Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Rabu, 23 September 2026

Berita

KH. Marpu Muhidin Ilyas: Zuhud Bukan Meninggalkan Dunia, tetapi Mengarahkannya untuk Akhirat

Oleh Fajar Maritim22 September 20263 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN — Pengajian rutin Ngaji Sabtu Muhajirin bersama Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA, kembali digelar di Aula Syaikh Datuh Kahfi, Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, Sabtu (19/9/2026). Kajian kali ini memasuki Kitab Riyadhus Shalihin Bab ke-55, tentang keutamaan zuhud, anjuran menyederhanakan urusan dunia, dan keutamaan sikap fakir di hadapan Allah.

KH. Marpu membuka kajian dengan meluruskan kesalahpahaman umum: zuhud sering dikira berarti hidup miskin atau menjauhi dunia. Padahal, katanya, zuhud adalah soal cara memandang kehidupan dunia — bukan soal meninggalkannya.

“Bab ini sangat penting karena kadang kurang populer di masyarakat, bahkan sering disalahpahami. Padahal ini termasuk yang diperintahkan Rasulullah SAW,” jelasnya.

Dunia Ibarat Hujan yang Menumbuhkan, lalu Lenyap

Merujuk QS. Yunus: 24, beliau menjelaskan dunia digambarkan seperti hujan yang menumbuhkan tanaman hingga indah dipandang, namun kemudian mengering dan hilang. Dari sini terlihat tiga sifat dunia: datang cepat, memikat, lalu cepat berlalu.

Perumpamaan ini, tegasnya, bukan sekadar bicara soal tanaman, melainkan cermin bagi diri sendiri — masa muda, jabatan, kekuatan, karier, kesehatan, semuanya pasti berubah dan tak bisa dipertahankan selamanya, meski dengan teknologi secanggih apa pun.

“Kesimpulannya harus dibaca kembali ke diri kita,” ujarnya. Kesadaran inilah yang melahirkan sikap tidak berlebihan mengejar dunia — itulah inti zuhud.

Boleh Kaya, Asal Jangan Lupa Akhirat

Melanjutkan QS. Al-Kahfi: 45–46, KH. Marpu menjelaskan bahwa harta dan anak adalah perhiasan dunia, tetapi Al-Qur’an menawarkan pembanding: al-baqiyatus shalihat (amal saleh yang kekal).

Poinnya bukan pada boleh-tidaknya memiliki harta, pekerjaan, atau usaha, melainkan jangan sampai semua itu melalaikan orientasi akhirat.

“Islam tidak melarang dagang, tidak melarang kerja. Selama halal, silakan. Tapi jangan sampai melupakan al-baqiyatus shalihat,” tegasnya.

Beliau mencontohkan hal sederhana: menyapu rumah, menjaga kesehatan, atau merawat kendaraan pun bisa bernilai ibadah — asal diniatkan sebagai jalan meraih pahala.

Nikmat Dunia Boleh Dinikmati, Tapi Jangan Jadi Tujuan

Mengutip QS. Ali Imran: 14, beliau menyebut daya tarik dunia — pasangan, anak, harta, kendaraan, hingga aset yang berkembang — memang fitrah manusia. Yang perlu dijaga adalah agar hal-hal tersebut tidak menjadi tujuan akhir.

“Bukan dibuang, bukan dihancurkan. Tapi pastikan yang menyenangkan syahwat itu jadi bekal akhirat,” katanya. Kendaraan misalnya, bisa dipakai bekerja, bersilaturahmi, atau mengaji — sehingga fasilitas dunia berubah menjadi ladang pahala.

Konsep ini beliau rangkum dalam prinsip “ad-dunya liqashdil akhirah” — dunia dijalani, tapi akhirat yang dituju.

Waspada Terlena oleh Kenikmatan

Menutup kajian dengan QS. Fatir: 5, KH. Marpu mengingatkan agar jamaah tidak tertipu oleh dunia — yakni ketika seluruh waktu habis untuk mengejar pekerjaan dan harta, sementara ibadah terus ditunda.

Beliau juga mengingatkan: kelapangan rezeki dan kesehatan yang terus mengalir bukan jaminan rasa aman. Justru saat itulah seseorang harus makin waspada agar tidak lengah dari Allah.

“Jangan sampai kita menunda kebaikan dan merasa benar. Itu saja — itulah godaan dunia,” pesannya.

Kajian ditutup dengan doa bersama, memohon agar ilmu yang dipelajari menjadi bekal menuju ridha dan maghfirah Allah SWT (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *