Kuatkan Niat dan Kerinduan ke Tanah Suci


AL-MUHAJIRIN— Keinginan berangkat ke Tanah Suci dapat dipelihara sejak seseorang belum memiliki biaya perjalanan. Melihat gambar Ka’bah, memandang Masjid Nabawi, lalu memohon kepada Allah agar suatu hari dapat mendatanginya menjadi cara sederhana untuk menumbuhkan kesungguhan niat.
Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dalam Pengajian Rutin Hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat di Aula Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Pengajian diisi dengan Dzikir Hadlroh Thoriqoh Azmiyah Maulana Al-Imam Al-Mujadid As-Sayyid Muhammad Madli Abul Azaim. Rangkaian ayat Al-Qur’an, istigfar, shalawat, kalimat tauhid, dan doa mengiringi pertemuan para pendidik tersebut.
Selepas dzikir, KH. Marpu mengajak para guru menanamkan sidqul iradah, yakni kesungguhan dalam berkehendak. Pesan ini disampaikannya ketika memperkenalkan program perjalanan umrah Muhajirin 1 atau Muhajirin Holy Journey.
Kepada para guru yang belum pernah menunaikan umrah, ia mengingatkan kembali pembahasan dalam pengajian Ramadan tentang pentingnya memiliki keinginan yang sungguh-sungguh. Kerinduan untuk beribadah perlu ditumbuhkan dan diungkapkan dalam doa.
“Yang terpenting sekarang punya sidqul iradah dulu, betul-betul ingin,” tuturnya.
Beliau mencontohkan, ketika melihat gambar Ka’bah maupun Masjid Nabawi, seseorang dapat menyampaikan keinginannya kepada Allah dengan ungkapan sederhana, “Ya Allah, saya mau.”
Begitu pula ketika melihat biaya perjalanan. KH. Marpu mengajak para guru untuk membangun respons yang memelihara harapan. Angka yang tertera dapat menjadi pengingat tentang niat yang hendak diwujudkan apabila kelak Allah memberikan kemampuan.
“Kalau saya punya uang senilai ini, saya akan berangkat,” ujarnya, mencontohkan sikap tersebut.
Melalui pesan itu, ia mengajak para guru memulai dari kesungguhan hati, kemudian memohon kelancaran dan kemudahan kepada Allah. Keinginan untuk berangkat dapat terus dipelihara sambil menantikan kesempatan dan kemampuan.
Namun, KH. Marpu juga memberi penekanan mengenai tanggung jawab. Ia mengingatkan agar ibadah umrah ditunaikan tanpa mengurangi kewajiban maupun kebaikan lain yang sudah dijalankan. Keberangkatan diharapkan berasal dari kelebihan harta, sehingga tanggung jawab yang ada tetap terjaga.
Doa agar memperoleh kesempatan beribadah turut dipanjatkan untuk seluruh peserta. Mereka yang belum pernah umrah diharapkan dapat berangkat, sedangkan yang sudah pernah diberi kesempatan untuk kembali.
Perjalanan Umrah Disertai Kajian
Dalam pertemuan tersebut, KH. Marpu memperkenalkan tiga pilihan program Muhajirin 1, yakni umrah arbain, umrah plus Mesir, dan umrah reguler. Ia menjelaskan bahwa perjalanan akan disertai kegiatan kajian serta kunjungan ke tempat-tempat penting dalam sejarah Islam.
Untuk program umrah arbain, ia menyampaikan rencana tinggal selama delapan hari di Madinah, dilanjutkan dengan rangkaian perjalanan di Makkah. Kajian sirah Nabi dan ziarah menjadi bagian dari kegiatan yang disiapkan.
KH. Marpu menekankan pentingnya memberi kesempatan kepada jemaah untuk mendatangi langsung lokasi-lokasi yang dikunjungi. Di antara tempat yang disebut dalam penjelasannya ialah Masjid Quba, Masjid Jumat, dan Masjid Qiblatain.
Melalui kunjungan tersebut, jemaah diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal tempat-tempat yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Islam.
Adapun program umrah plus Mesir direncanakan mencakup kunjungan selama empat hari di Mesir, disertai pengajian dan ziarah. KH. Marpu menyebut sejumlah tujuan ziarah, di antaranya Sayyidina Husein, Imam Syafi’i, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi.
Dari Mesir, perjalanan akan dilanjutkan menuju Madinah, kemudian ke Makkah untuk melaksanakan umrah. Sementara itu, program umrah reguler juga disiapkan dengan rangkaian kunjungan ke tempat-tempat penting.
Memelihara Kerinduan kepada Rasulullah
Di sela pengenalan program, KH. Marpu menceritakan pengalamannya mengikuti pengajian pada malam Kamis yang terhubung langsung dengan Iskandariah. Dalam pengajian tersebut, terdapat bacaan mawajid yang mengungkapkan kecintaan dan kerinduan kepada Rasulullah SAW.
Beliau kemudian melantunkan penggalan bacaan yang menyebut Nabi Muhammad sebagai kekasih hati, disertai ungkapan kerinduan menuju Madinah.
Cerita itu memberi warna pada pengenalan program perjalanan yang sedang dirintis. Pembicaraan mengenai keberangkatan ke Tanah Suci berkelindan dengan kecintaan kepada Rasulullah, keinginan mendatangi Madinah, serta harapan memperoleh keberkahan dalam perjalanan ibadah.
KH. Marpu juga menghubungkan pengembangan program tersebut dengan cita-cita awal Syaikhuna dalam membangun kegiatan umrah dan mendukung kemajuan lembaga. Ia mengajak keluarga besar Al-Muhajirin untuk bersama-sama menggerakkannya serta mengenalkan program kepada keluarga dan kerabat.
Tim program umrah kemudian memberikan penjelasan mengenai rencana layanan perjalanan, mulai dari kunjungan ziarah, konsumsi, fasilitas menunggu di bandara, hingga penanganan koper. Penjelasan lebih terperinci mengenai teknis keberangkatan diarahkan kepada tim pengelola.
Doa bagi Guru, Keluarga, dan Santri
Selain pesan tentang niat beribadah, pengajian diwarnai doa untuk kesehatan dan keberkahan keluarga besar pesantren. KH. Marpu memohon kesembuhan bagi mereka yang sedang sakit, termasuk kesehatan bagi Syaikhuna beserta ibu.
Para guru, pasangan, anak-anak, dan keluarga mereka turut didoakan agar memperoleh kesehatan lahir batin serta keberkahan dalam segala urusan.
Kepada para santri, doa yang dipanjatkan menyentuh harapan mendasar dalam pendidikan pesantren: hati yang bersih, kesalehan, dan kecerdasan.
“Santri kita Allah bersihkan hatinya. Allah jadikan anak yang saleh, yang cerdas,” tuturnya.
Permohonan tersebut mengiringi keseharian para guru dalam mendidik dan mendampingi santri. Di tengah tanggung jawab mengajar, pengajian memberi ruang untuk bersama-sama berdzikir, mendoakan anak didik, serta memelihara kesungguhan dalam menjalankan amanah.
Pertemuan ditutup dengan doa dan kafaratul majelis, disertai harapan agar niat baik yang telah ditanamkan memperoleh jalan untuk diwujudkan. (*)
