Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Selasa, 6 Oktober 2026

Berita

Dunia Itu Ladang Amanah, Bukan Tuan: Pesan Zuhud dalam Pengajian Umum Sabtu Al-Muhajirin Satu

Oleh Fajar Maritim4 Oktober 20266 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

ALMUHAJIRIN— Pengajian Umum Sabtu Al-Muhajirin Satu kembali digelar di Aula Syaik Datul Kahfi, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Sabtu (3/10/2026). Kajian ini diasuh langsung oleh Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhiddin Ilyas, MA.

Pengajian dibuka dengan lantunan doa, tawasul, dan pembacaan Al-Fatihah. Kajian kemudian berlanjut pada kitab Riyadhus Shalihin, bab ke-55 tentang zuhud.

Kiai Marpu menegaskan bahwa zuhud tidak akan dipahami dan diamalkan dengan benar tanpa memahami hakikat dunia. “Kalau tidak paham apa itu dunia, definisinya tentang zuhud pasti keliru,” ujarnya. Menurutnya, jamaah semestinya pulang dari pengajian dengan pemahaman baru tentang dunia.

Secara bahasa, katanya, dunya punya dua arti. Pertama, yang paling dekat, paling terlihat, dan paling terasa, lawan dari akhirat yang belum terlihat. Kedua, yang paling rendah dan hina.

Dunia: Manis, Hijau, dan Menguji

Kajian dibuka dengan hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Said Al-Khudri:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ

Innad-dunya hulwatun khadhirah, wa innallaha ta’ala mustakhlifukum fiha fayanzhuru kaifa ta’malun, fattaqud-dunya wattaqun-nisa’.

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Allah menjadikan kalian pengelolanya, lalu melihat bagaimana kalian berbuat. Maka waspadalah terhadap dunia dan waspadalah terhadap perempuan.” (HR. Muslim)

Kiai Marpu mengurai hadis ini dalam beberapa poin.

Dunia memikat seluruh indra. “Manis” mewakili lidah dan “hijau” mewakili mata. Dunia memang diciptakan menarik, sehingga manusia tergoda untuk mencicipinya.

Manusia adalah pengelola, bukan hamba dunia. Merujuk firman Allah tentang penciptaan khalifah di bumi, ia menyebut tugas manusia adalah mengelola dunia. Persoalannya bukan memiliki atau tidak, melainkan siapa yang mengendalikan. “Kalau kita menguasai dunia, kita merdeka. Mau disimpan, mau disedekahkan, terserah kita. Tapi kalau dunia menguasai kita, kita jadi budaknya,” tuturnya. Ia mencontohkan pemilik warung yang tetap merdeka salat dan mengaji, berbeda dengan yang cemas telat buka atau kurang laba sampai mengorbankan ibadah.

Dunia sedang dinilai Allah. Karena itu perintahnya fattaqud-dunya: waspada. Menurut Kiai Marpu, yang diwaspadai bukan bendanya sehingga harta harus dibuang, tetapi akibatnya, yaitu jangan sampai dunia membuat kita lupa akhirat. “Itulah takwa menurut hadis ini: menjadikan dunia untuk tujuan akhirat. Inilah zuhud,” katanya. Harta yang banyak tidak masalah bila ibadah tidak berkurang, bahkan makin banyak sedekahnya. Bahayanya muncul ketika sawah, kebun, atau toko yang meluas membuat salat berjamaah dan pengajian tertinggal. Dunia, ujarnya, adalah kendaraan menuju akhirat, dan kita yang harus mengendarainya.

Soal “waspadai perempuan”. Kiai Marpu meluruskan bahwa frasa wattaqun-nisa’ bukan ajaran membenci perempuan. Maksudnya, kecintaan kepada pasangan dan keluarga, yang dalam Al-Qur’an disebut pertama dalam daftar kesenangan dunia, jangan sampai membuat orang permisif dan membiarkan pasangan atau anak dalam kekeliruan karena takut tersinggung. Hal yang sama berlaku bagi istri terhadap suami. Pesannya, cintai pasangan dengan dasar takwa dan saling mengingatkan dengan cara yang baik.

“Tidak Ada Kehidupan Kecuali Kehidupan Akhirat”

Hadis berikutnya dari Anas bin Malik (muttafaq ‘alaih), yang disabdakan Rasulullah SAW saat para sahabat menggali parit dalam Perang Khandaq:

اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ

Allahumma la ‘aisya illa ‘aisyul akhirah.

“Ya Allah, tidak ada kehidupan yang sesungguhnya kecuali kehidupan akhirat.”

Kiai Marpu menceritakan konteksnya. Perang Khandaq, atau Ahzab, adalah perang koalisi Quraisy dan kelompok Yahudi Madinah, sekaligus perang besar terakhir Quraisy. Parit yang digagas Salman Al-Farisi digali di tanah berbatu, menurut penuturannya selebar sekitar 13 meter dan sedalam 7 meter. Ketika sebongkah batu besar menghalangi galian, Rasulullah yang tengah berpuasa dan mengganjal perutnya dengan batu memukulnya tiga kali hingga hancur, dengan percikan api yang memperlihatkan negeri-negeri yang kelak ditaklukkan.

Menurut Kiai Marpu, kalimat itu menjadi penghibur sahabat yang lelah. Beliau juga mengucapkannya saat Haji Wada, ketika kemenangan sudah diraih dan pengikut sangat banyak. Maknanya, ucapan yang sama menjaga hati di dua keadaan. Saat susah, ia menenangkan. Saat berjaya, ia mencegah terlena.

