Kiai Marpu: Kualitas Islam Seseorang Diukur dari Keberaniannya Meninggalkan yang Tak Penting


AL-MUHAJIRIN— Pengajian bulanan orangtua santri Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat berlangsung khidmat di Aula Syaik Datul Kahfi (SDK), Jalan Veteran, Purwakarta, Ahad (4/10/2026). Pengajian bertepatan dengan agenda penjengukan santri dan diisi langsung oleh Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA.
Pengajian dibuka dengan salam, tahmid, dan selawat, lalu dilanjutkan doa bersama yang dipandu pengasuh. Dalam sambutan pembuka, beliau menyampaikan harapan agar majelis ini menambah ilmu dan wawasan, sehingga hidup para orangtua santri kian bermakna dan bernilai akhirat.
Hadis Arbain sebagai Pilar Keislaman
Tema utama tausiyah bersumber dari hadis keempat puluh dua dalam Arba’in, yang oleh pengasuh disebut sebagai hadis pendek namun menjadi pilar keislaman:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Min ḥusni islāmil-mar’i tarkuhū mā lā ya’nīhi.
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat (tidak penting) baginya.”
Menurut Kiai Marpu, kualitas keislaman seseorang ditentukan sejauh mana ia berani meninggalkan perkara yang tidak penting. Persoalannya, kata beliau, batasan “penting” dan “tidak penting” bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Beliau mencontohkan hal yang dekat dengan para hadirin: ada yang menganggap mengaji dan menjenguk anak setiap bulan sebagai hal penting, tetapi mungkin ada pula yang menganggapnya tidak perlu dan memilih menjenguk nanti ketika anaknya tamat.
Ukuran “Penting” Menurut Imam Al-Ghazali
Agar ukurannya jelas, pengasuh merujuk kriteria yang dirumuskan para ulama, di antaranya Imam Al-Ghazali. Sesuatu dikatakan penting apabila ia berpengaruh dan bermanfaat bagi tercapainya tujuan akhir.
Beliau mengilustrasikannya lewat perjalanan para orangtua menuju pesantren. Tujuannya adalah menjenguk anak dan mengaji. Karena itu, menyiapkan kendaraan, bekal ongkos, dan menjaga kesehatan adalah hal penting karena mengantarkan pada tujuan tersebut. Sebaliknya, menghamburkan uang atau memforsir tubuh hingga kelelahan sehingga gagal berangkat termasuk menyibukkan diri dengan perkara yang tidak penting.
Hal yang sama berlaku bagi santri yang menghadapi ujian tengah semester. Mereka yang bertujuan lulus dengan nilai baik tentu menghafal dan beristirahat dengan cukup.
Lalu apa tujuan akhir seorang muslim? Pengasuh menegaskan jawabannya: selamat dan bahagia di akhirat. “Kalau sekadar sampai ke akhirat, semua orang akan mengalaminya. Yang kita kejar adalah selamat dan bahagia yang abadi di sana,” tuturnya.
Dari sini beliau menyimpulkan bahwa yang disebut penting adalah apa pun yang menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan akhirat. Pengasuh menekankan bahwa yang dilihat adalah fungsi, bukan bentuk jenis aktivitasnya. Hadis ini, menurut beliau, mengajarkan setiap muslim berpikir visioner, bukan untuk sepuluh tahun ke depan, melainkan sampai ke akhirat.
Dalam kerangka itu, para orangtua yang memondokkan anak, memperjuangkan biayanya, dan meluangkan waktu menjenguk demi membuat anak betah mengaji, disebut telah melakukan perkara yang penting. “Insyaallah termasuk muslim yang baik,” ujar beliau.
Mengubah Aktivitas Biasa Jadi Bernilai Akhirat
Kepada para hadirin yang memiliki beragam profesi, pengasuh mengajak menerapkan hadis ini sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Caranya dengan meluruskan niat dan orientasi, sehingga pekerjaan sehari-hari memiliki nilai akhirat, yaitu:
- menafkahi istri bagi seorang suami;
- membiayai anak;
- bersedekah; dan
- membantu tetangga serta kerabat.
Beliau mencontohkan seorang ibu yang berjualan meski penghasilan suami sudah cukup. Jualan itu menjadi penting jika dimaksudkan untuk bersedekah, menabung untuk umrah, membantu masjid, madrasah, dan fakir miskin, serta agar anak tidak bergantung pada orang lain.
Pengasuh juga menyinggung kegiatan santri seperti senam pagi dan bela diri. Beliau meminta para ustaz pembimbing menuntun santri berniat bersama sebelum latihan, yakni agar menjadi mukmin yang kuat, karena Allah lebih menyukai mukmin yang kuat. Kuat dalam ibadah, mengaji, melawan penyakit, dan melawan keburukan.
Sebaliknya, beliau mengajak para hadirin jujur menimbang kebiasaan seperti menggulir media sosial berjam-jam. Jika tidak ada nilai akhirat di dalamnya, dan masih terus dilakukan, itulah yang disebut menyibukkan diri dengan perkara yang tidak penting, sekalipun disukai.
Lima Hukum Islam sebagai Timbangan
Pengasuh memetakan ajaran hadis tersebut dengan lima hukum Islam:
| Hukum | Status |
|---|---|
| Wajib | Penting |
| Sunah | Penting |
| Haram | Tidak penting |
| Makruh | Tidak penting |
| Mubah | Netral, bergantung kaitannya |
Perkara mubah menjadi penting bila menjadi penguat yang wajib dan sunah, serta menjadi tidak penting bila menjadi penguat yang haram atau makruh. Beliau mencontohkan mandi. Bila dihubungkan dengan niat tampil bersih agar tidak mengganggu jamaah pengajian atau agar segar menempuh perjalanan, mandi menjadi bernilai penting.
“Dalam sehari, mayoritas aktivitas kita adalah mubah. Karena itu jangan sampai kita tiap hari sibuk dengan perkara yang tidak penting,” pesan pengasuh. Beliau menambahkan, setelah pengajian aktivitas mungkin tetap sama, tetapi niat, pola pikir, dan orientasinya yang berubah. Bila sebuah aktivitas sulit dicari kaitan akhiratnya, seorang muslim semestinya berani meninggalkannya.
Beragama Itu Tidak Sulit
Pengasuh juga menepis anggapan bahwa beragama itu sulit. Menurut beliau, yang wajib itu sedikit, yang sunah lebih banyak, dan yang mubah paling banyak. Beliau menyebut tidur sebagai contoh, karena durasinya kerap mengalahkan waktu ibadah, termasuk salat wajib bersama seluruh sunahnya.
Beliau lalu mengisahkan seorang Arab Badui yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kewajiban Islam. Setelah mendengar jawaban Nabi, ia berjanji hanya akan menunaikan yang wajib dan tidak menambahnya. Rasulullah SAW menjawab, sebagaimana disampaikan pengasuh, bahwa jika ia benar-benar menepati janjinya, ia akan masuk surga. Kisah ini, menurut beliau, menunjukkan betapa mudah dan lapangnya ajaran Islam.
Pengasuh turut mengkritik sikap sebagian orang yang menganggap membangunkan santri untuk salat Subuh sebagai tindakan yang “tidak ramah anak”. “Dalam Islam, tidur itu soal kualitas waktunya,” tegasnya.
Amal Rahasia ala Imam Syafi’i
Menjelang akhir tausiyah, Kiai Marpu menuturkan kisah Imam Junaid Al-Baghdadi, pemimpin ulama sufi, yang dimimpikan ulama lain setelah wafat. Ketika ditanya tentang amal yang menyelamatkannya di akhirat, beliau menjawab bukan banyaknya karya kitab, lamanya puasa, atau kesibukan keagamaan lain. Yang menyelamatkan beliau, katanya, adalah satu-dua rakaat singkat di akhir malam yang tidak diketahui siapa pun.
Dari kisah itu, beliau mengutip pesan Imam Syafi’i agar setiap orang memiliki khabi’ah, yakni amal rahasia. Amal itu bisa berupa salat malam, membaca Al-Qur’an, atau bantuan kepada pesantren dan santri, yang dilakukan tulus karena Allah dan tidak diumumkan atau dipamerkan, bahkan istri atau suami pun tidak mengetahuinya.
“Kalau semua amal kita diketahui orang, itu justru kebodohan. Sisakan satu amal yang hanya kita dan Allah yang tahu,” pesan beliau. Menurutnya, semakin rahasia sebuah amal penting, semakin kuat ia menjadi sebab keselamatan di akhirat.
Menutup pengajian, pengasuh memberikan “pekerjaan rumah” kepada seluruh hadirin: menyiapkan khabi’ah. Beliau akan menanyakannya pada pengajian bulan depan, dan hadirin tidak perlu menjawab secara terbuka bila memang dirahasiakan.
Doa untuk Putra-Putri Santri
Pengajian ditutup dengan pembacaan Al-Fatihah, selawat, dan doa bersama yang dipimpin pengasuh. Para orangtua diajak mendoakan anak-anak mereka agar dipahamkan agama, dikaruniai hati yang bersih, lisan yang teguh, serta dijauhkan dari keburukan dan penyakit. Beliau juga berharap kehadiran para orangtua menjadi amal saleh yang dibalas dengan keberkahan ilmu dan masa depan cemerlang bagi anak-anak mereka. Sebelum bubar, hadirin diberi kesempatan menyampaikan hajat masing-masing dalam doa, lalu ditutup dengan tahlil dan salam. (*)
