Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Senin, 5 Oktober 2026

Berita

Ngaji Surah An-Nazi’at, Kiai Marpu: Kematian Orang Beriman Dicabut dengan Kasih Sayang

Oleh Fajar Maritim3 Oktober 20265 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, mengupas tafsir Surah An-Nazi’at dalam pengajian rutin Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat. Pengajian digelar di Aula Ponpes Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Rabu (30/9/2026).

Pengajian ini bagian dari rangkaian Tafsir Juz ‘Amma Kontemporer. Kiai Marpu mengawali kajian dengan pembacaan Surah An-Nazi’at. Surah ini tergolong Makkiyah dan terdiri atas 46 ayat.

Dalam paparannya, Kiai Marpu menegaskan bahwa ayat-ayat pembuka surah ini bukan sekadar menggambarkan peristiwa kematian. Ayat-ayat itu juga membuka ruang bagi para guru untuk merenungkan kondisi jiwa mereka sendiri.

Basmalah yang Memiliki Makna Khusus

Kiai Marpu memulai dengan kaidah bahwa basmalah di awal setiap surah memiliki makna tersendiri sesuai konteks surahnya. Menurutnya, 114 basmalah tidak semuanya bermakna sama.

Beliau mencontohkan dengan penafsiran seorang mufasir Maulana Syekh Ala atas basmalah Surah An-Nazi’at:

  • Bismi dimaknai sebagai pernyataan Allah bahwa Dia mencabut arwah orang-orang kafir melalui malaikat, sekaligus mencabut kekuasaan mereka dari singgasana.
  • Ar-Rahman dimaknai sebagai rahmat Allah yang mencabut dendam dan kebencian dari dada kaum mukminin. Hal ini selaras dengan firman-Nya dalam QS. Al-A’raf ayat 43:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ
Wa naza’nā mā fī ṣudūrihim min ghillin.
“Dan Kami cabut segala rasa dendam yang ada di dalam dada mereka.”

  • Ar-Rahim dimaknai sebagai kasih sayang Allah kepada orang-orang yang berbuat baik. Nyawa mereka dicabut dengan rahmat-Nya.

Lima Sumpah di Awal Surah

Kiai Marpu kemudian membahas lima sumpah Allah di awal surah:

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا ۝ وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا ۝ وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا ۝ فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا ۝ فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا
Wan-nāzi’āti gharqā. Wan-nāsyiṭāti nasyṭā. Was-sābiḥāti sabḥā. Fas-sābiqāti sabqā. Fal-mudabbirāti amrā.
“Demi (malaikat) yang mencabut dengan sekeras-kerasnya, demi yang mencabut dengan lemah lembut, demi yang turun dari langit dengan cepat, dan yang mendahului dengan kencang, lalu yang mengatur urusan.” (QS. An-Nazi’at [79]: 1–5)

Secara bahasa, ia menjelaskan, an-nāzi’āt berarti yang mencabut dengan keras, sedangkan an-nāsyiṭāt berarti yang mencabut dengan halus dan lembut. As-sābiḥāt bermakna yang berenang, yakni turun dengan cepat dan mudah membawa perintah Allah. As-sābiqāt adalah yang bergegas membawa ruh orang beriman menuju surga. Adapun al-mudabbirāt adalah yang mengatur urusan.

Menurut Kiai Marpu, penggunaan kata kerja turunan (masdar) seperti gharqan, nasyṭan, dan sabḥan memiliki tiga fungsi penguat. Pertama, menegaskan bahwa peristiwanya benar-benar terjadi. Kedua, menegaskan kualitasnya yang melampaui standar. Ketiga, menegaskan caranya.

Dalam menjelaskan perbedaan “keras” dan “lembut” itu, ia menyelipkan penjelasan bahasa Sunda dengan gaya khasnya. Ia mencontohkan kata ngadudut, yaitu mencabut dengan menarik paksa. Menurutnya, ada makna yang lebih tepat terwakili oleh bahasa daerah.

Malaikat, Bintang, atau Pasukan Perang?

Kiai Marpu menyebut para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud lima sumpah itu. Ada yang menafsirkannya sebagai malaikat, bintang, kuda perang, atau pasukan perang. Menurutnya, semua penafsiran itu dapat diterima selama didukung kaidah bahasa.

“Penafsiran hanya salah kalau di pintu pertama, secara bahasa, sudah tidak masuk,” ujarnya.

Beliau mengutip pandangan bahwa setiap mufasir menyusun tafsirnya sesuai ilmu yang dicapainya, dan hal itu menunjukkan luasnya makna kalam Allah.

Kiai Marpu juga membedakan antara menafsirkan dan meriwayatkan tafsir. Ia mengaku dirinya sedang menyampaikan penafsiran para ulama, bukan menafsirkan sendiri.

“Saya bukan mufasir. Saya membacakan penafsiran ini,” katanya. Menurutnya, orang yang hanya mengutip pendapat tafsir A dan tafsir B sedang meriwayatkan tafsir, bukan menafsirkan.

Mengapa Ruh Orang Kafir Dicabut dengan Keras?

Salah satu bagian yang paling banyak dibahas adalah perbedaan cara pencabutan nyawa orang kafir dan orang mukmin. Menurut Kiai Marpu, setiap orang yang akan dicabut nyawanya melihat tempat kembali yang disiapkan untuknya.

Orang yang mengingkari akhirat akan melihat neraka dengan nyata, sehingga rohnya enggan keluar dan harus ditarik paksa. Sebaliknya, orang beriman melihat surga sehingga hatinya bertambah bahagia dan rindu. Itulah yang disebut husnul khatimah.

Beliau menyebut Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa keadaan itu menjadi awal azab bagi orang kafir.

Kiai Marpu menggambarkannya dengan perumpamaan anak kecil yang asyik bermain di pantai. Saat diajak pulang, ia menolak sehingga harus dibujuk atau dipaksa, sedangkan anak yang sudah dewasa mudah diajak pulang karena sadar waktunya habis.

Beliau juga meluruskan pemahaman soal rasa sakit. Menurutnya, orang beriman bukan tidak mengalami sakaratul maut, tetapi rasa sakitnya tidak dominan terasa karena bahagia lebih menguasai.

“Tidak ada sakit dan tidak merasakan sakit itu beda,” tuturnya.

Kiai Marpu mengajak jamaah berdoa agar termasuk golongan yang dicabut nyawanya dengan lembut. Ia juga mengingatkan bahwa Surah At-Takatsur telah menjanjikan manusia akan mengetahui akibat perbuatannya:

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
Kallā saufa ta’lamūn.
“Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui.” (QS. At-Takatsur [102]: 3)

Menurutnya, pengetahuan itu sudah dimulai sejak detik-detik pencabutan nyawa, saat seseorang masih berada di dunia.

Malaikat Pengatur Alam

Menurut Kiai Marpu, al-mudabbirāt adalah malaikat yang ditugasi mengelola urusan dunia atas perintah Allah. Dalam tafsir yang ia rujuk, terdapat empat malaikat yang disebut:

  • Jibril, mengurus angin dan pasukan bantuan, seperti pada Perang Badar.
  • Mikail, mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan.
  • Izrail, mengurus pencabutan nyawa.
  • Israfil, bertugas meniup sangkakala sebagai penanda akhir dunia dan awal akhirat.

Beliau mengaitkan penjelasan tentang Israfil dengan dua ayat berikutnya, yang menggambarkan tiupan pertama dan kedua:

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ ۝ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ
Yauma tarjufur-rājifah. Tatba’uhar-rādifah.
“(Ingatlah) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, diikuti oleh tiupan kedua.” (QS. An-Nazi’at [79]: 6–7)

Kiai Marpu menegaskan bahwa peran malaikat dalam mengatur alam bukan berarti mereka menjadi pengatur hakiki. Pengatur sesungguhnya tetap Allah, dan penyandaran itu bersifat majazi, yakni majaz ‘aqli. Menurutnya, di sinilah pentingnya belajar ilmu balaghah.

Beliau menekankan bahwa orang yang tauhidnya kokoh tidak akan terganggu oleh ungkapan-ungkapan seperti itu. Ia mengibaratkannya dengan seseorang yang menyiapkan acara besar dan banyak orang membantu. Hal itu justru menunjukkan kehormatan tuan rumah, bukan kelemahannya. Demikian pula, keberadaan para malaikat menunjukkan keagungan kekuasaan Allah, bukan kebutuhan-Nya.

Gambaran Jiwa Manusia

Kiai Marpu juga memaparkan penafsiran yang melihat enam sifat dalam ayat itu sebagai gambaran jiwa manusia. Alasannya, ayat ini ditujukan kepada manusia sebagai lawan bicara (mukhāṭab).

  • An-nāzi’āt: jiwa ahli ibadah, yang berjuang keras mencabut diri dari keburukan dan hawa nafsu.
  • An-nāsyiṭāt: jiwa ahli zuhud, yang melepaskan diri dari keburukan dengan ringan. Sifat ini juga dapat dimaknai sebagai semangat yang bergairah menuju makna, bukan berhenti pada kulit atau kemasan.
  • As-sābiḥāt: jiwa para ulama, yang berenang di lautan ilmu, cahaya, rahmat, dan hikmah Allah.
  • As-sābiqāt: jiwa para wali dan arifin, yang bersungguh-sungguh naik tingkat (maqamat) menuju Allah SWT.

Menurutnya, perbedaan itu dapat dilihat pada kehidupan sehari-hari. Ada orang yang mudah berhenti dari kebiasaan buruk, ada pula yang harus bersusah payah.

Kiai Marpu menutup pemaparannya dengan menyebut pembahasan itu masih sebatas ilmu zahir. Ia berharap para guru mengulang-ulang pemaknaan surah-surah pendek yang sudah mereka hafal, sedangkan tadabburnya adalah anugerah dari Allah SWT.

Pengajian ditutup dengan doa bersama. Kiai Marpu memimpin doa untuk keberkahan dan kesehatan putra-putri salah seorang guru, serta mendoakan para guru yang berharap dikaruniai keturunan agar dimudahkan oleh Allah SWT. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *