Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Minggu, 27 September 2026

Berita

Bukan Soal Kaya-Miskin, Zuhud Tentang Hati yang Merdeka dari Dunia

Oleh Fajar Maritim26 September 20264 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN — Pengajian rutin Ngaji Sabtu Muhajirin kembali digelar di Aula Syaikh Datul Kahfi (SDK), Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, Sabtu (26/9/2026). Kajian kali ini diasuh langsung oleh Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, dengan membahas lanjutan Kitab Riyadhus Shalihin Bab 55 tentang Fadhlu Zuhdi fid Dunya wat Taqalluli minha wa Fadhlil Faqri — keutamaan zuhud dalam kehidupan dunia, sikap sederhana terhadapnya, serta kemuliaan fakir.

Zuhud

Mengawali kajian, Kiai Marpu mengajak jamaah menyegarkan kembali pemahaman tentang zuhud. Beliau menegaskan, zuhud adalah sikap hati yang tidak tertarik atau terpikat pada gemerlap dunia. Dalam bahasa Sunda, kondisi itu disebut kabita. Zuhud adalah lawan dari hubbud dunya, yakni cinta dunia secara berlebihan.

“Ajaran Kanjeng Nabi mengingatkan kita untuk tidak hubbud dunya, dan mendorong untuk zuhud fid dunya,” ujar Kiai Marpu.

Surah At-Takatsur

Kiai Marpu mengajak jamaah membaca dan mentadaburi Surah At-Takatsur. Menurutnya, surah ini populer dihafal banyak orang, tetapi jarang benar-benar dipahami maknanya. Beliau menjelaskan ayat demi ayat:

  • Alhaakumut takatsur — sikap berlomba-lomba dan bersaing memperbanyak harta, pengikut, dan urusan duniawi pasti melalaikan manusia dari perkara akhirat.
  • Hatta zurtumul maqabir — persaingan itu terus berlanjut hingga manusia “mengunjungi kuburan”, yakni sampai ajal menjemput. Kiai Marpu menyebut tiga makna: kematian secara hakiki, kesadaran akan kematian (zikrul maut), dan ziarah kubur untuk mengingat mati.
  • Kalla saufa ta’lamun… tsumma kalla saufa ta’lamun — peringatan berulang bahwa manusia akan menyadari kekeliruannya. Tahap pertama ketika sakaratul maut, saat ruh mengetahui secara global ke mana ia akan kembali. Tahap kedua di alam mahsyar, ketika segala amal diperlihatkan secara detail.
  • Latarawunnal jahim — bagi yang memiliki ilmul yaqin, keyakinan berbasis ilmu, kelak akan benar-benar menyaksikan neraka Jahim. Bahkan di dunia, orang yang memiliki ilmul yaqin dapat “melihat” neraka dengan mata hati.
  • Tsumma latus’alunna yauma-idzin ‘anin na’im — pada hari itu setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas seluruh kenikmatan yang Allah berikan selama hidup di dunia.

Kiai Marpu menambahkan, dalam sebuah keterangan disebutkan, ad-dunya halaluha hisab wa haramuha iqab — halal dunia akan dihisab, sedangkan haramnya menjadi siksa. Bagi orang mukmin, pertanyaan itu bisa menjadi memori indah; bagi orang kafir, justru menjadi azab.

Tiga Ciri Utama Orang yang Zuhud

Bagian penting kajian ini adalah penegasan bahwa zuhud bukan soal kaya atau miskin, memiliki harta atau tidak. “Zuhud itu urusan bagaimana hati tidak dikuasai oleh dunia. Hatinya merdeka,” tegasnya. Seseorang bisa kaya raya namun tetap zuhud, atau sebaliknya miskin tetapi hatinya justru terikat pada dunia.

Kiai Marpu merinci tiga ciri utama orang yang benar-benar zuhud:

  1. Tidak takut kehilangan harta. Baik kehilangan karena disedekahkan maupun karena musibah — HP jatuh, motor rusak, dan sebagainya — orang yang zuhud tetap tenang dan ikhlas.
  2. Tidak mudah tersinggung ketika disakiti. Ia tidak larut memikirkan perlakuan kurang sopan dari orang lain, misalnya tidak disalami atau tidak dihormati sebagaimana mestinya.
  3. Tidak berbangga saat dipuji dan tidak larut sedih saat dihina. Pujian maupun celaan diterima dengan sikap yang sama, karena hatinya tidak lagi terikat pada penilaian manusia.

Kiai Marpu berpesan, ukuran zuhud bukan untuk menilai orang lain, melainkan sebagai bahan introspeksi diri. “Ini bukan untuk menilai orang lain, tapi untuk menilai diri sendiri,” tandasnya.

Peringatan Nabi: Bukan Kefakiran yang Dikhawatirkan

Kiai Marpu lalu membacakan hadis dari Amr bin Auf al-Anshari. Rasulullah SAW mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah ke Bahrain. Ketika Abu Ubaidah datang membawa harta dari Bahrain, penduduk Anshar berduyun-duyun salat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi. Rasulullah tersenyum melihat antusiasme mereka.

Dalam hadis itu, Rasulullah bersabda, “Demi Allah, aku tidak khawatir kalian menjadi fakir. Yang aku khawatirkan adalah dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana dibentangkan kepada umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba memperbanyaknya, lalu dunia itu membinasakan kalian seperti membinasakan umat sebelum kalian.”

Hadis kedua dari Abu Sa’id al-Khudri menyebutkan, Rasulullah duduk di mimbar dan para sahabat duduk di sekitarnya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya di antara yang paling aku takutkan atas kalian setelahku adalah kemegahan dunia dan keindahannya yang Allah bukakan untuk kalian.” Hadis ini diriwayatkan Muttafaq alaih.

Menurut Kiai Marpu, dua hadis ini menunjukkan bahwa godaan terbesar zuhud adalah zahratud dunya, gemerlap dan keindahan dunia. Dunia boleh dimiliki, dikuasai, bahkan dinikmati secara halal, tetapi jangan sampai masuk ke dalam hati dan melalaikan akhirat.

Dunia seperti Permainan, Akhirat Kehidupan Sejati

Kiai Marpu juga mengutip ayat Al-Ankabut yang dipilih Imam Nawawi dalam bab zuhud: Wa ma hadhihil hayatud dunya illa lahwun wa la’ibun, wa innadar akhirata lahiyal hayawan — kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya.

Beliau menganalogikan dunia seperti game: mengasyikkan, menggoda, tetapi terbatas waktunya, sering membuat kesal, dan pada akhirnya membosankan. Karena itu, zuhud bukan berarti berhenti bekerja, berdagang, atau ke kantor. Zuhud adalah tetap menjalani aktivitas normal, tetapi pikiran dan hati selalu berorientasi akhirat.

“Zuhud adalah lebih memilih akhirat daripada dunia. Ketika dihadapkan pada dua pilihan, pilih yang nilai akhiratnya lebih besar,” ujar Kiai Marpu.

Kajian yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan ilmu, hati yang dipenuhi cahaya kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta harapan agar seluruh jamaah — baik yang telah berkecukupan maupun yang masih berkekurangan — dianugerahi sifat zuhud oleh Allah SWT. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *