Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Jumat, 9 Oktober 2026

Berita

Pengajian Rabu Al-Muhajirin Pusat: Kiamat dan Kebangkitan dalam Surat An-Nazi’at

Oleh Fajar Maritim7 Oktober 20265 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN – Aula Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, kembali menjadi ruang pengajian bagi para guru pada Rabu, 7 Oktober 2026. Pengajian rutin pekanan ini diasuh langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

Seperti pekan-pekan sebelumnya, majelis dibuka dengan rangkaian zikir bersama. Jamaah membaca Al-Fatihah, ayat-ayat Al-Qur’an, doa, istighfar, shalawat, dan tahlil dengan tertib dan khidmat. Sebelum zikir dimulai, Kiai Marpu berpesan agar semuanya diniatkan sebagai pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Usai zikir, kajian dilanjutkan dengan tafsir Juz ‘Amma secara kontemporer. Pekan ini pembahasan sampai pada ayat-ayat setelah rangkaian sumpah dalam Surat An-Nazi’at.

Sumpah Allah dan Kepastian Hari Kebangkitan

Kiai Marpu mengingatkan bahwa lima ayat pertama Surat An-Nazi’at adalah rangkaian sumpah (qasam). Dalam kaidah bahasa Arab, sumpah selalu diikuti jawaban sumpah (jawabul qasam). Jawaban itu tersirat, yakni kepastian bahwa manusia akan dibangkitkan.

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا ۝ وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا ۝ وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا ۝ فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا ۝ فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

Wan-nāzi’āti gharqā. Wan-nāsyithāti nasythā. Was-sābihāti sabhā. Fas-sābiqāti sabqā. Fal-mudabbirāti amrā.

“Demi malaikat yang mencabut nyawa dengan keras, yang mencabut dengan lembut, yang bergerak cepat, yang mendahului dengan kencang, dan yang mengatur urusan.” (QS. An-Nazi’at: 1–5)

Beliau menjelaskan bahwa para malaikat itu bertugas mencabut nyawa orang kafir dengan keras dan mencabut nyawa orang mukmin dengan lembut. Ada pula yang membawa ruh orang beriman menuju surga, turun dengan cepat membawa perintah Allah, dan mengatur segala urusan atas izin-Nya.

Menurut Kiai Marpu, sumpah ini memakai fenomena yang nyata, yaitu kematian. “Kalau kalian melihat adanya kematian, maka sungguh kalian akan dibangkitkan nanti,” ujarnya.

Beliau juga membandingkan dua surat yang sama-sama membantah penolakan terhadap hari akhirat. Surat An-Naba’ menjawab dengan argumen kasat mata dan ilmiah, seperti penciptaan gunung dan alam semesta. Surat An-Nazi’at menjawab dengan menggambarkan keadaan peristiwa kebangkitan itu sendiri.

Dua Tiupan dan Hati yang Gelisah

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ ۝ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ

Yauma tarjufur-rājifah. Tatba’uhar-rādifah.

“(Kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncang, diikuti tiupan kedua.” (QS. An-Nazi’at: 6–7)

Kiai Marpu menerangkan bahwa ar-rājifah adalah tiupan pertama malaikat Israfil. Disebut demikian karena dampaknya, yaitu mengguncang dengan dahsyat dan mematikan seluruh makhluk. Secara harfiah yang berguncang adalah bumi, tetapi guncangan itu dinisbatkan kepada tiupannya. Beliau menyebut gaya bahasa ini sebagai majāz ‘aqlī.

Ar-rādifah adalah tiupan kedua yang mengikuti tiupan pertama. Beliau mengibaratkannya dengan dua orang yang berboncengan, sebab kata rādif berarti yang membonceng. Menurut beliau, ayat ini mengisyaratkan adanya jeda antara kedua tiupan, dan beliau menyebut jeda itu 40 tahun. Tiupan pertama mematikan, sedangkan tiupan kedua membangkitkan.

قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ ۝ أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ

Qulūbun yauma’idzin wājifah. Abshāruhā khāsyi’ah.

“Hati manusia pada hari itu sangat takut, pandangan mereka tertunduk hina.” (QS. An-Nazi’at: 8–9)

Kiai Marpu menjelaskan bahwa hati yang dimaksud adalah hati orang-orang kafir. Mereka yang dulu congkak menolak hari kebangkitan kini diliputi ketakutan, sebab apa yang diingkari ternyata nyata terjadi. Kata qulūb dalam bentuk nakirah menggambarkan hati yang gundah, resah, dan kacau.

Beliau juga menunjuk ekspresi ketakutan yang tampak pada mata. Orang yang sangat takut tidak lagi memiliki tatapan yang gagah. Dari sini beliau menarik satu pelajaran, yakni bahwa di akhirat manusia kembali diberi raga. Hal itu terbaca dari penyebutan abshār (mata), bukan hanya qulūb (hati).

Kata khāsyi’ah pun dibedakan maknanya. Pada orang kafir, ketakutan itu mengancam dan mencelakakan. Pada orang mukmin, takut dalam salat yang khusyuk justru mendatangkan ketenteraman. Beliau menggambarkannya dengan anak kecil yang ketakutan lalu menempel pada ibu atau ayahnya. Ia menangis, tetapi tetap merasa aman hingga tertidur dalam dekapan. Berbeda dengan orang yang merasa tidak punya pelindung, tangisnya menjadi siksaan.

Menjawab Logika Pengingkar Akhirat

يَقُولُونَ أَإِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ ۝ أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً ۝ قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ

Yaqūlūna a-innā lamardūdūna fil-hāfirah. A-idzā kunnā ‘izhāman nakhirah. Qālū tilka idzan karratun khāsirah.

“Mereka berkata, ‘Apakah kami benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan semula? Apakah setelah kami menjadi tulang-belulang yang hancur? Mereka berkata, ‘Kalau demikian, itu adalah pengembalian yang merugikan.'” (QS. An-Nazi’at: 10–12)

Kiai Marpu menyebut pertanyaan itu sebagai istifhām istihzā’ī, pertanyaan retoris untuk mengejek. Menurut beliau, pola pikir seperti ini tidak hanya muncul di masa lalu tetapi terus ada hingga sekarang. Beliau menceritakan bahwa belum lama ini seorang kerabat meminta jawaban atas pemikiran sebuah kelompok yang menyebarkan paham bahwa akhirat itu tidak ada, bahkan lewat konten di YouTube.

Menurut beliau, Al-Qur’an mengajarkan cara menjawabnya, yaitu dengan menunjukkan kelemahan logika mereka sendiri. Orang-orang kafir pada dasarnya tidak menolak penciptaan. Mereka mengakui bahwa dulu mereka tidak ada lalu ada, apa pun sebutan yang mereka berikan bagi Sang Pencipta. Namun mereka menolak hari kebangkitan.

“Ini logika yang kacau,” tegas beliau.

Jika kebangkitan dianggap sulit menurut akal manusia, maka penciptaan dari nol seharusnya lebih sulit lagi. Kebangkitan adalah menghidupkan kembali dari sesuatu yang sudah pernah ada. Beliau menambahkan bahwa sains pun menyebut adanya jejak, misalnya DNA dan tulang ekor yang tidak hancur. Bagi Allah sendiri, menciptakan dan membangkitkan sama mudahnya, tidak ada yang sulit.

Beliau menekankan bahwa orang kafir sebenarnya tanpa sadar telah mendustai akal sehat mereka sendiri.

Satu Teriakan, Seluruh Manusia Bangkit

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ ۝ فَإِذَا هُم بِالسَّاهِرَةِ

Fa-innamā hiya zajratun wāhidah. Fa-idzā hum bis-sāhirah.

“Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja, maka seketika itu mereka berada di permukaan bumi yang baru.” (QS. An-Nazi’at: 13–14)

Kiai Marpu menerangkan bahwa jawaban Al-Qur’an sangat ringkas dan tegas. Menghidupkan manusia kembali cukup dengan satu teriakan, atau satu tiupan Israfil, tanpa proses rumit seperti mengumpulkan dan menyambung tulang terlebih dahulu.

Beliau juga menyoroti kata idzā dalam ayat ini, yang menunjukkan sesuatu di luar dugaan, baik dari segi waktu, fenomena, maupun kecepatannya. Semuanya terjadi tiba-tiba, dan seketika itu manusia sudah berada di as-sāhirah.

As-sāhirah berarti yang tidak tidur atau begadang. Beliau menjelaskan bahwa padang mahsyar dinamai demikian karena pada hari itu tidak ada ketenangan yang membuat orang bisa tidur. Orang-orang kafir yang di dunia lalai dan hanya bersenang-senang akan merasakannya. Sebaliknya, orang mukmin yang bersungguh-sungguh di dunia akan memperoleh kebahagiaan di akhirat.

Beliau menegaskan bahwa yang tidak tidur sebenarnya adalah manusianya, bukan bumi. Penamaan itu dinisbatkan kepada bumi karena melekat pada peristiwanya, sama seperti ar-rājifah yang sebenarnya bukan nama hari. Bumi di hari itu pun bukan bumi yang kita pijak sekarang, sehingga standar dunia tidak bisa dipakai untuk memahaminya.

Pentingnya Memahami Majaz

Kiai Marpu menutup kajian dengan menekankan pentingnya memahami majāz dalam bahasa Al-Qur’an. Menurut beliau, pemahaman ini membantu memaknai ayat dengan mudah sehingga akidah tetap lurus. Beliau mencontohkan lafaz shirāthal mustaqīm. Secara makna, mustaqīm adalah sifat orang, tetapi dinisbatkan kepada jalan karena orang dan jalannya sudah menyatu.

“Mudah-mudahan punya manfaat untuk kita semua. Allah selamatkan kita di akhirat, dan Allah jadikan kita mampu membimbing diri sendiri dan orang lain untuk makin yakin pada kehidupan akhirat,” tuturnya. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *