Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Selasa, 13 Oktober 2026

Berita

Pengajian Bersama Orangtua Santri, Kiai Marpu Ajak Rapatkan Saf, Satukan Hati, dan Sempurnakan Adab Berdoa

Oleh Fajar Maritim12 Oktober 20266 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

ALMUHAJIRIN– Para orangtua santri putra Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat kembali berkumpul dalam Pengajian Bulanan Orangtua Santri bersama Pengasuh, Dr. KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA. Kegiatan berlangsung di Aula Syeikh Datul Kahfi (SDK), Jalan Veteran, Purwakarta, Minggu (11/10/2026).

Pengajian ini sekaligus menjadi ajang menjenguk putra-putra mereka. Para orangtua, santri, asatidz, dan wali kamar duduk dalam satu majelis. “Anaknya ngaji, orang tuanya juga ngaji, ustaz-ustaz juga ngaji, kita semua ngaji,” ujar Kiai Marpu.

Dibuka dengan Zikir Penjagaan dan Tilawah

Acara diawali dengan zikir Hisnul Hasin yang dibaca jamaah, yakni doa penjagaan bagi diri, keluarga, dan keturunan. Setelah itu, ayat-ayat Surah Ar-Rahman dilantunkan, lalu dilanjutkan dengan selawat yang dibaca jamaah sambil berdiri.

“Majelis Ilmu Adalah Surganya Allah di Muka Bumi”

Dalam sambutannya, Kepala Asrama Putra, Ustaz Aji Muhtaji, BSc, mengingatkan bahwa duduk di majelis ilmu adalah anugerah. “Majelis ilmu pengajian seperti ini ternyata adalah surganya Allah yang ada di muka bumi,” ujarnya.

Ia menyebut hadis yang menyatakan bahwa duduk sesaat di majelis ilmu, sekalipun tidak memegang pena dan tidak menulis satu huruf pun, lebih baik daripada memerdekakan seribu budak. Ia juga menuturkan kisah seorang penggali kubur di Suriah yang menyaksikan dua jenazah bersaudara. Yang pertama adalah seorang santri. Yang kedua adalah kakaknya, yang membiayai pendidikan sang santri. Keduanya mendapat kemuliaan dari Allah. Terdorong kisah itu, sang penggali kubur mulai mondok pada usia 40 tahun dan kelak menjadi ulama besar. Kisah ini ia sampaikan untuk menyemangati orangtua yang membiayai anak-anaknya menuntut ilmu.

Ustaz Muhtaji juga memaparkan agenda Oktober dalam rangka Hari Santri Nasional:

  • 15 Oktober: pelatihan public speaking SMP/MTs.
  • 15–17 Oktober: kemah santri SMA/MA di Kampus 2.
  • 16–17 Oktober: lomba Hari Santri SMP/MTs di Kampus 2.
  • 19–21 Oktober: kemah santri SMP/MTs di Kampus 5 Wanayasa.
  • 21 Oktober: tasmi’ 30 juz SMA/MA.
  • 22 Oktober: upacara gabungan se-direktorat Al-Muhajirin Pusat.
  • 23 Oktober: ziarah masyayikh dan muhadharah kubro gabungan santri putra dan putri.
  • 24 Oktober: khataman kitab satu hari di masjid, dan malam harinya konser musik islami dari tingkat PAUD hingga STAI.
  • 19–26 Oktober: Olimpiade Sirah Nabawiyah tingkat nasional (technical meeting 19 Oktober, penyisihan daring 21 Oktober, semifinal 24 Oktober, final 26 Oktober).

Ia turut menyampaikan sejumlah prestasi santri bulan ini. Fauzan Rahman Hidayat meraih juara 1 lomba tilawah tingkat kabupaten, sedangkan Muhammad Furqan juara 2 di cabang yang sama. Tim Nasyid Al-Muhajirin juara 1 tingkat kabupaten. Santri lainnya juga mengukir prestasi di cabang pencak silat tingkat provinsi dan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) bidang Fisika tingkat kabupaten.

