Syaikhuna KH Abun Bunyamin di Stadium Generale STAIM Purwakarta: Usia Bertambah, Semangat Belajar dan Mengabdi Jangan Surut


ALMUHAJIRIN– Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., mengajak sivitas akademika untuk mensyukuri nikmat umur dan kesehatan dengan belajar, mengajar, dan mengabdi kepada umat. Pesan itu disampaikan dalam taujihat pada stadium generale Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Muhajirin (STAIM) Purwakarta di Bale Sawala Yudhistira, Sabtu (10/10/2026).
Syaikhuna membuka taujihatnya dengan rasa syukur. Beliau mengaku masih aktif beraktivitas, mulai dari rumah, kebun, sawah, dan kampus hingga PBNU. “Saya teringat firman Allah SWT yang memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya,” tuturnya. Setelah nikmat umur, kata beliau, nikmat kesehatan adalah yang terbesar, dan cara merawatnya adalah dengan menggunakannya untuk kegiatan yang bermanfaat.
Empat Nikmat untuk Belajar
Menurut Syaikhuna, belajar dan mengajar adalah amalan yang semestinya tidak pernah putus. Belajar melibatkan empat nikmat sekaligus: mata untuk membaca, telinga untuk mendengar, tangan untuk menulis, dan otak untuk berpikir. Beliau juga mengingatkan bahwa usia 60-70 tahun sering dianggap masa menurunnya produktivitas, tetapi itu tidak berarti seseorang berhenti berkarya.
Beliau mencontohkan dirinya sendiri yang masih bepergian ke Jakarta, Bandung, bahkan Makkah. Kadang setelah tiba dari umrah pada waktu Subuh, paginya sudah kembali beraktivitas. “Jangan sampai bertambahnya usia membuat kita kehilangan semangat untuk belajar, mengajar, bekerja, dan berdakwah,” pesannya.
Lima Kegiatan yang Harus Dijaga
Syaikhuna menguraikan lima kegiatan yang perlu dilakukan secara konsisten. Pertama, belajar dan mengajar tanpa merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki. Kedua, bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga, anak-anak, dan para santri. Ketiga, disiplin waktu dan keuangan. Keempat, berdakwah dan menjaga hubungan sosial, seperti menjenguk orang sakit, bertakziah, dan menghadiri haul. Kelima, menjaga hubungan dengan berbagai kalangan.
Pada poin kedua, beliau berbagi prinsip hidupnya. Ia mengaku lebih banyak memberi kepada pondok daripada menerima dari pondok, dan menggunakan rezekinya untuk membangun pesantren, membeli tanah, serta menyediakan fasilitas pendidikan. “Kendaraan mungkin hanya digunakan oleh satu atau beberapa orang. Sementara ruang kelas dapat digunakan oleh banyak santri untuk belajar,” ujarnya. Karena itu, beliau memilih membangun fasilitas pendidikan daripada mengutamakan kemewahan pribadi.
Merangkul Ulama, Umara, Cendekiawan, dan Pengusaha
Pada poin kelima, Syaikhuna menegaskan bahwa pengabdian tidak bisa dijalani sendirian. Ulama, umara, cendekiawan, dan pengusaha, kata beliau, memiliki peran masing-masing dan perlu dirangkul.
Kepada ulama, kita diminta menghormati dan meminta doa serta nasihat, sebagaimana beliau lakukan saat hendak mendirikan pondok dengan mendatangi para tokoh agama. Dengan umara, hubungan baik membantu kelancaran urusan kelembagaan, selama dimanfaatkan untuk kebaikan dan bukan kepentingan pribadi. Cendekiawan dibutuhkan karena tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan pengetahuan sendiri. Beliau mencontohkan pengalamannya yang merasa kesulitan memahami matematika dan menyadari perlunya orang yang benar-benar ahli. Adapun pengusaha dapat diajak berpartisipasi lewat zakat, sedekah, dan bantuan lain sesuai kemampuan. Beliau mengingatkan sabda Rasulullah SAW bahwa silaturahmi berkaitan dengan kelapangan rezeki dan panjangnya umur.
Harapan Mengkaji Kitab Turats
Terkait STAIM, Syaikhuna berharap perguruan tinggi ini semakin maju. Beliau berkeinginan menyediakan waktu untuk mengkaji kitab-kitab turats bersama mahasiswa. “Kalaupun pada awalnya hanya ada lima orang yang mengikuti kajian, tidak menjadi masalah. Yang penting istiqamah,” katanya. Beliau membayangkan lulusan STAIM tidak hanya menyelesaikan sarjana dalam empat tahun, tetapi juga memiliki bekal keilmuan agama yang kuat, sehingga pendidikan tinggi dan tradisi keilmuan pesantren berjalan beriringan.
Ingin Meninggalkan Manfaat
Di bagian akhir, Syaikhuna mengingatkan bahwa tidak ada yang tahu berapa lama lagi umur diberikan. “Mungkin masih bertahun-tahun, berbulan-bulan, atau bahkan hanya beberapa menit lagi,” ujarnya. Beliau berharap bisa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat dan menjadi hamba yang saleh, yakni manusia yang berilmu, beriman, beramal, beribadah, dan berakhlak mulia. Beliau menutup dengan doa dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 83–85 agar dikaruniai hikmah, dikumpulkan bersama orang-orang saleh, dan dikenang dengan kebaikan.
Kepada para mahasiswa, beliau berpesan agar tidak hanya mengejar gelar akademik. “Jadikan ilmu sebagai sarana untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat,” pesannya. (*)
