Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Kamis, 24 September 2026

Berita

Kajian As-Sirojul Munir Maqam ke-11: Nabi Muhammad SAW sebagai Al-Fatih Al-Khatam

Oleh Fajar Maritim23 September 20266 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN — Kajian rutin bulanan kitab As-Sirojul Munir fi Maqomati Sayyidil Mursalin kembali digelar di Aula Pesantren Al-Muhajirin 5 Wanayasa, Sabtu (19/9/2026). Kajian ini berlangsung setiap Sabtu pekan ketiga, pukul 12.00 WIB hingga selesai. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhiddin Ilyas, MA., memandu langsung jalannya kajian.

Kali ini pembahasan sampai pada maqam ke-11, yaitu Al-Fatih Al-Khatam (الْفَاتِحُ الْخَاتَمُ). Al-Fatih berarti pembuka, sedangkan Al-Khatam berarti penutup. Menurut KH. Marpu, gabungan keduanya menggambarkan kedudukan Rasulullah SAW yang unik. Ada hal-hal yang tidak dapat dimulai kecuali oleh beliau, dan ada hal-hal yang setelah dibuka tidak dapat ditutup kecuali oleh beliau.

Makna Pertama: Kerasulan yang Dibuka dengan Ilmu

Makna pertama Al-Fatih, jelas KH. Marpu, adalah bahwa kerasulan Nabi Muhammad SAW dibuka dengan ilmu.

“Kerasulan Nabi dibuka dengan ilmu. Awal kerasulan Nabi adalah ilmu.”

Buktinya, kata beliau, ada pada wahyu pertama, yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1–5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Iqra’ bismi rabbikal-ladzī khalaq. Khalaqal-insāna min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal-akram. Alladzī ‘allama bil-qalam. ‘Allamal-insāna mā lam ya’lam.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Kelima ayat itu, kata KH. Marpu, memuat pesan tentang membaca, hakikat penciptaan manusia, kemurahan Allah, ilmu, dan qalam sebagai alat ilmu. Perintah Iqra’ di sini bukan sekadar perintah membaca teks. Karena itu, pintu kenabian Rasulullah SAW dibuka dengan ilmu.

Nabi yang Ummi: Bukan Kekurangan, tetapi Keagungan

KH. Marpu mengaitkan hal ini dengan sifat ummiyun pada diri Nabi. Beliau mengingatkan bahwa kata ini berasal dari kata umm (ibu). Maknanya adalah keadaan seperti bayi yang baru lahir dari ibunya, yakni lā yaqra’u wa lā yaktub, tidak membaca dan tidak menulis.

Meski demikian, ilmu Nabi melampaui ilmu seluruh makhluk. Sebabnya, gurunya adalah Allah langsung melalui wahyu. Menurut KH. Marpu, kalamullah tidak berupa suara dan huruf. Suara dan huruf adalah ciri makhluk yang lahir dari organ. Maka wahyu diterima bukan lewat tulisan atau bacaan, melainkan langsung ke dalam hati Nabi.

Beliau membedakan hal ini dari keadaan manusia biasa. Seorang ulama, kiai, bahkan wali tetap belajar dari manusia dan karena itu tetap membutuhkan baca-tulis. Orang yang tidak bisa membaca dan menulis tetapi berilmu hanyalah Nabi.

Beliau juga memberi contoh sederhana. Membaca Al-Qur’an bisa dinilai, misalnya dari kebenaran tajwidnya. Namun keikhlasan dalam membaca tidak bisa diukur, tidak berupa tulisan, dan tidak bersuara. Padahal ilmu ikhlas itulah yang lebih tinggi.

Bagi KH. Marpu, sifat ummi justru menjadi jaminan keaslian wahyu. Jika ada yang menuduh Al-Qur’an karangan Nabi Muhammad, jawabannya mudah: Nabi tidak bisa membaca dan menulis. Beliau juga tidak belajar kepada ahli kitab, dan bahasa mereka pun berbeda. Sementara itu, seluruh kabar dalam Al-Qur’an terbukti tepat. Kesimpulannya, Al-Qur’an adalah wahyu asli dari Allah SWT.

Makna Kedua: Pembuka Ilmu-Ilmu Kenabian

Makna kedua Al-Fatih, Rasulullah SAW membuka ilmu-ilmu kerasulan dan kenabian yang belum terbuka pada nabi-nabi terdahulu.

Setiap nabi, kata KH. Marpu, adalah a’lam, manusia paling berilmu pada zamannya. Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa, hingga Nabi Isa dipilih Allah karena keunggulan ilmunya. Namun ada ilmu-ilmu pilihan Allah yang baru terbuka pada masa Nabi Muhammad SAW.

Untuk memudahkan jamaah, beliau memberi perumpamaan dari dunia pertanian. Bertahun-tahun petani menanam dengan cara turun-temurun. Lalu suatu ketika ditemukan cara baru yang membuka jalan yang selama ini tertutup. Demikian pula dengan Rasulullah SAW dalam ilmu kenabian.

Makna Ketiga: Terbukanya Karunia Allah di Alam Semesta

Makna ketiga, Rasulullah SAW adalah pembuka karunia-karunia Allah yang tersimpan di alam, baik yang lahir maupun yang batin.

Menurut KH. Marpu, kekayaan yang terkandung di dalam bumi, seperti emas dan minyak, serta kekayaan langit, seperti planet dan galaksi, baru terungkap setelah Nabi diutus. Beliau menegaskan bahwa hal itu bukan karena sebelumnya tidak ada, melainkan karena Allah berkehendak membukanya bersama diutusnya Nabi Muhammad SAW. Maka Nabi adalah pembuka, Al-Fatih.

Beliau juga menyebut kitab yang dianugerahkan kepada Nabi sebagai kitab yang paling baik. Kitab itu menghimpun akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak sekaligus, tidak hanya salah satunya.

Al-Khatam: Lebih dari Sekadar Nabi Terakhir

Pembahasan lalu beralih ke pasangan istilah Al-Fatih, yaitu Al-Khatam. Istilah ini dikaitkan dengan gelar Rasulullah SAW dalam Surah Al-Ahzab ayat 40:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Mā kāna Muhammadun abā ahadin min rijālikum wa lākir-rasūlallāhi wa khātaman-nabiyyīn, wa kānallāhu bikulli syai’in ‘alīmā.

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

KH. Marpu menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, khatam juga dipakai untuk stempel. Beliau mengajak jamaah membayangkan surat keterangan. Surat yang sudah distempel dianggap sah, tuntas, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Sebaliknya, surat tanpa stempel selalu diragukan, sebagaimana paspor tanpa stempel imigrasi.

Dari perumpamaan itu beliau menegaskan bahwa Khatamun Nabiyyin bukan sekadar berarti nabi yang terakhir. Ia adalah pengesah, penyempurna, dan pelengkap. Dengan hadirnya Nabi Muhammad SAW, seluruh rangkaian kenabian dari Nabi Adam hingga Nabi Isa dianggap tuntas.

Perumpamaan Bangunan yang Sempurna

Beliau mengutip hadis perumpamaan Nabi tentang sebuah rumah:

مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ… فَأَنَا اللَّبِنَةُ، وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ

Matsalī wa matsalul-anbiyā’i min qablī ka-matsali rajulin banā baytan fa-ahsanahu wa ajmalahu illā maudhi’a labinatin min zāwiyah… fa-anal-labinah, wa ana khātamun-nabiyyīn.

“Perumpamaanku dan para nabi sebelumku adalah seperti seseorang yang membangun rumah, lalu memperindahnya, kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya… maka akulah batu bata itu, dan akulah penutup para nabi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

KH. Marpu menguraikan hadis ini dengan gamblang. Bayangkan sebuah rumah yang sangat megah tetapi menyisakan satu celah karena batanya belum terpasang. Orang tentu akan menyayangkannya dan menganggap bangunan itu ada cacatnya. Setelah celah tersebut ditutup, tidak ada lagi ruang untuk mengkritik, dan bangunan itu tampak sempurna. Nabi Muhammad SAW adalah penutup celah tersebut.

Dengan demikian, Al-Fatih Al-Khatam menggambarkan dua sisi kedudukan Rasulullah SAW. Beliau membuka apa yang sebelumnya tertutup, yaitu ilmu-ilmu kenabian dan karunia Allah. Beliau juga mengunci dan menyempurnakan apa yang telah dimulai sejak Nabi Adam hingga Nabi Isa.

Syariat yang Berlaku Sepanjang Zaman

KH. Marpu menegaskan bahwa makna Khatamin Nabiyyin berarti tidak diperlukan lagi nabi atau rasul baru. Beliau menggambarkan bahwa seandainya dunia masih berlangsung seribu atau sejuta tahun lagi, atau seandainya ditemukan benua ketujuh, syariat yang berlaku tetap ajaran Nabi Muhammad SAW. Yang hadir setelah Nabi adalah para ulama sebagai pewaris beliau, yang menjelaskan hadis dan ajaran Nabi kepada umat.

Selawat Al-Fatih dan Doa Penutup

Di akhir kajian, jamaah bersama-sama melantunkan selawat Al-Fatih yang oleh KH. Marpu disebut sebagai selawat Imam at-Tijani. Beliau mengulasnya sebagai selawat besar karena memuji Nabi dengan sifat Al-Fatih yang luar biasa maknanya:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ

Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammadinil-fātihi limāughliq, wal-khātimi limā sabaq, nāshiril-haqqi bil-haqq, wal-hādī ilā shirāthikal-mustaqīm, wa ‘alā ālihi haqqa qadrihi wa miqdārihil-‘azhīm.

“Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan berkah kepada junjungan kami Muhammad, sang pembuka apa yang tertutup, penutup apa yang telah lalu, penolong kebenaran dengan kebenaran, dan pemberi petunjuk menuju jalan-Mu yang lurus, serta kepada keluarganya sesuai dengan kedudukan dan keagungannya.”

KH. Marpu berdoa agar berkah menyebut dua maqam ini, Al-Fatih dan Al-Khatam, hadir dalam kehidupan jamaah. Apa pun yang masih tertutup, baik pemahaman, hidayah, maupun solusi atas berbagai urusan, semoga dibukakan Allah. Segala yang telah dimulai pun semoga diakhiri dengan sempurna. Beliau juga berharap kajian ini menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Kajian bulanan ini menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman tentang kemuliaan Rasulullah SAW, maqam demi maqam. Insyaallah, kajian berikutnya akan melanjutkan pembahasan ke maqam ke-12, Ar-Raufur Rahim. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *