Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Sabtu, 7 November 2026

Berita

KH. Marpu Muhidin Ilyas: Kiamat Bukan untuk Ditebak Waktunya, tetapi Dipersiapkan Bekalnya

Oleh Fajar Maritim6 November 20268 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

ALMUHAJIRIN– Kapan kiamat akan terjadi? Pertanyaan itu telah muncul sejak zaman Rasulullah SAW. Hingga sekarang, masih ada orang yang berusaha menghitung, memperkirakan, bahkan meramalkan kapan dunia akan berakhir.

Namun, menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, kesibukan mencari tahu waktu terjadinya kiamat justru dapat mengalihkan perhatian manusia dari persoalan yang jauh lebih penting, yakni mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Hal tersebut disampaikan KH. Marpu dalam Pengajian Rutin Hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat, yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Kabupaten Purwakarta, Rabu (4/11/2026).

Dalam pengajian tersebut, beliau melanjutkan kajian tafsir Juz ‘Amma, khususnya Surah An-Nazi’at, dengan merujuk pada kitab Al-Hayat Ath Thoyibah Ma’al Qur’an karya Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i.

Pembahasan kali ini berpusat pada gambaran kedahsyatan hari kiamat, pertanggungjawaban manusia atas amal perbuatannya, serta pentingnya zuhud dan perjuangan mengendalikan hawa nafsu.

Kiamat sebagai Bencana Terbesar

KH. Marpu membuka penjelasannya dengan menguraikan firman Allah SWT dalam Surah An-Nazi’at ayat 34:

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَىٰ

Fa idzâ jâ’atith-thâmmatul-kubrâ.

Artinya: “Maka apabila malapetaka besar (hari Kiamat) telah datang.”

Menurut beliau, istilah Ath-Thammatul Kubra menunjukkan suatu bencana yang kedahsyatannya melampaui kemampuan manusia untuk menghadapinya.

Dalam Surah ‘Abasa, hari kiamat disebut Ash-Shakhkhah, yang menggambarkan suara atau dentuman sangat keras. Sementara dalam Surah An-Nazi’at digunakan istilah Ath-Thammatul Kubra, yakni malapetaka terbesar.

Al-Qur’an juga menggunakan sejumlah istilah lain, seperti Al-Ghasyiyah, Al-Waqi’ah, dan Al-Qari’ah.

KH. Marpu menjelaskan, beragam penyebutan tersebut menunjukkan bahwa kedahsyatan hari kiamat terlalu luas untuk digambarkan dengan satu ungkapan bahasa manusia.

Beliau juga menguraikan keterkaitan penyebutan Ath-Thammatul Kubra dengan kisah Fir’aun yang telah dibahas dalam ayat-ayat sebelumnya.

Fir’aun telah diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, tetapi tetap menolak kebenaran, bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Keangkuhan tersebut menjadi gambaran tindakan manusia yang melampaui batas.

Ketika hari kiamat datang, segala bentuk kesombongan dan pengingkaran manusia akan berhadapan dengan kenyataan yang selama hidup di dunia mereka abaikan.

Semua Amal Akan Diingat Kembali

Pembahasan dilanjutkan pada Surah An-Nazi’at ayat 35–36:

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ مَا سَعَىٰ ۝ وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ

Artinya: “Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.”

KH. Marpu menerangkan bahwa manusia akan mengetahui dan menyadari seluruh perbuatannya. Apa yang pernah dilakukan selama hidup, baik maupun buruk, akan kembali hadir dalam ingatan secara terperinci.

Beliau menjelaskan adanya perbedaan antara kesadaran manusia ketika menghadapi sakaratul maut dengan kesadaran pada hari kebangkitan.

Saat sakaratul maut, seseorang mulai mengetahui gambaran keadaan yang akan dihadapinya. Sementara pada hari kebangkitan, kesadaran tersebut menjadi jauh lebih terperinci.

Perbuatan yang sebelumnya dilupakan, disangkal, atau dianggap sepele tidak lagi dapat diingkari.

Kesadaran itulah yang seharusnya mendorong manusia untuk berhati-hati dalam menjalani kehidupan, sebab setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang kelak harus dipertanggungjawabkan.

Zuhud dan Perjuangan Melawan Hawa Nafsu

Salah satu pembahasan penting dalam pengajian tersebut adalah makna zuhud yang dijelaskan melalui Surah An-Nazi’at ayat 37–41.

Allah SWT berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ۝ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۝ فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Artinya: “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya.”

Kemudian Allah SWT berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.”

KH. Marpu menjelaskan bahwa dua kelompok manusia tersebut memiliki orientasi kehidupan yang berbeda.

Kelompok pertama lebih mengutamakan kesenangan dunia hingga mengabaikan kehidupan akhirat. Sementara kelompok kedua memiliki rasa takut kepada Allah dan berusaha mengendalikan hawa nafsunya.

Menurut beliau, ayat wa nahan nafsa ‘anil hawa menjadi salah satu landasan penting dalam memahami zuhud, sekaligus konsep mujahadah dan riyadhah sebagaimana diterangkan Imam Al-Ghazali.

Zuhud berkaitan erat dengan kemampuan manusia menempatkan kesenangan dunia pada kedudukan yang semestinya, tanpa membiarkan keinginan tersebut menguasai dirinya.

KH. Marpu mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki hawa nafsu. Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang bukan terletak pada ketiadaan keinginan, melainkan pada kemampuannya mengendalikan keinginan tersebut.

Beliau mencontohkan bahwa perjuangan melawan nafsu dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti menunda keinginan yang tidak baik, membiasakan diri melakukan ibadah, dan terus melatih kedisiplinan.

Ketika seseorang berulang kali berusaha melawan dorongan buruk, perlahan akan terbentuk kemampuan untuk mengendalikan dirinya.

Proses tersebut tidak selalu mudah. Bahkan, seseorang bisa mengalami pergulatan batin sebelum akhirnya mampu menikmati ibadah yang semula terasa berat.

KH. Marpu mencontohkan pengalaman para ulama yang membutuhkan perjuangan panjang hingga mampu merasakan kenikmatan dalam menjalankan ibadah malam.

Beliau menegaskan bahwa perubahan diri memerlukan kesabaran dan latihan yang berkesinambungan. Tidak ada alasan untuk menyerah hanya karena pada tahap awal seseorang masih merasa berat menjalankan kebaikan.

Dari Nafsu Ammarah Menuju Mutmainnah

Lebih jauh, KH. Marpu menguraikan tahapan pengendalian nafsu, mulai dari nafsu ammarah, lawwamah, hingga mutmainnah.

Nafsu ammarah menggambarkan keadaan ketika seseorang masih dikuasai dorongan yang mengarah pada keburukan.

Ketika mulai tumbuh kesadaran untuk melawan dorongan tersebut, muncul pergulatan dan penyesalan dalam dirinya. Keadaan ini berkaitan dengan nafsu lawwamah.

Apabila perjuangan tersebut terus dilakukan, seseorang dapat mencapai keadaan jiwa yang lebih tenang, yakni mutmainnah.

Untuk memudahkan pemahaman, KH. Marpu memberikan contoh seseorang yang pada awalnya enggan mengikuti zikir bersama. Ia mungkin menghadiri kegiatan tersebut karena terpaksa, bahkan masih merasakan keberatan dalam hatinya.

Namun, apabila terus dibiasakan, keengganan tersebut perlahan dapat berubah menjadi penerimaan, hingga akhirnya ia menikmati kegiatan zikir.

Menurut beliau, perubahan itu memerlukan proses. Keadaan seseorang yang masih merasa berat menjalankan ibadah tidak berarti seluruh usahanya gagal.

Justru kesediaan untuk terus melawan dorongan buruk menjadi bagian penting dari perjalanan memperbaiki diri.

Dalam kesempatan itu, KH. Marpu juga mengingatkan bahwa manusia tidak mungkin sepenuhnya terbebas dari kesalahan.

Beliau mengutip hadis Rasulullah SAW:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Artinya: “Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertobat.”

Karena itu, beliau mengajak para guru agar tidak berputus asa ketika menyadari masih banyak kekurangan dalam dirinya.

Kesadaran terhadap kesalahan justru menjadi awal untuk melakukan perbaikan.

Menurut KH. Marpu, seseorang tidak mungkin membersihkan dirinya apabila tidak mengetahui bagian mana yang masih kotor.

Tobat menjadi pintu pertama dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah, karena di dalamnya terdapat kemauan untuk terus kembali dan memperbaiki hubungan dengan-Nya.

Zikir, Ketundukan, dan Pendidikan Hati

Dalam pengajian itu, KH. Marpu turut memberikan perhatian pada pentingnya zikir sebagai sarana melatih ketenangan jiwa.

Beliau mengingatkan para guru agar tidak memandang zikir semata-mata sebagai kegiatan melafalkan bacaan yang harus selalu dipahami secara terperinci pada saat dibaca.

Pemahaman terhadap makna bacaan tetap penting, tetapi zikir juga membutuhkan ketundukan hati kepada Allah.

Menurut beliau, seseorang terkadang terlalu sibuk memperhatikan aspek teknis bacaan hingga kehilangan perhatian terhadap penghayatan maknanya.

Hal serupa dapat terjadi dalam salat, ketika seseorang terlalu memusatkan perhatian pada kesalahan bacaan sehingga sulit menghadirkan kekhusyukan.

KH. Marpu juga memberikan contoh dalam membimbing anak-anak mengikuti kegiatan zikir.

Beliau mengingatkan agar pembimbing tidak terlalu sering menghentikan zikir hanya untuk menegur peserta yang mengantuk atau belum mampu mengikuti dengan baik.

Anak-anak yang masih dalam tahap belajar perlu diberikan kesempatan berada dalam suasana zikir, mendengar bacaan, dan membangun kebiasaan secara bertahap.

Teguran dan pembinaan tetap diperlukan, tetapi harus ditempatkan secara bijaksana agar kegiatan zikir tidak berubah menjadi suasana yang dipenuhi kemarahan.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi para guru tentang pentingnya kesabaran dalam proses pendidikan, terutama ketika membimbing peserta didik membangun kebiasaan beribadah.

Jangan Sibuk Menghitung Waktu Kiamat

Memasuki pembahasan ayat-ayat terakhir Surah An-Nazi’at, KH. Marpu mengulas pertanyaan manusia mengenai waktu terjadinya kiamat.

Allah SWT berfirman dalam ayat 42:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, ‘Kapankah terjadinya?'”

Pertanyaan itu kemudian dijawab melalui penegasan bahwa pengetahuan mengenai waktu terjadinya kiamat berada di sisi Allah.

KH. Marpu menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengarahkan perhatian manusia pada dua persoalan utama, yaitu kepastian terjadinya kiamat dan kewajiban mempersiapkan diri menghadapinya.

Menurut beliau, manusia tidak perlu menghabiskan waktu untuk menghitung atau menebak kapan kiamat akan terjadi.

Beliau mengingatkan kisah seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hari kiamat.

Dalam riwayat yang dibahasnya, Rasulullah justru mengarahkan perhatian penanya pada persiapan yang telah dilakukan.

“Apa yang sudah kamu siapkan?” demikian KH. Marpu menyampaikan inti jawaban Rasulullah dalam kisah tersebut.

Menurut beliau, pertanyaan itu memiliki makna mendalam. Sebab, mengetahui kapan kiamat akan terjadi tidak otomatis menjadikan seseorang lebih baik.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang memanfaatkan kesempatan hidup untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan ketakwaan.

KH. Marpu juga mengingatkan para guru agar tidak merasa harus menjawab setiap pertanyaan yang berada di luar jangkauan pengetahuan manusia, terutama mengenai perkara gaib yang tidak dijelaskan secara terperinci dalam Al-Qur’an maupun hadis.

Keberanian mengakui keterbatasan pengetahuan lebih baik daripada memaksakan jawaban yang tidak memiliki dasar.

Hidup di Dunia Terasa Begitu Singkat

Pada bagian akhir pengajian, KH. Marpu menjelaskan penutup Surah An-Nazi’at, ayat 46:

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

Artinya: “Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.”

Beliau menjelaskan bahwa kedahsyatan hari kiamat membuat manusia merasakan kehidupan yang sebelumnya dijalani begitu panjang seolah berlangsung sangat singkat.

Puluhan tahun kehidupan dunia, ketika dibandingkan dengan kehidupan akhirat, terasa seperti sebagian waktu dalam sehari.

Dari gambaran tersebut, KH. Marpu mengajak para guru merenungkan betapa berharganya setiap kesempatan yang diberikan Allah SWT.

Apabila kehidupan dunia begitu singkat, sementara kehidupan akhirat berlangsung abadi, maka manusia seharusnya lebih bersungguh-sungguh menggunakan waktunya untuk kebaikan.

Beliau mengingatkan agar manusia tidak menyia-nyiakan umur, tenaga, dan kesempatan yang dimilikinya untuk hal-hal yang menjauhkan diri dari keridaan Allah.

Pada akhirnya, KH. Marpu kembali menegaskan pesan utama dari rangkaian ayat yang dikaji: pembahasan hari kiamat semestinya membangkitkan kesadaran untuk beramal, bukan membuat manusia sibuk menebak waktu kedatangannya.

“Fokus kita adalah beramal, berbuat. Itu fokus kita. Dan itulah tujuan Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang adanya hari itu,” tegasnya.

Pengajian ditutup dengan harapan agar seluruh jamaah termasuk golongan manusia yang takut kepada Allah, mampu mengendalikan hawa nafsunya, serta memperoleh kebahagiaan kehidupan akhirat sebagaimana dijanjikan dalam Surah An-Nazi’at. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *