Pengajian Bulanan Orang Tua Santri Al-Muhajirin Pusat, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah Apresiasi Semangat Wali Santri Terus Belajar


AL-MUHAJIRIN— Kehadiran para wali santri dalam Pengajian Bulanan Orang Tua Santri Al-Muhajirin Pusat menjadi bagian dari kebersamaan keluarga dan pesantren dalam menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu. Di tengah kesempatan menjenguk putra-putri mereka, para orang tua turut meluangkan waktu untuk bersilaturahmi dan mengikuti pengajian bersama.
Semangat tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Yayasan Al-Muhajirin sekaligus Direktur Al-Muhajirin Pusat, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., dalam sambutannya di Aula Syaikh Datul Kahfi (SDK), Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Ahad, 1 November 2026.
Kegiatan yang dirangkai dengan penjengukan santri putri tersebut menghadirkan pengajian bersama Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA.
Menyapa para wali santri dengan hangat, Dr. Hj. Ifa mengungkapkan kebahagiaannya dapat kembali bertemu. Beliau berharap silaturahmi yang terjalin membawa keberkahan, menguatkan persaudaraan, serta menambah semangat beribadah kepada Allah SWT.
“Indahnya, bahagianya bisa kembali bersilaturahmi. Mudah-mudahan silaturahmi kita menambah keberkahan nikmat sehat kita, sehingga senantiasa hari-hari kita penuh dengan nilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
Menurutnya, pertemuan bulanan tersebut menjadi kesempatan berharga bagi keluarga besar Al-Muhajirin untuk bersama-sama menambah ilmu. Orang tua, pengasuh, dan para pendidik memiliki harapan yang sama agar anak-anak tumbuh dengan bekal agama, akhlak, dan pengetahuan yang bermanfaat.
Dalam sambutannya, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah mengapresiasi semangat para wali santri dalam menambah ilmu. Semangat tersebut sejalan dengan harapan bersama untuk mendampingi anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah. Bekal pengetahuan membantu orang tua memahami cara mendidik, mengarahkan, dan mendampingi anak sesuai dengan tuntunan agama.
“Bagaimana kita bisa mendidik, mengawal, mendampingi anak-anak kita, maka yang harus lebih semangat belajar itulah kita sebagai orang tua,” ujarnya.
Beliau mengibaratkan proses mendidik seperti menuangkan air dari teko ke dalam gelas. Air dapat mengalir apabila teko tersebut telah terisi. Begitu pula ilmu yang terus dipelajari orang tua, menjadi bekal berharga untuk membimbing keluarga.
Dalam kesempatan itu, beliau turut menyoroti peran seorang ibu sebagai madrasatul ula, tempat pendidikan pertama bagi anak. Semangat untuk terus belajar dan memperbaiki diri menjadi bagian dari kasih sayang serta ikhtiar memberikan pendidikan terbaik bagi keluarga.
Menurutnya, pengajian bulanan menjadi salah satu kesempatan untuk merawat semangat tersebut. Orang tua dapat menambah pengetahuan sekaligus menguatkan batin, sehingga tumbuh keselarasan antara semangat belajar anak di pesantren dan dukungan keluarga di rumah.
“Pengajian setiap satu bulan sekali ini adalah bagian dari kita mengisi kekuatan batin kita, kekuatan rohaniah kita, ilmu kita, sehingga kita semua punya satu kekuatan yang sama bersama anak-anak kita untuk senantiasa menjunjung ilmu,” ungkapnya.
Beliau menjelaskan bahwa berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan ilmu. Begitu pula ikhtiar membangun keluarga yang sakinah serta mendampingi anak-anak menjadi pribadi yang saleh dan salehah.
“Mudah-mudahan semangat thalabul ilmi dari orang tua ini memancar kepada anak-anak kita untuk menjunjung nilai ilmu,” tuturnya.
Dr. Hj. Ifa juga mengajak jemaah merenungkan makna usia dan kebermanfaatan hidup. Menurutnya, kesempatan hidup yang Allah berikan dapat diisi dengan kebaikan yang manfaatnya terus berlanjut, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.
Beliau mencontohkan para ulama yang mewariskan ilmu melalui kitab, pengajaran, dan pemikiran. Salah satunya Imam Syafi’i, yang warisan keilmuannya terus dipelajari dan menjadi rujukan umat Islam dalam beribadah.
Melalui keteladanan tersebut, beliau mengajak para wali santri melihat bahwa nilai kehidupan dapat terus tumbuh melalui manfaat yang ditinggalkan. Ilmu yang diamalkan dan diajarkan kepada generasi berikutnya menjadi bagian dari warisan kebaikan itu.
Beliau kemudian mengingatkan kembali pesan tentang tiga bekal amal, yakni anak saleh yang mendoakan orang tuanya, ilmu yang bermanfaat, dan sedekah jariah.
Harapan memiliki anak yang saleh dan salehah menjadi bagian dari niat mulia para orang tua dalam memilih pendidikan pesantren. Anak-anak dibekali pemahaman agama, dibimbing dalam beribadah, dan didampingi agar tumbuh dengan kesadaran untuk berbakti kepada keluarga.
“Kita bekali mereka sekarang tentang bagaimana ibadah yang benar,” katanya.
Beliau berharap ilmu yang dipelajari para santri dapat terus diamalkan dan membawa kebaikan bagi orang tua. Dengan demikian, perjuangan keluarga dalam mendukung pendidikan anak menjadi bagian dari ikhtiar meninggalkan amal yang berkelanjutan.
Apresiasi juga disampaikan atas dukungan wali santri terhadap penyelenggaraan pendidikan di Al-Muhajirin. Beliau mendoakan agar kontribusi yang diberikan melalui pesantren menjadi amal jariah yang mendatangkan keberkahan.
Dukungan tersebut hadir dalam berbagai kebutuhan pembelajaran, mulai dari sarana pendidikan, listrik, air, hingga kegiatan para santri. Melalui fasilitas itulah anak-anak belajar, menghafal Al-Qur’an, berzikir, dan menjalankan ibadah sehari-hari.
Dr. Hj. Ifa berharap setiap kebaikan yang tumbuh dari kegiatan tersebut turut menjadi pahala bagi orang-orang yang mendukungnya.
“Mudah-mudahan Al-Muhajirin ini menjadi kendaraan kita bersama. Kami tidak merasa punya kekuatan, tidak merasa punya segalanya. Tapi kita punya cita-cita. Kita wujudkan bersama,” ujarnya.
Semangat kebersamaan itu juga menjadi dasar dalam mendampingi perkembangan santri. Beliau menekankan pentingnya hubungan yang selaras antara keluarga dan pesantren agar anak-anak memperoleh dukungan yang berkesinambungan.
Kehidupan di pesantren memberi ruang bagi santri untuk belajar bersosialisasi, menyesuaikan diri, dan menghadapi beragam pengalaman bersama teman. Dalam proses tersebut, para pembimbing terus mengawal, membina, serta mendampingi mereka.
Komunikasi antara wali santri dan wali kamar menjadi bagian penting dari pendampingan itu. Karena itu, beliau meminta para wali kamar siap hadir dalam pertemuan dengan orang tua untuk berbagi informasi mengenai perkembangan anak.
“Kita sama-sama menguatkan, saling menguatkan dengan niat perjuangan kita,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hj. Ifa turut mengungkapkan rasa syukur atas perkembangan kemampuan para santri. Beliau mencontohkan kegiatan interaksi daring bersama pihak Jepang yang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mempraktikkan kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Jepang.
Pengalaman tersebut diharapkan memperluas wawasan dan membangun keberanian santri untuk berkomunikasi. Penguasaan bahasa juga membuka jalan untuk menyampaikan ilmu dan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat yang lebih luas.
Beliau berharap bekal agama yang diperoleh di pesantren dapat berjalan seiring dengan kemampuan bahasa dan teknologi. Dengan kemampuan itu, santri memiliki kesempatan berkontribusi dalam dakwah, termasuk menghadirkan konten yang bermanfaat melalui media sosial.
“Kita berikan kemampuan bahasa, kemampuan teknologi, supaya mereka bisa berkontribusi terhadap dakwah global,” ujarnya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pengurus Organisasi Pelajar Pesantren Al-Muhajirin (OPPAL) yang bertugas dalam kegiatan pengajian. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari latihan tampil di hadapan umum, menjalankan tanggung jawab, dan mempersiapkan diri untuk menyampaikan ilmu di tengah masyarakat.
Menjelang akhir sambutan, Dr. Hj. Ifa menyampaikan rencana ziarah ke Mesir yang dilanjutkan dengan umrah pada Januari mendatang, dalam rangkaian semangat Milad Al-Muhajirin. Perjalanan tersebut diharapkan menjadi kesempatan mempererat hubungan keilmuan dan kecintaan kepada para ulama yang karya-karyanya dipelajari di pesantren.
Beliau menutup sambutannya dengan harapan agar kebersamaan keluarga besar Al-Muhajirin senantiasa diberi kelancaran dan keberkahan, serta menjadi jalan bagi kebahagiaan, keberhasilan, dan kesalehan anak-anak di dunia maupun akhirat. (*)
