Muhadloroh Kubro Hari Santri 2026, Santri Al-Muhajirin Pusat Unjuk Kemampuan Dakwah dalam Empat Bahasa

AL-MUHAJIRIN — Panggung di Lapangan Al-Muchtar menjadi ruang bagi para santri untuk menyampaikan ilmu, mengasah keberanian, dan mengajak sesama kepada kebaikan. Dengan bahasa serta gaya penyampaian masing-masing, santri putra dan putri Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta tampil dalam Muhadloroh Kubro, Jumat malam, 23 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung di kompleks pesantren, Jalan Veteran, Purwakarta, tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026. Para santri terbaik dalam bidang dakwah mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan mereka berbicara di hadapan keluarga besar pesantren.
Penampilan menggunakan bahasa Indonesia, Arab, Inggris, dan Sunda memberi warna pada jalannya acara. Pesan tentang kesungguhan belajar, akhlak, perjuangan ulama, hingga tantangan kehidupan modern disampaikan bergantian. Sapaan, pantun, dan selingan humor turut menghidupkan suasana, disambut tepuk tangan serta seruan semangat dari para santri.
Rangkaian kegiatan juga diisi pembacaan ayat suci Al-Qur’an, selawat, serta penampilan seni dari santri putra dan putri.
Melalui mimbar tersebut, para santri menyampaikan pandangan mereka tentang arti menjadi bagian dari pesantren. Kebanggaan menyandang identitas santri perlu dibuktikan melalui ketekunan menuntut ilmu, penghormatan kepada guru, serta kesediaan memberi manfaat bagi agama dan bangsa.
Salah satu penampilan mengangkat kisah kesungguhan Imam Syafi’i dalam mencari ilmu kepada Imam Malik. Kisah itu disampaikan sebagai pengingat agar santri menghargai proses belajar dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Jangan pernah berharap akan hasil yang maksimal jika usaha kita masih minimal,” demikian salah satu pesan yang disampaikan dari atas panggung.
Dalam penampilan lainnya, santri mengajak pendengar melihat Hari Santri sebagai kesempatan memperbarui semangat pengabdian. Perjuangan generasi terdahulu diteruskan melalui belajar dengan sungguh-sungguh, membangun karakter, dan menjaga persatuan.
Pesan tersebut juga hadir dalam pidato berbahasa Inggris yang membahas warisan perjuangan santri dan tantangan zaman. Kemajuan teknologi, media sosial, serta derasnya arus informasi menuntut santri memperkuat ilmu dan menjaga akhlak.
Sementara itu, penampilan berbahasa Sunda mengangkat keteladanan KH. Hasyim Asy’ari, kecintaan terhadap ilmu, serta pentingnya mengamalkan pengetahuan dengan hati yang ikhlas. Ilmu diharapkan membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa.
Pesantren sebagai Tempat Berlatih Dakwah
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dalam arahan penutup menyampaikan apresiasi kepada para santri yang telah tampil. Beliau menegaskan bahwa pesantren memiliki bekal yang sangat lengkap untuk melahirkan mubalig dan pembicara yang baik.
“Pesantren adalah laboratorium terbaik, kawah terbaik untuk menggodok diri, mematangkan diri jadi penceramah, mubalig, motivator, dan bentuk penerapan public speaking lainnya,” tuturnya.
Menurutnya, kesempatan berbicara di hadapan banyak orang merupakan pengalaman berharga yang perlu dimanfaatkan. Melalui kegiatan pesantren, santri dapat membiasakan diri menghadapi pendengar sekaligus belajar menyampaikan gagasan secara terarah.
Pesantren juga memiliki kekayaan ilmu sebagai sumber materi. Kajian fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, hadis, hingga sejarah menyediakan banyak bahan yang dapat dikembangkan menjadi ceramah.
Kiai Marpu mengajak santri memulai dari kebiasaan sederhana: menyimak penjelasan guru, mencatatnya, memahami isinya, lalu menyampaikan kembali dengan bahasa sendiri.
“Guru kalian adalah perpustakaannya,” ujarnya.
Beliau mendorong santri agar rajin membaca dan memanfaatkan kitab-kitab yang dipelajari. Dengan kebiasaan tersebut, mereka akan memiliki bahan yang cukup untuk berbicara sekaligus menjaga keterhubungan materi dakwah dengan bimbingan guru.
Kuasai Materi, Sampaikan dengan Hati
Dalam arahannya, Kiai Marpu menempatkan persiapan dan penguasaan materi sebagai bekal utama seorang penceramah. Santri diminta menyiapkan pokok pembahasan, membuat rangkuman, serta membawa catatan kecil apabila diperlukan.
“Pastikan apa yang akan kalian sampaikan itu sudah dikuasai dengan baik. Kalau belum hafal, bawa catatan,” pesannya.
Beliau mengingatkan agar perhatian santri tidak habis untuk memikirkan pantun atau lelucon. Kemampuan menghidupkan suasana perlu tumbuh bersama pemahaman yang kuat terhadap isi ceramah.
Baginya, keberhasilan dakwah tidak cukup diukur dari ramainya respons pendengar. Yang lebih berarti ialah sejauh mana pesan dapat diterima dan menggerakkan hati.
“Satu pendengar yang mendengar dengan hatinya jauh lebih bermakna daripada seribu pendengar yang hanya dengan telinganya,” ungkapnya.
Karena itu, keikhlasan harus dilatih sejak di pesantren. Menyampaikan ilmu perlu dilandasi keinginan mendapat rida Allah, sehingga semangat berdakwah tetap terjaga meskipun pendengarnya sedikit atau belum memperoleh penghargaan.
Kiai Marpu juga mengarahkan agar kegiatan berikutnya menghadirkan tema yang lebih beragam, mulai dari fikih, tasawuf, tauhid, sirah, tafsir, hingga hadis. Setiap santri yang tampil diharapkan mendapat pendampingan ustaz agar persiapan dan ketepatan materinya semakin baik.
Kesempatan tampil pun diminta terus diperluas kepada santri lainnya. Dengan persiapan sejak jauh hari, Muhadloroh Kubro diharapkan menjadi proses pembinaan yang berkelanjutan bagi tumbuhnya keberanian, penguasaan ilmu, dan ketulusan berdakwah.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama setelah penyerahan sertifikat kepada para mubalig santri. (*)
