Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Selasa, 13 Oktober 2026

Berita

Ketika Rasulullah SAW Tak Senang Menyimpan Emas Sebesar Gunung Uhud

Oleh Fajar Maritim12 Oktober 20267 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN– Jamaah kembali memadati Aula Syaikh Datul Kahfi (SDK) Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta pada Sabtu, 10 Oktober 2026, untuk mengikuti Ngaji Sabtu Muhajirin Satu. Pengajian rutin ini diasuh langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhiddin Ilyas, MA.

Kajian dimulai dengan zikir bersama, tawasul, dan pembacaan Al-Fatihah. Di awal pengajian, Kiai Marpu mengingatkan jamaah untuk meluruskan niat menuntut ilmu. Ilmu, menurut beliau, harus berujung pada pengamalan, yaitu ibadah dan akhlak yang membawa manfaat bagi sesama. Pekan ini kajian masih berada pada bab zuhud, dan beliau berharap ilmu yang dipelajari tiap Sabtu semakin mendekatkan jamaah kepada Allah dan Rasulullah SAW, serta menjadi sebab husnul khatimah.

Tiga Wajah Zuhud

Sebelum masuk ke hadis, Kiai Marpu merangkum pemahaman zuhud dari ayat dan hadis menjadi tiga hal yang mudah dipraktikkan:

  1. Tidak kabita (tidak silau) pada dunia. Dunia memang indah dan menarik, dan di situlah letak godaannya.
  2. Memilih akhirat bila dihadapkan pada dua pilihan. Memilih mengaji daripada urusan duniawi, memilih berjamaah, memilih membaca Al-Qur’an.
  3. Mengarahkan urusan dunia agar bernilai akhirat. Tubuh memang butuh makan, minum, pakaian, dan rumah. Namun semuanya diarahkan untuk kebahagiaan akhirat.

Dari sinilah, kata beliau, muncul ajaran taqallul, yakni meminimalkan dunia agar tidak mengganggu perhatian pada akhirat.

Teladan Rasulullah: Emas Sebesar Uhud

Hadis pertama diriwayatkan Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang masuk Islam sejak masa awal di Makkah. Ia bercerita tentang perjalanannya bersama Rasulullah SAW di Harrah Madinah, ketika keduanya berhadapan dengan Gunung Uhud. Rasulullah bersabda:

مَا يَسُرُّنِي أَنَّ عِنْدِي مِثْلَ أُحُدٍ هَذَا ذَهَبًا، تَمْضِي عَلَيَّ ثَالِثَةٌ وَعِنْدِي مِنْهُ دِينَارٌ، إِلَّا شَيْئًا أَرْصُدُهُ لِدَيْنٍ

Mā yasurrunī anna ‘indī mitsla Uhudin hādzā dzahaban, tamdhī ‘alayya tsālitsatun wa ‘indī minhu dīnārun, illā syai’an arshuduhu lidainin.

“Aku tidak senang memiliki emas sebesar Gunung Uhud ini, lalu setelah tiga hari masih tersisa satu dinar padaku, kecuali yang aku siapkan untuk membayar utang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kiai Marpu menjelaskan bahwa satu dinar kira-kira empat gram emas. Artinya, emas sebesar gunung pun akan dibagi-bagikan Rasulullah hingga habis. Beliau menekankan bahwa zuhud Rasulullah bukan karena miskin, melainkan karena hatinya tidak terpaut pada harta. Di antara kekhususan Nabi SAW, jika ada yang wafat meninggalkan utang, beliau yang melunasinya. Beliau juga tidak pernah menolak orang yang meminta, baik urusan dunia maupun akhirat.

Karena itu, kata Kiai Marpu, keliru bila ada yang menyebut Rasulullah miskin. “Yang mengatakan Rasul miskin, istigfar. Rasulullah itu zuhud,” tegas beliau.

Dalam kisah yang sama, Rasulullah juga bersabda bahwa orang-orang yang banyak harta justru paling sedikit pahalanya di hari kiamat, kecuali yang menyalurkan hartanya ke berbagai jalan kebaikan, dan jumlah mereka sedikit:

إِنَّ الأَكْثَرِينَ هُمُ الأَقَلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ… وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

Innal aktsarīna humul aqallūna yaumal qiyāmah… wa qalīlun mā hum.

“Sesungguhnya orang-orang yang paling banyak hartanya, merekalah yang paling sedikit pahalanya pada hari kiamat… dan sedikit sekali jumlah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kiai Marpu menggarisbawahi bahwa yang dipuji di sini adalah berderma melebihi kewajiban. Zakat memang wajib dan tidak lantas membuat seseorang disebut dermawan. Kekayaan yang baik adalah yang dijadikan jalan akhirat, dan pilihannya bukan miskin atau kaya, melainkan bagaimana keduanya bernilai akhirat. Orang kaya diminta ridha atas kekayaannya sebagai nikmat dari Allah. Orang miskin diminta ridha atas kemiskinannya. Beliau pun mengutip doa Imam Abu Hasan asy-Syadzili, yang memohon rezeki yang luas tanpa lelah dan tanpa kehinaan di hadapan manusia, dengan syarat tidak mengganggu akhirat.

Adab Abu Dzar dan Tauhid yang Terjaga

Dalam hadis itu, Abu Dzar diminta Rasulullah menunggu di tempatnya. Rasulullah pergi, lalu terdengar suara keras. Abu Dzar khawatir, tetapi teringat pesan beliau dan tetap diam. Kiai Marpu menyebutnya adab tingkat tinggi para sahabat, yaitu taat tanpa menafsirkan ulang perintah. Sepulangnya, Rasulullah memberi tahu bahwa suara itu adalah Jibril ‘alaihissalam, yang membawa kabar gembira:

مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِكَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Man māta min ummatika lā yusyriku billāhi syai’an dakhalal jannah.

“Siapa pun dari umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, ia masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Dzar bertanya, bagaimana bila ia berzina dan mencuri. Rasulullah menjawab, “Walaupun ia berzina dan mencuri.” Kiai Marpu menjelaskan bahwa orang beriman pada akhirnya masuk surga, meski sebagian ada yang disyafaati atau diproses lebih dahulu. Beliau juga menjelaskan mengapa hadis ini diletakkan Imam an-Nawawi dalam bab zuhud: dunia adalah perusak tauhid yang paling kuat. Husnul khatimah, yakni wafat dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan hanyalah Allah, hanya terjaga bila dirawat sepanjang hidup, bukan diharapkan muncul tiba-tiba saat sakaratul maut.

Lihat ke Bawah, Bukan ke Atas

Hadis berikutnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang disebut Kiai Marpu sebagai resep hidup bahagia:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Undzurū ilā man huwa asfalu minkum, wa lā tandzurū ilā man huwa fauqakum, fahuwa ajdaru allā tazdarū ni’matallāhi ‘alaikum.

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (Muttafaq ‘alaih)

Menurut Kiai Marpu, rasa kurang sering bukan datang dari honor atau rumah yang memang kurang, melainkan dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama dalam pergaulan. Beliau mengutip penjelasan Imam an-Nawawi bahwa serendah apa pun dunia seseorang, selalu ada orang yang lebih rendah darinya.

Beliau lalu berbagi pengalaman saat kuliah S2 di Jakarta. Ia pernah duduk di belakang sopir bus yang panasnya terasa dari mesin. Kekesalannya mereda ketika melihat penumpang lain berdiri bergelantungan di tiang bus. Tempat duduknya tidak berubah, hanya cara pandangnya yang berubah. Jamaah juga diajak tersenyum lewat sebuah dongeng tentang pedagang durian dan pedagang salak yang dihukum menelan dagangan masing-masing. Kiai Marpu menyebut dongeng itu rekaan, tetapi hikmahnya baik: kebahagiaan sering lahir dari perubahan pola pikir, bukan perubahan keadaan. Pelajaran kedua dari hadis ini adalah jangan iri pada dunia orang lain. Silakan ada yang lebih kaya atau lebih populer, abaikan saja.

Yang Miskin Pun Bisa Juara

Kiai Marpu kemudian menceritakan keluhan fakir miskin dari kalangan sahabat kepada Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah. Mereka merasa kalah dari orang kaya yang bisa bersedekah, berwakaf, dan berumrah dengan hartanya. Rasulullah mengajarkan zikir setelah salat: subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, dan Allahu akbar 33 kali. Ketika para sahabat kaya ternyata mengamalkannya juga, Rasulullah bersabda:

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

Dzālika fadhlullāhi yu’tīhi man yasyā’.

“Itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut Kiai Marpu, pesan ini mengajak setiap orang menerima posisinya masing-masing sambil sama-sama mengejar akhirat. Pada zaman Nabi, yang kaya menjadi teladan karena rajin berwakaf, bersedekah, dan membantu, sehingga yang miskin tidak sampai iri hati.

Jangan Jadi Hamba Dinar dan Dirham

Hadis terakhir adalah peringatan Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Bukhari:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

Ta’isa ‘abdud dīnāri wad dirhami wal qathīfati wal khamīshah, in u’thiya ridhiya, wa in lam yu’thā lam yardha.

“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba kain beludru, dan hamba pakaian mewah. Jika diberi ia ridha, jika tidak diberi ia tidak ridha.” (HR. Bukhari)

Kiai Marpu menegaskan bahwa yang dikecam bukan kekayaannya, melainkan perbudakan terhadap harta. Allah menciptakan bumi dan segala isinya untuk melayani manusia, bukan sebaliknya. Ciri hamba harta, katanya, adalah berat bersedekah, berat berwakaf, dan berat menafkahi keluarga, tetapi ringan membeli pakaian demi mode. Sebaliknya, orang yang menjadi “raja” bagi hartanya akan leluasa menggunakannya untuk kebaikan.

Beliau juga mengaitkannya dengan firman Allah dalam Surah Al-Fajr tentang manusia yang menilai kemuliaan dan kehinaan dari lapang atau sempitnya rezeki:

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۝ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Fa ammal insānu idzā mabtalāhu rabbuhu fa akramahu wa na”amahu fa yaqūlu rabbī akraman. Wa ammā idzā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqahu fa yaqūlu rabbī ahānan.

“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka ia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka ia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.'” (QS. Al-Fajr [89]: 15–16)

Menurut Kiai Marpu, sifat Allah tidak berubah. Allah tetap Ar-Rahman dan Ar-Rahim, entah rezeki sedang lapang atau sempit.

Kiai Marpu juga mengajak jamaah tidak ragu memohon kekayaan kepada Allah dan tidak merasa gengsi menunjukkan kebutuhan di hadapan-Nya. “Kepada manusia boleh jaga image, kepada Allah jangan. Tunjukkan kelemahan dan kefakiran kita,” pesannya.

Di penghujung kajian, beliau berharap ilmu zuhud ini diamalkan sedikit demi sedikit, walau selangkah demi selangkah. Pengajian ditutup dengan doa bersama agar ilmu yang dipelajari bermanfaat, rezeki diluaskan, dan hidup ditenangkan. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *