Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Senin, 26 Oktober 2026

Berita

Ngaji Sabtu Muhajirin Satu, KH Marpu Muhidin Ilyas Jelaskan Zuhud sebagai Kemerdekaan Hati

Oleh Fajar Maritim26 Oktober 20264 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN — Memiliki rumah, kendaraan, usaha, dan penghasilan tidak dengan sendirinya menjauhkan seseorang dari kehidupan yang zuhud. Persoalannya terletak pada hati: apakah seluruh kepemilikan itu menjadi bekal kebaikan atau justru membuat manusia semakin terikat pada dunia.

Pesan tersebut menjadi pokok pembahasan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, Dr. KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dalam pengajian Ngaji Sabtu Muhajirin Satu di Aula Syaikh Datul Kahfi, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Sabtu.

Melanjutkan kajian Bab Zuhud dalam kitab Riyadhus Shalihin, Kiai Marpu mengajak jemaah memahami kesederhanaan Rasulullah SAW dan para sahabat secara utuh. Zuhud tidak cukup diukur dari sedikitnya harta atau sederhananya penampilan seseorang.

“Zuhud bukan tentang ketidakpunyaan. Zuhud tentang kemerdekaan hati,” tegasnya.

Beliau menjelaskan, seseorang dapat memiliki kekayaan sekaligus menjadikannya sarana pengabdian. Harta digunakan untuk membantu keluarga, bersedekah, berwakaf, serta memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, keterbatasan ekonomi belum tentu membuat seseorang terbebas dari kecintaan berlebihan terhadap dunia.

“Zuhud adalah pilihan, bukan keterpaksaan,” ujarnya.

Belajar dari Kesederhanaan Sayidah Aisyah

Dalam pengajian tersebut, Kiai Marpu membacakan hadis Sayidah Aisyah RA tentang keadaan rumahnya ketika Rasulullah SAW wafat:

تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا فِي بَيْتِي مِنْ شَيْءٍ يَأْكُلُهُ ذُو كَبِدٍ إِلَّا شَطْرُ شَعِيرٍ فِي رَفٍّ لِي، فَأَكَلْتُ مِنْهُ حَتَّى طَالَ عَلَيَّ، فَكِلْتُهُ فَفَنِيَ

“Rasulullah SAW wafat, sedangkan di rumahku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan oleh makhluk hidup selain sedikit jelai di rak milikku. Aku memakannya dalam waktu yang lama. Kemudian aku menakarnya, lalu habislah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Kiai Marpu, riwayat tersebut memperlihatkan pendidikan kesederhanaan dalam keluarga Rasulullah SAW. Kemuliaan hidup bersama beliau berjalan bersama keridaan, rasa syukur, dan hati yang tidak terpaut pada kemewahan.

Beliau mengajak jemaah menjadikan kisah itu sebagai bahan bercermin. Banyak nikmat telah hadir dalam kehidupan, tetapi manusia masih mudah merasa kekurangan karena terus membandingkan kepemilikannya dengan orang lain.

Dengan memahami zuhud, seseorang belajar menikmati yang tersedia dan mensyukurinya. Kebahagiaan keluarga pun tidak terus-menerus digantungkan pada bertambahnya barang atau kemewahan.

Pembahasan kemudian berlanjut pada riwayat Amr bin Al-Harits RA mengenai peninggalan Rasulullah SAW. Kiai Marpu menyoroti perbedaan ungkapan مَا تَرَكَ (tidak meninggalkan) dengan مَا مَلَكَ (tidak memiliki).

Penekanannya adalah bagaimana harta dimanfaatkan dan diarahkan untuk kebaikan. Kepemilikan tidak boleh membuat hati kehilangan kebebasannya untuk memberi dan berbagi.

“Silakan miliki, tapi pastikan jadi jalan akhirat,” pesannya.

Dunia dan Sayap Nyamuk

Untuk memperjelas kedudukan dunia, Kiai Marpu membacakan hadis dari Sahl bin Sa’ad RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi orang kafir seteguk air pun darinya.” (HR. Tirmidzi).

Melalui hadis tersebut, beliau menjelaskan bahwa kekayaan, jabatan, dan popularitas tidak dapat dijadikan ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah. Semua itu bisa diperoleh manusia dengan beragam keadaan keimanan dan perilakunya.

Karena itu, seorang mukmin perlu lebih cermat menentukan apa yang layak dikejar. Kesempatan belajar agama, memahami petunjuk Allah, serta istikamah dalam kebaikan merupakan nikmat yang patut disyukuri dan diperjuangkan.

Kiai Marpu juga mengingatkan pesan Al-Qur’an dalam Surah Thaha ayat 131:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah engkau tujukan pandangan kedua matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131).

Nasihat tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melihat kendaraan orang lain, telepon genggam yang lebih baru, atau kehidupan yang tampak lebih mewah kerap membuat seseorang merasa nikmatnya sendiri tidak lagi berarti.

Zuhud melatih hati agar tetap tenang menghadapi perbedaan tersebut. Seseorang tetap berusaha, sambil menjaga agar keinginannya tidak mengikis rasa syukur.

Menghidupkan Zikir dan Majelis Ilmu

Pada bagian berikutnya, Kiai Marpu menguraikan hadis Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا، إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا وَالَاهُ، وَعَالِمًا وَمُتَعَلِّمًا

“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah Taala, apa yang sejalan dengannya, orang berilmu, dan orang yang belajar.” (HR. Tirmidzi).

Beliau menekankan bahwa hadis tersebut harus dipahami sampai selesai. Jemaah tidak boleh berhenti pada kalimat tentang dunia yang dilaknat, kemudian menyimpulkan bahwa pekerjaan, keluarga, dan seluruh kepemilikan harus ditinggalkan.

Menurut penjelasannya, yang perlu diusahakan ialah menjadikan kehidupan dunia terhubung dengan ketaatan kepada Allah. Zikir, aktivitas yang mengingatkan kepada-Nya, serta kegiatan mengajar dan belajar menjadi jalan untuk menghadirkan nilai akhirat dalam keseharian.

Beliau mencontohkan kegiatan sederhana seperti minum. Dengan niat menjaga tenaga untuk berbuat baik, membaca basmalah, dan mensyukuri orang yang menyiapkannya, aktivitas sehari-hari dapat memiliki nilai ibadah.

Kiai Marpu juga mendorong jemaah membiasakan zikir melalui bacaan Al-Qur’an, selawat, dan istigfar. Kebiasaan lisan tersebut perlu dirawat agar pengaruhnya semakin masuk ke dalam pikiran, perasaan, dan hati.

Bersamaan dengan itu, kegiatan mengaji harus mendapat tempat di tengah kesibukan. Ilmu menjadi bekal untuk memahami bagaimana pekerjaan, usaha, dan kehidupan keluarga dijalankan sesuai tuntunan agama.

Di akhir pengajian, Kiai Marpu mengajak jemaah membawa pulang kesadaran tentang keadaan diri. Keteladanan Rasulullah dan para sahabat semestinya menumbuhkan kemauan memperbaiki hati, sekaligus menyadarkan bahwa masih banyak yang harus dibenahi dalam hubungan manusia dengan dunia.

“Minimal pulang ngaji kita tahu, kita masih jauh dari zuhud,” tuturnya. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *