. Seluruh nabi sejak Nabi Adam dan nabi-nabi setelahnya berada di bawah bendera beliau. Itulah makna nyata dari Sayyidul Mursalin dan Imamul Anbiya,” jelasnya.
Rasulullah juga menjadi manusia pertama yang dibangkitkan dari alam kubur. Setelah tiupan sangkakala kedua, bumi pertama kali terbelah untuk membangkitkan beliau, kemudian disusul manusia lainnya.
Dalam pembahasan Liwaul Hamdi, KH Marpu turut menyampaikan pelajaran penting bagi orang-orang yang mengelola pesantren, masjid, madrasah, majelis taklim, dan berbagai kegiatan dakwah.
Ia menceritakan adanya nabi yang hanya mempunyai satu orang pengikut. Sedikitnya jumlah pengikut tidak mengurangi kedudukan nabi tersebut di sisi Allah. Ia tetap menjadi nabi karena telah menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.
Pelajaran itu mengingatkan para pendakwah agar tidak menjadikan jumlah jamaah sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
“Jangan berorientasi pada jumlah. Ukuran keberhasilan dakwah adalah keikhlasan, keistikamahan, kebenaran ilmu yang diajarkan, serta apakah dakwah itu membawa manusia kepada Allah dan Rasul-Nya,” pesan KH Marpu.
Jumlah jamaah dapat berubah. Ada kegiatan yang dihadiri banyak orang, ada pula yang hanya diikuti sedikit peserta. Tugas seorang pendakwah adalah terus menyampaikan kebenaran, meningkatkan mutu pembelajaran, serta menjaga niat dan keistikamahan.
Pelajaran tersebut membuat kajian mengenai kedudukan Rasulullah terasa dekat dengan tugas dakwah sehari-hari. Kemuliaan tidak selalu ditentukan oleh popularitas. Nilai sebuah amal terletak pada kebenaran, ketulusan, dan tanggung jawab dalam menjalankannya.
Wasilah, Kedudukan Tertinggi di Surga
Kedudukan keempat adalah Shahibul Wasilati wal Fadhilati wad Darajatil ‘Aliyatir Rafi‘ah, yaitu Rasulullah sebagai pemilik wasilah, keutamaan, dan derajat yang tinggi.
KH Marpu menjelaskan bahwa kata wasilah dalam pembahasan tersebut tidak dimaknai sebagai perantara. Wasilah adalah satu kedudukan istimewa di surga yang Allah sediakan bagi seorang hamba.
Rasulullah menyatakan harapannya menjadi hamba yang memperoleh kedudukan tersebut. Ungkapan itu memperlihatkan kerendahan hati beliau. Pada hakikatnya, berbagai petunjuk kenabian telah menunjukkan bahwa wasilah memang disediakan bagi Nabi Muhammad SAW.
Umat Islam diajarkan memohonkan wasilah bagi Rasulullah setiap selesai azan. Tata caranya dimulai dengan menjawab kalimat-kalimat azan, kemudian membaca selawat, lalu memanjatkan doa sesudah azan.
Ketika muazin mengucapkan “Hayya ‘alash shalah” dan “Hayya ‘alal falah”, jamaah menjawab dengan kalimat hauqalah, “La haula wa la quwwata illa billah.” Setelah azan selesai, umat Islam membaca selawat dan memohon kepada Allah agar memberikan wasilah, keutamaan, derajat yang tinggi, serta Maqam Mahmud kepada Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang memohonkan wasilah untuk beliau akan memperoleh syafaat pada hari kiamat.
“Karena itu, ketika mendengar azan, jangan terburu-buru melanjutkan aktivitas. Jawab azannya, baca selawat, kemudian baca doa sesudah azan dengan sungguh-sungguh. Resapi makna wasilah dan Maqam Mahmud yang kita mohonkan untuk Rasulullah,” pesannya.
KH Marpu juga mengingatkan bahwa membaca satu kali selawat akan dibalas Allah dengan sepuluh rahmat. Ia menyebutnya sebagai kemurahan Allah: amal sederhana dari seorang hamba dibalas dengan karunia yang berlipat ganda.
Wajah dan Anggota Wudu yang Bercahaya
Kedudukan kelima adalah Qa’idil Ghurril Muhajjalin, yaitu Rasulullah sebagai pemimpin umat yang wajah, tangan, dan kakinya bercahaya.
Ketika seluruh manusia sejak Nabi Adam dikumpulkan di Padang Mahsyar, umat Nabi Muhammad SAW mempunyai tanda yang membedakan mereka dari umat lainnya. Tanda tersebut berupa cahaya yang memancar dari wajah serta anggota tubuh yang dibasuh ketika berwudu.
“Umat Rasulullah akan dikenal sebagai ghurran muhajjalin. Wajah, tangan, dan kaki mereka bercahaya karena bekas wudu,” jelas KH Marpu.
Ia mengajak jamaah menyempurnakan wudu. Membasuh anggota wudu tidak dilakukan sekadarnya untuk menggugurkan kewajiban, tetapi disertai kesadaran bahwa setiap basuhan berhubungan dengan keadaan seseorang di akhirat.
Wajah dibasuh secara merata, tangan dilebihkan sampai melampaui siku, dan kaki dibasuh dengan sempurna hingga melampaui mata kaki. Perbuatan tersebut bukan untuk mengubah batas wajib wudu, melainkan menjalankan kesunahan dan memperluas cahaya bekas wudu.
“Kalau cara berpikir kita sudah berorientasi akhirat, wudu tidak lagi dilakukan secara minimalis. Kita ingin menyempurnakannya karena berharap cahaya itu kelak semakin luas,” tuturnya.
KH Marpu menerangkan bahwa umat Nabi Muhammad juga memperoleh sejumlah keutamaan dalam perjalanan akhirat. Mereka menjadi umat pertama yang menjalani hisab, pertama menyeberangi shirath, dan pertama memasuki surga.
Rasulullah menjadi pemimpin mereka. Jika umatnya memiliki cahaya dari bekas wudu, cahaya Rasulullah tentu jauh lebih sempurna. KH Marpu menggambarkan bahwa cahaya Rasulullah telah terlihat sejak kehidupan dunia, terlebih kelak ketika beliau berada di akhirat.
Mengenal Rasulullah Secara Lebih Mendalam
Setelah membahas lima kedudukan tersebut, KH Marpu menegaskan pentingnya mengenal Nabi Muhammad SAW secara lebih terperinci.
Pengetahuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan nabi terakhir merupakan dasar keimanan. Namun, hubungan batin dan kecintaan kepada beliau akan semakin kuat ketika umat mempelajari sifat, perjuangan, kasih sayang, keutamaan, serta kedudukannya di sisi Allah.
“Kalau pemahaman tentang Rasulullah masuk ke dalam hati, energi kita untuk beribadah, berselawat, dan mengikuti beliau akan bertambah. Kita tidak mengenal Rasulullah secara global saja, tetapi mengetahui kemuliaan beliau satu per satu,” jelasnya.
Kajian tersebut juga memperlihatkan hubungan erat antara cinta kepada Rasulullah dan amal sehari-hari. Harapan memperoleh syafaat perlu disertai dengan menjaga tauhid, menjawab azan, membaca doa sesudah azan, memperbanyak selawat, menyempurnakan wudu, menjalankan sunah, dan istiqamah dalam dakwah.
Mempelajari kedudukan Rasulullah tidak diarahkan untuk mengagungkan beliau secara berlebihan. Semua kemuliaan itu merupakan pemberian Allah. Rasulullah tetap hamba dan utusan-Nya, sementara Allah menjadi satu-satunya Zat yang memberikan maqam, syafaat, telaga, wasilah, serta seluruh kemuliaan tersebut.
Ngaji Sabtu Muhajirin Satu pun menjadi ruang bagi jamaah untuk mengenal Rasulullah secara bertahap. Melalui kajian yang disampaikan dengan bahasa sederhana, contoh kehidupan sehari-hari, serta penjelasan mengenai keadaan akhirat, jamaah diajak mengubah pengetahuan menjadi kecintaan dan kecintaan menjadi ketaatan.
Harapannya, kecintaan tersebut terus hidup dalam hati, diwujudkan melalui amal, dan kelak mengantarkan umat berada di bawah Liwaul Hamdi, memperoleh minuman dari telaga Rasulullah, menerima syafaat beliau, serta dibangkitkan dalam barisan orang-orang yang wajah dan anggota wudunya bercahaya. (*)
