Ngaji Sabtu Muhajirin Satu, KH. Marpu Muhidin Ilyas Ajak Jamaah Menjadikan Dunia sebagai Bekal Akhirat


ALMUHAJIRIN — Kesibukan mencari nafkah dapat menjadi jalan ibadah ketika dijalani dengan niat yang benar. Melalui pekerjaan dan usaha, seseorang bisa memenuhi kebutuhan keluarga, menjaga diri dari meminta-minta, serta membantu sesama. Namun, kesibukan itu perlu terus diperiksa agar tidak membuat seseorang meninggalkan salat, menjauh dari majelis ilmu, dan melupakan akhirat.
Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dalam pengajian Ngaji Sabtu Muhajirin Satu di Aula Syaikh Datul Kahfi (SDK), Ponpes Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Melanjutkan pembahasan bab zuhud, KH. Marpu mengajak jamaah memahami hubungan antara kehidupan dunia dan persiapan menuju akhirat secara utuh. Ia mengingatkan bahwa pemahaman yang keliru terhadap zuhud dapat membuat seseorang menganggap pekerjaan, usaha, dan kepemilikan harta sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan.
Padahal, yang perlu diperhatikan adalah pengaruh semua itu terhadap hati dan ketaatan kepada Allah SWT.
“Hadis ini jadi ukuran, barometer untuk kita mengukur, mengevaluasi diri,” ujarnya ketika menjelaskan hadis tentang kesibukan dunia yang dapat menumbuhkan kecintaan berlebihan terhadapnya.
Menurutnya, setiap orang perlu memeriksa pekerjaan dan usahanya masing-masing. Pedagang, petani, pegawai, maupun pengusaha menghadapi pertanyaan yang sama: apakah kesibukan tersebut menjadi sarana menuju akhirat atau justru membuat kewajiban agama terabaikan?
Usaha yang tetap memberi ruang untuk salat, menuntut ilmu, membaca Al-Qur’an, menunaikan zakat, dan bersedekah dapat menjadi bagian dari kebaikan. Sebaliknya, ketika pekerjaan terus dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban, ada hal yang harus dibenahi.
Dalam penjelasannya, KH. Marpu mengutip penggalan Surah An-Nur ayat 37:
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
Artinya, “Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah.” (QS. An-Nur: 37).
Ayat tersebut, jelasnya, memberi gambaran tentang orang-orang yang tetap menjaga hubungan dengan Allah di tengah aktivitas ekonomi. Perdagangan berjalan, usaha dikerjakan, tetapi zikir dan kewajiban agama tetap terpelihara.
Beliau juga mengingatkan bahwa para sahabat memiliki pekerjaan dan mata pencaharian. Di antara mereka ada pedagang dan pemilik usaha. Kehidupan mereka memberi pelajaran bahwa bekerja dapat berjalan seiring dengan kesungguhan beribadah.
Karena itu, kehadiran dalam majelis ilmu di tengah kesibukan memiliki makna penting. Seseorang sedang melatih dirinya untuk menyediakan waktu bagi kebutuhan akhirat, sekaligus membuktikan bahwa pekerjaan tidak menguasai seluruh kehidupannya.
KH. Marpu kemudian menguraikan pentingnya menata niat dalam mencari rezeki. Mengacu pada penjelasan Imam Al-Ghazali yang disampaikannya dalam pengajian, pekerjaan hendaknya diarahkan untuk memperoleh penghasilan halal, memenuhi kewajiban nafkah, menjaga diri dan keluarga dari meminta-minta, serta membantu kerabat dan tetangga yang membutuhkan.
Dengan niat tersebut, penghasilan yang bertambah membawa tanggung jawab sekaligus kesempatan berbuat baik. Kelebihan rezeki dapat digunakan untuk meringankan kesulitan orang lain.
KH. Marpu turut menjelaskan kandungan doa Imam Abu Hasan Asy-Syadzili tentang rezeki. Dalam doa itu, permohonan agar rezeki dimudahkan dan diluaskan disertai harapan agar hati tidak tersibukkan secara berlebihan, terhindar dari kehinaan di hadapan makhluk, serta dijaga dari kekikiran setelah memperoleh rezeki.