Satu Santri, Dua Guru, Tiga Orangtua

Memasuki tausiah, Kiai Marpu menekankan pentingnya kesatuan hati dalam pendidikan. “Siapa tim itu? Satu santri, dua guru, tiga orang tua. Itu tim utamanya,” tuturnya. Menurutnya, jika ketiganya bersatu dalam satu visi dan misi, dan didukung seluruh komponen lembaga serta masyarakat sekitar, capaian pendidikan akan lebih cepat.

Beliau lalu menegaskan bahwa yang paling menyatukan hati adalah urusan yang bernilai akhirat. Kebersamaan yang dibangun lewat acara duniawi seperti memancing, healing, atau touring memang berdampak, tetapi sementara. “Kalau kebersamaan dijalin lewat santapan rohani, lewat ilmu, ngaji, ibadah berjamaah, dan zikir, itu akan betul-betul mengikat hati kita,” ujarnya.

Sebagai contoh, Kiai Marpu menyebut persahabatan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ketika ada orang meminta surat kepada Khalifah Abu Bakar, beliau menyuruhnya menemui Umar sambil berkata, “Dia adalah saya, saya adalah dia.” Persatuan para sahabat itu, kata Kiai, salah satunya dibina Rasulullah melalui saf salat.

وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
Wa lā takhtalifū fa-takhtalifa qulūbukum
“Janganlah kalian berselisih (dalam saf), karena hati kalian akan berselisih.”

Kiai juga mengutip hadis yang dinukil Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab khususnya tentang saf:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ
Innallāha wa malā’ikatahu yushallūna ‘alalladzīna yashilūnash-shufūf
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung (merapatkan) saf.”

Merujuk keterangan Imam as-Suyuthi, patokan saf yang rapat adalah bahu yang saling menempel secara nyaman, tanpa berdesakan dan tanpa mengejar-ngejar kaki jamaah di sebelah. Kiai mencontohkannya langsung bersama seorang santri. “Saya pun enggak canggung menempelkan bahu ke santri,” katanya. Ia mengajak para orangtua memulai kerukunan dari hal sederhana ini, mulai dari saf salat di lingkungan RT dan RW masing-masing.

Kajian Jawami’ ad-Du’a: Adab Berdoa

Kiai Marpu kemudian melanjutkan pengajian dari kitab Jawami’ ad-Du’a karya Syekh Abdussalam Syita, dengan tema adab berdoa.

Beliau membuka dengan menegaskan bahwa segala peristiwa berada dalam ketetapan Allah. “Tidak ada yang kebetulan, walaupun hanya setetes air. Tidak ada yang kebetulan, walaupun hanya selembar daun yang jatuh,” tuturnya. Lalu bagaimana dengan doa? Kiai mengutip ucapan yang ia sebut berasal dari Imam al-Ghazali:

لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ
Lā yaruddul-qadara illad-du’ā’
“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.”

Maknanya, jelas Kiai, bukan manusia mengubah keputusan Allah. Allah sendiri yang menetapkan bahwa suatu ketetapan dapat diubah-Nya bila hamba berdoa. Ia mengibaratkannya dengan tanda bintang pada iklan, yaitu “syarat dan ketentuan berlaku”. Syaratnya adalah berdoa.

Tiga adab sebelum berdoa. Pertama, bertobat dan mengembalikan hak orang yang dizalimi. Kiai membedakan istigfar dan tobat. Istigfar sekadar memohon ampun dan boleh dilakukan kapan saja. Tobat memiliki rukun: menyesali dosa, berhenti seketika, bertekad kuat tidak mengulangi, dan mengembalikan hak orang lain bila berkaitan dengan hak manusia. Ia mengingatkan bahwa tobat bicara tentang saat ini, bukan masa depan. “Jangan ditipu setan dengan alasan ‘saya belum bisa’,” pesannya. Kedua, memastikan makanan yang halal, baik zat maupun cara memperolehnya. Kiai mengutip hadis tentang musafir yang berdoa dengan penuh adab, tetapi makanan dan minumannya haram:

فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
Fa-annā yustajābu lidzālik
“Maka bagaimana (doanya) akan dikabulkan?”

Ketiga, menghadirkan hati dengan merasakan keagungan dan kebaikan Allah sebelum mulai berdoa.

Adab ketika berdoa. Dari 15 adab yang ada di kitab tersebut, Kiai baru menyampaikan lima.

  1. Memulai dan menutup doa dengan memuji Allah serta bershalawat kepada Nabi. Bagi yang belum mampu berbahasa Arab, minimal dengan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Doa para ulama dan doa dari Al-Qur’an dapat menjadi rujukan.
  2. Berdoa dengan gigih dan mengulang-ulang, minimal tiga kali. Kiai mengibaratkannya dengan anak kecil yang merengek meminta mainan. “Satu doa diulang tujuh kali lebih baik daripada tujuh doa dibaca sekali-sekali,” ujarnya. Ia mencontohkan doa Rabbana lā tuzigh qulūbanā ba’da idz hadaitanā, dan seorang ulama salaf yang sepanjang tawaf hanya mengulang Allāhumma ātinī al-hikmah.
  3. Merendahkan suara. Tidak berteriak seperti membaca puisi, tetapi juga tidak terlalu pelan hingga tak berucap sama sekali.
  4. Yakin pada ijabah dan memohon dengan pasti. Ijabah, kata Kiai, hadir dalam tiga bentuk: dikabulkan persis seperti yang diminta, diganti dengan dijauhkannya keburukan, atau disimpan sebagai pahala di akhirat. Ia mengutip ungkapan Abu Hurairah bahwa para sahabat tidak pernah meragukan ijabah, yang mereka pertanyakan justru kesungguhan doa mereka sendiri. Kiai juga mengingatkan agar tidak menambahkan “jika Engkau kehendaki” dalam permintaan. “Ya Allah, cerdaskan, sehatkan anak saya, ampuni dosa saya,” contohnya.
  5. Berdoa dalam keadaan idhthirar, yaitu merasa sangat butuh kepada Allah.

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ
Amman yujību al-mudhtarra idzā da’āh
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml [27]: 62)

Kiai menjelaskan bahwa keadaan terdesak ada dua, yakni saat benar-benar tak ada jalan lain, dan saat seseorang sengaja menanamkan kesadaran di hati bahwa hajatnya mustahil terwujud tanpa Allah. “Tidak mungkin ada yang bisa mencerdaskan anak saya kecuali Engkau, ya Allah. Bukan gurunya, bukan saya,” contohnya. Menurut Kiai, sikap ini berlaku di semua urusan. Ikhtiar tetap ditempuh, entah berobat ke dokter terbaik, menitipkan anak pada guru dan metode yang bagus, atau berdagang, tetapi hati tetap bersandar kepada Allah semata.

Sisa adab doa akan dilanjutkan pada pengajian berikutnya.

Doa Penutup dan Harapan untuk Anak-Anak

Sebelum menutup, Kiai Marpu mengajak jamaah langsung mempraktikkan ilmu yang baru dipelajari: beristigfar dan bertobat lebih dulu, memuji Allah, bershalawat, lalu menyampaikan hajat masing-masing, terutama untuk anak-anak. Di antara doa yang dipanjatkan:

اللَّهُمَّ فَقِّهْ أَوْلَادَنَا فِي الدِّينِ
Allāhumma faqqih aulādanā fid-dīn
“Ya Allah, pahamkanlah anak-anak kami dalam urusan agama.”

Pengajian ditutup dengan bersalaman antara orangtua dan para santri serta lantunan selawat. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *