
AL-MUHAJIRIN- KH R. Marpu Muhidin Ilyas, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, menyampaikan pentingnya memperbanyak amal saleh pada malam Nisfu Syaban. Hal itu disampaikannya dalam Pengajian Ahad Al-Muhajirin yang digelar pada Minggu, 1 Februari 2026.
Dalam tausiyahnya, KH Marpu Muhidin Ilyas menjelaskan bahwa tradisi menghidupkan malam Nisfu Syaban bukanlah tradisi lokal, bukan pula milik kelompok atau organisasi tertentu. Ia menekankan bahwa amalan tersebut telah berlangsung sejak masa para sahabat Nabi Muhammad SAW.
“Memperbanyak ibadah di malam Nisfu Syaban bukan tradisi Nusantara, bukan (sejak) Nahdlatul Ulama. Ini tradisi sejak para sahabat Nabi. Karena itu para ulama tidak ragu untuk mewariskannya kepada kita,” ujarnya.
Beliau menguraikan bahwa amalan yang dianjurkan pada malam Nisfu Syaban meliputi dzikir, membaca Al-Qur’an, serta berbagai bentuk ibadah yang berkaitan dengan hubungan kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Menurutnya, keutamaan malam tersebut membuat para sahabat memberikan perhatian ibadah yang berbeda dibandingkan malam-malam lainnya.
KH Marpu Muhidin Ilyas mengutip riwayat Imam Hasan Al-Bashri yang menyatakan pernah mendengar langsung dari 30 orang sahabat Nabi tentang keagungan malam Nisfu Syaban. Dalam riwayat tersebut, malam Nisfu Syaban disebut sebagai malam yang agung dan mulia, bahkan dikaitkan dengan Lailah Mubarakah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Ad-Dukhan ayat 3.
“Kalau sudah disebut sebagai malam yang agung dan mulia dalam Al-Qur’an, maka tidak perlu lagi bertanya dalilnya apa. Standar amal para sahabat itu jelas. Kalau satu waktu itu utama, pasti ibadah mereka berbeda dengan waktu yang lain,” ujarnya.
Beliau juga mengingatkan jamaah agar tidak mudah terpengaruh oleh pendapat-pendapat di media sosial yang meragukan keutamaan malam Nisfu Syaban. Menurutnya, riwayat para sahabat Nabi jauh lebih layak dijadikan pegangan daripada opini para pembuat konten.
“Kalau Bapak Ibu mendengar pendapat di media sosial yang meragukan, mereka bukan sahabat Nabi. Abaikan saja. Malu kita membandingkan sahabat Nabi dengan konten kreator,” ujarnya disambut perhatian jamaah.
Dalam penutup tausiyahnya, KH Marpu Muhidin Ilyas mendorong umat Islam untuk memanfaatkan malam Nisfu Syaban dengan memperbanyak ibadah sesuai kemampuan masing-masing. Ia menegaskan bahwa tidak ada batasan jumlah ibadah di malam tersebut.
“Gunakan malam itu untuk ibadah sebanyak-banyaknya. Shalat seratus rakaat boleh, seribu rakaat boleh. Membaca Qulhu seratus kali silakan, membaca Yasin tiga kali silakan. Tidak ada batasannya. Malam itu memang waktunya ibadah,” pungkasnya. (*)