“Ya Allah, jadikan rezeki saya yang gampang dan luas membantu saya mendekat dengan-Mu,” tuturnya saat menjelaskan makna doa tersebut.
Pembahasan kemudian berlanjut pada harta sebagai ujian. KH. Marpu mengutip hadis yang diriwayatkan dari Ka‘ab bin ‘Iyadh RA:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
Artinya, “Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi).
Beliau menjelaskan bahwa kesadaran terhadap ujian tersebut seharusnya membuat seseorang lebih siap mempertanggungjawabkan hartanya. Setiap rezeki yang diterima perlu diikuti kesadaran tentang kewajiban dan cara menggunakannya.
Dalam konteks itu, zakat dan sedekah menjadi latihan untuk melepaskan keterikatan hati terhadap kekayaan. Kesediaan mengeluarkan sesuatu yang dicintai menunjukkan kesungguhan seseorang dalam mendahulukan ketaatan kepada Allah.
“Maka zakat adalah bukti cinta. Sedekah adalah bukti cinta,” ungkapnya.
Latihan tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti memenuhi nafkah keluarga dengan baik, membantu kerabat, serta memperhatikan tetangga yang sedang kesulitan. Harta yang dimiliki menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat.
Selain membahas pekerjaan dan kekayaan, KH. Marpu juga menjelaskan pentingnya memenuhi kebutuhan dasar berupa tempat tinggal, pakaian, serta makanan dan minuman. Ia menegaskan bahwa zuhud harus dipahami dengan tetap memperhatikan kebutuhan tubuh.
“Tubuh kita adalah kendaraan kita. Hidup adalah perjalanan menuju akhirat,” ujarnya.
Tubuh perlu dirawat agar mampu digunakan untuk salat, menuntut ilmu, berzikir, dan menjalankan berbagai kebaikan. Tempat tinggal melindungi dari panas dan hujan, pakaian menutup aurat, sedangkan makanan memberi tenaga untuk beraktivitas.
Beliau juga mengajak jamaah menghidupkan rumah dengan kegiatan ibadah. Membaca Al-Qur’an, berzikir, melaksanakan salat sunah, serta mengadakan pengajian dapat membangun kedekatan rohani antara penghuni dan rumahnya.
Menurutnya, kenyamanan rumah tumbuh pula dari pengalaman beribadah di dalamnya. Karena itu, jamaah diajak memberikan ruang bagi kegiatan keagamaan di rumah sejak sekarang, termasuk dengan mengundang keluarga atau tetangga untuk mengaji bersama.
Menjelang akhir pembahasan, KH. Marpu menguraikan hadis riwayat Muslim dari Abdullah bin Asy-Syikhkhir RA mengenai manusia yang kerap menyebut, “Hartaku, hartaku.” Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW mengingatkan tentang harta yang dimakan hingga habis, pakaian yang dikenakan hingga usang, serta sedekah yang dikirim sebagai bekal akhirat.
Pesan itu kemudian dibawa ke dalam contoh yang dekat dengan keseharian jamaah. Ia mengajak mereka memeriksa pakaian di lemari dan makanan yang tersimpan di rumah. Pakaian yang masih layak tetapi tidak digunakan dapat diberikan kepada orang yang membutuhkan. Makanan yang berlebih juga sebaiknya segera dibagikan sebelum rusak.
Keengganan memberikan barang yang sudah tidak digunakan, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi diri. Dari hal sederhana tersebut, seseorang dapat melihat seberapa kuat hatinya masih terikat pada kepemilikan.
KH. Marpu menutup pembahasan dengan ajakan agar ilmu yang diperoleh dalam pengajian diterapkan dalam kehidupan. Menjaga waktu salat di tengah pekerjaan, memperbaiki niat mencari nafkah, menghidupkan rumah dengan ibadah, serta membiasakan berbagi menjadi langkah nyata untuk melatih zuhud.
Dengan demikian, kehidupan sehari-hari dapat dijalani sebagai kesempatan mengumpulkan bekal akhirat. Rezeki dicari dengan cara yang baik, kebutuhan dipenuhi secara wajar, dan manfaatnya dihadirkan bagi sesama. (*)
