Kajian Spesial Maulid Al-Muhajirin Pusat: KH Marpu Urai Maqam ke-12 Rasulullah SAW, Ar-Raufur Rahim


AL-MUHAJIRIN – Pengajian Sabtu di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat memasuki pembahasan terakhir selama bulan Maulid. Pada Sabtu (12/9/2026), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, mengajak jamaah menyelami maqam ke-12 Rasulullah SAW, yakni Ar-Rauf Ar-Rahim, dari kitab As-Sirajul Munir fi Maqomati Sayyidil Mursalin karya Syekh Abdussalam Al-Isyti.
Kajian berlangsung di Aula Syaikh Datul Kahfi (SDK) Al-Muhajirin, Jalan Veteran, Purwakarta. Pembahasan maqam tersebut menjadi bagian dari rangkaian kajian selama bulan Maulid yang secara khusus mengambil tema maqamat Rasulullah SAW.
KH Marpu menjelaskan, pembahasan maqam ke-12 ini bukan berarti rangkaian kajian tentang Rasulullah telah selesai. Kajian tersebut dilakukan sebagai bentuk tafaulan dan tabarukan selama bulan Maulid. Setelahnya, pengajian Sabtu akan kembali membahas Riyadus Shalihin dan Ufuk Ulama.
Memasuki pembahasan Ar-Rauf Ar-Rahim, KH Marpu terlebih dahulu menjelaskan makna kedua sifat tersebut. Menurutnya, Ar-Rauf dan Ar-Rahim sama-sama berkaitan dengan kasih sayang, tetapi memiliki penekanan yang berbeda.
“Rauf itu intinya kasih sayang yang bawaannya tidak ingin orang yang dikasihi merasa sakit. Jangan sampai yang dikasihi merasa tersakiti,” jelas KH Marpu.
Karena dorongan tersebut, sifat rauf dapat membuat seseorang cenderung membiarkan atau memberikan kelonggaran agar orang yang disayangi tidak merasakan sakit.
Ia mengambil contoh sederhana dalam kehidupan keluarga. Seorang nenek yang membiarkan cucunya terus bermain HP karena tidak tega melihat cucunya menangis merupakan gambaran kasih sayang rauf. Demikian pula orang yang merasa kasihan melihat anak kepanasan saat berolahraga sehingga memilih untuk tidak memaksanya.
“Jadi kalau rauf mah enggak akan tega,” katanya.
Berbeda dengan rauf, sifat rahim menurut KH Marpu mengarah pada kasih sayang yang menghendaki kebaikan bagi orang yang disayangi, meskipun jalan untuk mencapainya terkadang membuatnya tidak nyaman atau merasakan kesulitan terlebih dahulu.
Anak yang diminta berhenti bermain HP, misalnya, mungkin akan marah atau menangis. Namun orang tua mengambil HP tersebut karena memikirkan kebaikannya. Begitu pula ketika seorang anak dilatih berolahraga, belajar disiplin, atau menjalani proses pendidikan yang menuntut kesungguhan.
“Kalau rahim, yang dikasihi harus dapat kebaikan walaupun mungkin sakit dulu,” terang KH Marpu.
Menurutnya, dua sifat tersebut secara sempurna hanya ada pada Allah SWT. Adapun pada makhluk, kesempurnaan sifat rauf dan rahim terdapat pada diri Rasulullah SAW.
“Di makhluk ini, sifat rauf rahim hanya sempurna di Rasulullah SAW,” ungkapnya.
KH Marpu menjelaskan, tingginya kedudukan Rasulullah SAW di hadapan Allah SWT tercermin dari penyematan dua sifat tersebut kepada beliau. Dalilnya terdapat dalam Surah At-Taubah ayat 128:
“Laqad jaa’akum rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil-mu’miniina ra’uufur rahiim.”
Menurut KH Marpu, ayat tersebut menjadi dalil bahwa Allah SWT menyebut Rasulullah SAW sebagai ra’ufur rahim, khususnya dalam kasih sayang beliau kepada kaum mukminin.
Dari sifat tersebut pula KH Marpu menjelaskan posisi Rasulullah SAW sebagai sumber rahmat. Ia menyebut Rasulullah sebagai syifa lil qulub, yang kasih sayangnya menjadi obat bagi hati, lahir, dan batin.
Karena itu, keterhubungan dengan Rasulullah SAW melalui pengajian ilmu-ilmu beliau, berselawat, dan menghadiri majelis-majelis yang menghidupkan kecintaan kepada beliau menjadi bagian penting dalam memperoleh aliran rahmat tersebut.
“Siapapun yang tersambung dengan Rasulullah SAW, dengan ngaji ilmu-ilmunya, berselawat kepadanya, hadir di majelis-majelis, maka rauf, rahfah dan rahmah Rasulullah itu akan mengalir pada kita sebagai kesembuhan,” tuturnya.
Kasih Sayang yang Menjadi Warisan Umat
KH Marpu kemudian membawa jamaah pada berbagai bentuk kasih sayang Rasulullah SAW yang dirasakan umat hingga sekarang. Salah satunya melalui doa-doa yang diajarkan Rasulullah untuk menghadapi sakit dan kesulitan.
Ia mencontohkan doa kesembuhan yang diajarkan Rasulullah SAW. Menurutnya, umat yang hidup berabad-abad setelah Rasulullah wafat masih dapat menggunakan doa tersebut ketika menghadapi sakit. Demikian pula ketika menghadapi kebingungan, ketakutan, kesulitan, hingga persoalan utang.
Kasih sayang Rasulullah SAW juga tampak dari perhatian beliau kepada kelompok-kelompok yang lemah. KH Marpu menyebut anak yatim, orang miskin, janda, perempuan, orang sakit, hingga orang yang kelaparan sebagai kelompok yang mendapat perhatian besar dalam ajaran Rasulullah.
Dalam hadis yang disampaikan KH Marpu, Rasulullah mendorong umat untuk membantu kehidupan janda dan orang miskin. Amal tersebut disebut memiliki keutamaan besar, bahkan disamakan dengan pahala orang yang berjihad atau orang yang terus melakukan ibadah malam.
Rasulullah SAW juga mengajarkan umat untuk memberi makan orang lapar, menjenguk orang sakit, dan membebaskan tawanan.
Perhatian Rasulullah kepada kaum lemah, menurut KH Marpu, juga sangat kuat terhadap anak yatim dan perempuan. Ia mengutip hadis yang berisi peringatan keras agar hak dua kelompok tersebut tidak ditelantarkan.
“Rasul sangat membela kaum lemah. Yatim itu lemah. Mengurus perempuan itu lemah,” jelasnya.
KH Marpu kemudian mengisahkan contoh yang berkaitan dengan dua anak perempuan. Dalam sebuah riwayat yang disampaikan dalam kajian, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang yang mengurus anak perempuan dengan baik hingga mereka tumbuh dan terdidik.
“Siapa yang ngurus dua anak perempuan sampai balig, nanti dia akan datang pada hari kiamat dan dekat seperti ini bersamaku,” tuturnya.
Ia juga mengangkat kisah Sayyidah Aisyah RA yang menerima seorang ibu bersama dua anak perempuannya. Di rumah hanya tersedia satu butir kurma. Kurma itu diberikan kepada sang ibu, kemudian dibagi dua untuk kedua anaknya, sementara sang ibu tidak memakannya.
Dari kisah tersebut, KH Marpu menekankan satu pelajaran penting: jangan pernah meremehkan kebaikan meskipun kecil.
“Tidak pernah ragu berbuat baik walaupun kecil,” katanya, seraya mengingatkan pesan la tahtaqir minal ma’rufi syaian, agar seseorang tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
Puncak Ar-Rauf Ar-Rahim dalam Peristiwa Thaif
Gambaran paling kuat tentang kasih sayang Rasulullah SAW disampaikan KH Marpu melalui peristiwa Thaif.
Dalam kisah tersebut, setelah mendapat perlakuan buruk dari penduduk Thaif, Rasulullah SAW memperoleh tawaran dari malaikat penjaga gunung. Jika Rasulullah menghendaki, dua gunung dapat dijatuhkan untuk menghancurkan Thaif.
Namun Rasulullah SAW tidak memilih pembalasan.
KH Marpu mengutip jawaban Nabi SAW:
“Bal arju ay yukhrijallahu min aslaabihim may ya’budullaha wala yusriku bihi syai’a.”
Rasulullah SAW berharap dari keturunan mereka kelak akan lahir orang-orang yang menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya sedikit pun.
“Rasulullah berharap nanti ada keturunan mereka yang menyembah Allah, yang tidak menyekutukan Allah,” jelas KH Marpu.
Bagi KH Marpu, sikap tersebut memperlihatkan kedalaman sifat Ar-Rauf Ar-Rahim. Rasulullah SAW mampu melihat lebih jauh daripada luka dan penolakan yang beliau alami. Di balik perlakuan buruk, beliau masih menyimpan harapan akan lahirnya generasi yang bertauhid.
Kasih sayang Rasulullah SAW, dengan demikian, bukan sekadar perasaan iba. Ia juga hadir sebagai kehendak untuk membawa manusia menuju kebaikan.
Karena itu, KH Marpu mengajak jamaah menjadikan maqam Ar-Rauf Ar-Rahim sebagai cermin dalam kehidupan sehari-hari. Kasih sayang harus hadir dalam keluarga, dalam pendidikan, dalam hubungan sosial, dan dalam cara memperlakukan orang-orang yang berada dalam kondisi lemah.
Kajian kemudian ditutup dengan doa bersama. KH Marpu juga mengingatkan jamaah untuk menghadiri puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang akan digelar pada malam Jumat, 17 September 2026.
Pesan dari maqam ke-12 itu pun menjadi penutup yang kuat bagi rangkaian kajian Maulid: semakin mengenal kasih sayang Rasulullah SAW, semakin besar pula tanggung jawab umat untuk menghadirkannya dalam kehidupan.
Sebab, sebagaimana ditekankan KH Marpu, Rasulullah SAW adalah Ar-Rauf Ar-Rahim—sosok yang kasih sayangnya kepada umat bukan berhenti pada kelembutan, melainkan juga mengarahkan manusia kepada kebaikan. (*)