Beliau berpesan kepada para pengelola lembaga, guru, dan pengurus pesantren agar menanamkan prinsip ini saat letih mengurus santri dan jamaah. “Lelah di dunia itu sebentar. Hidup yang sebenarnya di akhirat.”

Tiga Pengantar Jenazah, Satu yang Tinggal

Hadis Anas bin Malik lainnya (muttafaq ‘alaih):

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ؛ يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Yatba’ul mayyita tsalatsah: ahluhu wa maluhu wa ‘amaluh, fayarji’u itsnani wa yabqa wahid; yarji’u ahluhu wa maluhu wa yabqa ‘amaluh.

“Jenazah diikuti tiga hal: keluarga, harta, dan amalnya. Dua kembali, satu tetap tinggal bersamanya: keluarga dan hartanya kembali, amalnya yang tinggal.”

Menurut Kiai Marpu, harta yang ikut mengantar hanya sebagian kecil, seperti biaya pengurusan jenazah yang nilainya hanya ratusan ribu rupiah, sebanyak apa pun tabungan almarhum. Keluarga dan harta memang dibutuhkan, tetapi jangan sampai membuat amal terabaikan. Ia juga mengingatkan bahwa orang yang sudah wafat tidak tahu lagi bagaimana nasib harta dan keluarganya, sementara amal yang kerap dilalaikan justru satu-satunya yang menyertai.

Dicelupkan Sekejap di Neraka dan Surga

Kajian dilanjutkan dengan hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik tentang dua orang pada hari kiamat. Orang pertama adalah penduduk dunia yang paling nikmat hidupnya tetapi ahli neraka. Ia dicelupkan sekali ke neraka, lalu ditanya apakah pernah merasakan kebaikan. Jawabnya: “Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku.” Orang kedua adalah yang paling menderita di dunia tetapi ahli surga. Ia dicelupkan sekali ke surga, lalu ditanya apakah pernah merasakan kesusahan. Jawabnya: “Tidak, demi Allah.”

Kiai Marpu menyimpulkan bahwa nikmat dunia tak sebanding dengan siksa akhirat yang paling ringan, dan derita dunia tak ada artinya di hadapan nikmat surga. Jika mendapat kenikmatan, ingatlah bahwa ia bisa menjadi sebab neraka bila melalaikan. Jika sedang kesulitan, bersabarlah, sebab bisa menjadi jalan menuju surga. Ia menyebut zuhud sebagai kemampuan membandingkan dunia dengan akhirat.

Beliau menegaskan bahwa hadis ini tidak mengajarkan meminta musibah. Ia mengisahkan Imam Syafi’i yang berdoa merelakan sakitnya, lalu dinasihati gurunya bahwa manusia bukan penahan ujian dan sebaiknya memohon ‘afiyah, perlindungan dan keselamatan. Doa untuk urusan dunia, kata Kiai Marpu, sebaiknya ditambah nilai akhirat: sehat agar kuat beribadah dan bermanfaat bagi umat, rezeki lapang agar bisa membiayai lembaga dan membantu sesama, serta karier naik agar maslahat bagi pesantren bertambah.

Dunia Hanya Sebasah Jari di Lautan

Hadis Al-Mustaurid bin Syaddad (HR. Muslim):

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

Mad-dunya fil akhirati illa mitslu ma yaj’alu ahadukum ishba’ahu fil yamm, falyanzhur bima yarji’.

“Tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti salah seorang kalian mencelupkan jarinya ke laut; lihatlah apa yang menempel ketika jari itu diangkat.”

Kiai Marpu menilai Rasulullah SAW piawai mengubah hal abstrak menjadi konkret lewat perumpamaan. Pelajaran ini, katanya, patut ditiru para guru. Ia mengaitkannya dengan sabda bahwa dua rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya. Amalan ringan pun bernilai besar jika bernilai akhirat.

Beliau memberi hitungan sederhana. Mengaji dua jam seminggu hanya sekitar 1,19 persen dari 168 jam dalam sepekan, tetapi nilainya jauh melampaui sisa waktu yang belum tentu bernilai akhirat. Demikian pula sedekah Rp2.000 yang pasti pahalanya dibanding uang jutaan yang disimpan tanpa kepastian.

Bangkai Anak Kambing yang Cacat

Hadis Jabir bin Abdillah (HR. Muslim) mengisahkan Rasulullah SAW melewati pasar dan menemukan bangkai anak kambing bertelinga cacat. Beliau bertanya siapa yang mau membelinya seharga satu dirham, lalu menawarkannya gratis. Para sahabat menolak, bahkan menyatakan kambing itu pun tak berharga andai masih hidup.

فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

Fawallahi, lad-dunya ahwanu ‘alallahi min hadza ‘alaikum.

“Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah daripada bangkai ini bagi kalian.”

Kiai Marpu mengatakan Rasulullah SAW selalu mengarahkan obrolan pada akhirat. Kiai Marpu mengaku mengalaminya sendiri bersama gurunya. Selama perjalanan enam jam menjemput gurunya dari bandara, tak sepatah pun obrolan tentang urusan dunia. Jamaah diajak memegang pesan itu: apa pun aktivitasnya, tanyakan apakah bernilai akhirat. Bila ragu, berhentilah sejenak.

Kajian ditutup dengan pengantar hadis Abu Dzar tentang emas sebesar Gunung Uhud, yang menurut Kiai Marpu akan dibahas pada pertemuan Sabtu berikutnya. Beliau mengingatkan bahwa ciri ilmu yang bermanfaat dan berkah adalah membuat pemiliknya semakin berorientasi pada akhirat. Pengajian ditutup dengan doa bersama untuk kebaikan agama, dunia dan akhirat, pribadi, keluarga, lembaga, dan masyarakat. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *