Al-Muhajirin Bersama P3M dan CCEP Indonesia Gelar Refreshment Pengelolaan Sampah Pesantren


ALMUHAJIRIN– Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Purwakarta, terus mengembangkan pengelolaan sampah di lingkungan pesantren. Setelah menjalankan sejumlah program seperti pemilahan sampah, budidaya maggot dan cacing tanah, hingga bank sampah, kini para santri mendapatkan pembekalan untuk memperkuat pengelolaan sekaligus menyiapkan regenerasi pengurus.
Pembekalan tersebut berlangsung melalui kegiatan Refreshment Program Manajemen Pengelolaan Sampah bagi santri baru dan pengurus Rumah Kelola Sampah Pesantren, Kamis, 5 November 2026, di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Kabupaten Purwakarta.
Kegiatan ini diselenggarakan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) bekerja sama dengan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA., Ketua Yayasan Al-Muhajirin Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., Direktur P3M KH. Sarmidi Husna, MA., perwakilan CCEP Indonesia, Adnan, jajaran kepala sekolah dan unit pendidikan, para ustaz dan ustazah, serta santri putra dan putri Al-Muhajirin.
Dalam tausiyahnya, Syaikhuna KH. Abun Bunyamin mengingatkan bahwa kebersihan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia. Lingkungan yang bersih akan menghadirkan kenyamanan, menjaga kesehatan, dan mendukung kegiatan belajar maupun ibadah.
Menurutnya, kehidupan pesantren saat ini harus mampu meninggalkan pandangan lama yang mengidentikkan santri dengan lingkungan kumuh, kotor, dan kurang terawat.
“Sekarang ini, pondok-pondok pesantren di Indonesia sudah tidak lagi berada pada masa ketika kebersihan dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting. Sudah bukan zamannya lagi kalau ada anggapan bahwa kehidupan di pondok pesantren identik dengan kotor, kumuh, atau tidak terurus,” ungkapnya.
Syaikhuna menegaskan bahwa menjaga kebersihan membutuhkan kesungguhan dan kedisiplinan. Sebab, lingkungan yang telah dibersihkan dapat kembali kotor apabila penghuninya tidak memiliki kebiasaan untuk merawatnya.
Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW.:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
Ath-thuhuru syathrul iman.
Artinya, “Bersuci adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim).
Menurut Syaikhuna, hadis tersebut mengingatkan umat Islam bahwa kesucian dan kebersihan memiliki hubungan erat dengan keimanan. Perhatian terhadap kebersihan semestinya tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Beliau mencontohkan kebiasaan membuang sampah kecil, seperti bungkus permen atau puntung rokok, yang sering dianggap sepele. Padahal, apabila seribu orang melakukan hal serupa, akan terkumpul seribu sampah yang harus dibersihkan.
Karena itu, beliau mengajarkan tiga kebiasaan sederhana kepada para santri. Pertama, membersihkan sampah yang dihasilkan sendiri. Kedua, bersedia mengambil sampah yang ditinggalkan orang lain. Ketiga, mengajak sesama untuk menjaga kebersihan lingkungan.
“Jangan sampai kita hanya menyuruh orang lain membersihkan lingkungan, sementara kita sendiri tidak mau mengambil sampah yang ada di depan mata,” pesannya.
Syaikhuna juga mengutip firman Allah SWT. dalam Surah Al-Muddatstsir ayat 4:
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
Wa tsiyabaka fathahhir.
Artinya, “Dan pakaianmu, bersihkanlah.”
Beliau menjelaskan bahwa perhatian terhadap kebersihan mencakup seluruh lingkungan kehidupan, mulai dari pakaian, kamar tidur, ruang belajar, kamar mandi, hingga saluran air di sekitar pesantren.
Bagi Syaikhuna, kebersihan perlu dijaga secara istiqamah. Santri harus dibiasakan hidup tertib dan disiplin agar lingkungan pesantren tetap sehat dan nyaman, baik ketika ada kegiatan maupun dalam keseharian.
Ketua Yayasan Dorong Gerakan Al-Muhajirin Green di Seluruh Unit Pendidikan
Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., menyampaikan bahwa kebersihan telah lama menjadi perhatian utama Syaikhuna KH. Abun Bunyamin.
Pesan untuk menjaga kebersihan, katanya, hampir selalu disampaikan dalam berbagai kesempatan, mulai dari pengajian, pembinaan, hingga pengarahan kepada para pengelola pendidikan.
Bahkan, Syaikhuna menciptakan lagu berjudul “Satukan Langkah Cinta Kebersihan” yang turut diputar dalam kegiatan tersebut sebagai pengingat bagi seluruh warga pesantren.
Hj. Ifa berharap Al-Muhajirin menjadi tempat yang memberikan kenyamanan bagi siapa pun yang datang, terutama para santri yang menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan pondok.
“Mudah-mudahan siapa pun yang hadir di Al-Muhajirin sudah menemukan surganya. Santri-santri yang ada di Al-Muhajirin merasa ada di surganya. Karena di surga itu semuanya menekankan kebersihan, kenyamanan, tidak ada bau, tidak ada sampah,” ungkapnya.
Menurutnya, harapan tersebut harus diikuti pengelolaan yang serius. Kebersihan tidak cukup bergantung pada imbauan atau kegiatan kerja bakti sesekali, tetapi perlu masuk ke dalam sistem pengelolaan setiap unit pendidikan.
Ia meminta para kepala sekolah dan pengelola unit untuk menyusun perencanaan, menetapkan penanggung jawab, menjalankan kegiatan secara rutin, serta melakukan pengawasan dan evaluasi.
“Pengelolaan sampah ini harus dalam sistem yang terpadu. Kita wujudkan dalam sebuah sistem yang berkesinambungan, baik dalam kurikulum, kegiatan sehari-hari, maupun briefing setiap hari,” jelasnya.
Hj. Ifa juga mengusulkan penguatan gerakan Al-Muhajirin Green melalui perlombaan kebersihan antarkelas dan antarunit pendidikan.
Ia mengapresiasi keterlibatan tim duta kebersihan yang melibatkan para siswa dan tenaga pendidik, termasuk tim yang dipimpin Kepala SMP Al-Muhajirin, Heru Rajikin.
Keterlibatan siswa sejak usia sekolah dasar, menurutnya, penting agar kebiasaan menjaga kebersihan tumbuh sejak dini dan terus terbawa hingga mereka dewasa.
Di sejumlah unit pendidikan Al-Muhajirin, pengolahan sampah organik telah dilakukan dengan memanfaatkan maggot dan cacing tanah. Sementara itu, sampah plastik mulai dikelola melalui bank sampah.
Hj. Ifa menjelaskan bahwa pemilahan sampah seharusnya dimulai dari tempat sampah itu dihasilkan. Di dapur, misalnya, sisa buah dan sayuran perlu dipisahkan dari plastik kemasan serta sampah lainnya.
Dengan pemilahan sejak awal, pengolahan berikutnya akan lebih mudah dilakukan. Sampah organik dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya, sementara sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan dan dikelola.
“Tidak mungkin sampah bisa menjadi berkah kalau tidak diawali dari dapur kita sendiri,” ujarnya.
Ia berharap kerja sama bersama P3M dan CCEP Indonesia terus berlanjut, termasuk dalam pendampingan pengelolaan sampah pada unit-unit pendidikan Al-Muhajirin.
P3M Ajak Santri Melakukan Tobat Ekologi
Direktur P3M, KH. Sarmidi Husna, MA., mengingatkan bahwa persoalan sampah semakin mendesak untuk ditangani. Di sejumlah daerah, tempat pembuangan akhir menghadapi keterbatasan kapasitas akibat volume sampah yang terus bertambah.
Ia menyinggung kondisi sejumlah tempat pembuangan akhir di Pulau Jawa yang telah ditutup atau menghadapi kemungkinan penutupan karena daya tampungnya tidak lagi mencukupi.
Menurutnya, keadaan tersebut menunjukkan bahwa penanganan sampah harus dimulai dari sumbernya. Masyarakat tidak dapat terus mengandalkan tempat pembuangan akhir tanpa mengurangi dan mengelola sampah yang dihasilkan.
KH. Sarmidi kemudian mengajak para santri memahami konsep tobat ekologi, yakni kesadaran untuk memperbaiki perilaku manusia terhadap lingkungan.
“Kita perlu tobat ekologi supaya ikut andil memelihara lingkungan masing-masing,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan ataupun mengabaikan pengelolaan sampah ikut menyumbang persoalan lingkungan. Karena itu, perubahan harus dimulai dari kesadaran pribadi.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Sarmidi juga menceritakan kisah Ummu Mahjan, seorang perempuan yang biasa membersihkan Masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW.
Ketika perempuan tersebut wafat dan telah dimakamkan, Rasulullah SAW. menanyakan keberadaannya. Setelah mengetahui kabar wafatnya, beliau mendatangi makamnya dan menyalatkannya.
Kisah tersebut, menurut KH. Sarmidi, menunjukkan betapa mulianya pekerjaan menjaga kebersihan, meskipun sering dianggap sederhana dan kurang mendapat perhatian.
Ia juga memberikan motivasi kepada para santri yang terpilih mengikuti pelatihan. Dari banyaknya santri Al-Muhajirin, peserta yang hadir mendapatkan kesempatan khusus untuk mempelajari pengelolaan sampah.
Menurutnya, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan diajarkan kepada santri lainnya.
KH. Sarmidi menjelaskan bahwa kegiatan refreshment bertujuan menyegarkan kembali program yang telah berjalan. Bagi peserta baru yang belum pernah mengikuti pelatihan, kegiatan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk mengenal dasar-dasar pengelolaan sampah.
Dengan adanya pembekalan kepada santri baru, program Rumah Kelola Sampah Pesantren diharapkan tetap berjalan meskipun terjadi pergantian pengurus setiap tahun.
Santri Belajar Memilah Sampah hingga Menyiapkan Regenerasi Pengurus
Perwakilan Coca-Cola Europacific Partners Indonesia, Adnan, dalam kesempatan tersebut turut menyoroti persoalan sampah yang semakin kompleks, terutama akibat keterbatasan daya tampung tempat pembuangan akhir.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya agar jumlah sampah yang harus dibawa ke tempat pembuangan akhir dapat dikurangi.
Pelatihan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari itu diisi dengan sejumlah materi dan praktik.
Peserta mendapatkan pembekalan mengenai Fiqh al-Bi’ah atau fikih lingkungan serta etika lingkungan dalam perspektif Islam. Materi berikutnya membahas program, kebijakan, dan kolaborasi pengelolaan sampah CCEP Indonesia.
Tim P3M kemudian memberikan pengenalan dasar manajemen pengelolaan sampah disertai praktik pemilahan. Para peserta juga mempelajari tata kelola Rumah Kelola Sampah Pesantren, termasuk mekanisme kerja dan pembagian tanggung jawab pengurus.
Salah satu agenda penting dalam pelatihan ini adalah pembentukan tim regenerasi Rumah Kelola Sampah Pesantren. Regenerasi diperlukan karena setiap tahun ada santri yang menyelesaikan pendidikan dan ada pula santri baru yang masuk.
Para pengurus baru nantinya diharapkan dapat melanjutkan kegiatan pengelolaan sampah tanpa harus mengulang seluruh proses pembinaan dari awal.
Kegiatan juga diwarnai pemutaran lagu “Satukan Langkah Cinta Kebersihan” ciptaan Syaikhuna KH. Abun Bunyamin. Lagu tersebut menjadi pengingat akan pesan kebersihan yang selama ini terus beliau sampaikan kepada para santri.
Bagi Al-Muhajirin, pekerjaan berikutnya adalah memastikan hasil pelatihan benar-benar diterapkan. Mulai dari tersedianya tempat pemilahan sampah, kejelasan tugas pengurus, pengolahan sampah organik dan anorganik, hingga pengawasan kebersihan pada setiap unit pendidikan.
Dengan jumlah santri yang mencapai ribuan orang, kebiasaan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah sejak awal akan sangat menentukan kondisi lingkungan pesantren. (*)
