Pembekalan KPU STAIM Purwakarta 2026: Mahasiswa Didorong Jadi Agen Perubahan Berbasis Riset di Kecamatan Sukasari

Bagikan artikel ini:

AL-MUHAJIRIN— STAIM Al-Muhajirin Purwakarta menggelar pembekalan Kuliah Pengabdian Umat (KPU) mahasiswa tahun akademik 2025–2026 dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Riset melalui Penguatan Ekonomi Syariah, Pendidikan Islam, Literasi Digital, dan Tata Kelola Desa dalam Mendukung Desa Mandiri”. Kegiatan ini membekali mahasiswa agar mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat Kecamatan Sukasari melalui pendekatan riset, kolaborasi, dan nilai-nilai Islam.

Ketua STAIM Purwakarta, H. Deden Saepudin, M.Hum., menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan harus dimulai dari riset yang memetakan potensi, kebutuhan, dan tantangan wilayah. Ia mengilustrasikan kisah Kerajaan Arab Saudi yang melalui kajian para ahli justru menemukan potensi minyak bumi, mengubah perekonomian negara. “Riset mampu membuka peluang besar yang sebelumnya tidak terlihat,” ujarnya.

H. Deden juga mencontohkan keberhasilan Desa Ponggok, Desa Pentingsari, dan Desa Pujon Kidul yang maju berkat kemampuan mengelola potensi melalui riset, inovasi, kelembagaan kuat, dan kolaborasi. Pengembangan BUMDes profesional, penguatan UMKM berbasis potensi lokal, pendampingan perguruan tinggi, tata kelola transparan, serta pemanfaatan teknologi digital terbukti meningkatkan kesejahteraan.

Oleh karena itu, pengembangan Kecamatan Sukasari diarahkan pada pemberdayaan berbasis riset yang mengintegrasikan ekonomi syariah, pendidikan Islam, literasi digital, tata kelola desa, serta potensi wisata dan UMKM lokal.

Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., yang juga Ketua LPM STAIM, mengingatkan mahasiswa untuk menjaga nama besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin. “Ketika terjun ke masyarakat, kalian tidak hanya membawa identitas pribadi atau almamater, tetapi juga nama besar pondok yang dibangun dengan perjuangan dan keikhlasan para masyayikh,” ujarnya.

Baca Juga:  Dari Eco Print hingga AI, Siswa Kelas IX SMP-MTs Al-Muhajirin Pusat Didorong Kreatif dan Melek Teknologi

Mahasiswa diminta menampilkan akhlak mulia, tutur kata santun, kedisiplinan, kejujuran, dan semangat melayani agar menjadi cerminan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Hj Ifa mendorong mahasiswa membangun sinergi dengan masyarakat, pemerintah desa, dan pelaku UMKM serta menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi. Pengabdian yang dilandasi ilmu, akhlak, dan keikhlasan diharapkan menjadi amal jariyah sekaligus mengharumkan nama lembaga.

Dalam tausyahnya Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA., mendorong mahasiswa agar memiliki kepekaan dalam membaca potensi yang dimiliki masyarakat.

Beliau mengungkapkan, Allah Swt. telah menyediakan sumber rezeki dan kehidupan di setiap tempat, namun diperlukan kemampuan untuk melihat, mengenali, dan mengembangkan potensi tersebut agar menjadi sumber kemaslahatan bagi masyarakat.

Di hadapan mahasiswa, Syaikhuna menekankan bahwa kehadiran mahasiswa KPU di tengah masyarakat bukan sekadar untuk menjalankan program, melainkan harus mampu membaca kebutuhan dan menemukan potensi yang dapat dikembangkan.

Mahasiswa, menurut Syaikhuna, harus hadir sebagai insan yang mampu mengenali kekuatan lokal, baik dalam bidang pertanian, perdagangan, UMKM, pariwisata, maupun sumber daya manusia. Potensi tersebut kemudian perlu dikembangkan menjadi peluang yang memberikan manfaat dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga:  Ciptakan Pemimpin yang Berkualitas, SMA Fullday Al Muhajirin Lakukan Seleksi Pemilihan OSIS

“Allah Swt. telah menyediakan sumber rezeki dan kehidupan di setiap tempat. Tinggal bagaimana kita mampu melihat dan membaca potensi yang ada,” pesan Syaikhuna.

Karena itu, mahasiswa KPU harus memiliki kepekaan sosial dan kemampuan memahami karakter masyarakat. Syaikhuna mengingatkan bahwa masyarakat pada umumnya menginginkan program yang sederhana, mudah dipahami, terjangkau, dan manfaatnya dapat langsung dirasakan.

Keberhasilan pengabdian, lanjutnya, tidak ditentukan oleh rumitnya konsep atau banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah sejauh mana program tersebut mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat dan menghadirkan perubahan yang dapat terus dirasakan.

“Jangan sampai program dibuat rumit, tetapi tidak memberikan manfaat. Yang penting adalah masyarakat merasakan manfaatnya dan perubahan itu bisa berkelanjutan,” demikian pesan yang ditekankan dalam pembekalan tersebut.

Selain kecerdasan dalam membaca potensi, Syaikhuna juga mengingatkan mahasiswa agar membangun kekuatan mental dan akhlak. Seorang pengabdi masyarakat harus memiliki keberanian untuk bergerak, kerajinan dalam bekerja, keikhlasan dalam melayani, serta kemampuan menjaga diri dari berbagai sifat yang dapat menghambat pengabdian.

Syaikhuna kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan doa yang diajarkan Rasulullah Saw:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Doa tersebut mengandung pelajaran karakter yang mendalam bagi mahasiswa yang akan mengabdikan diri di tengah masyarakat. Di dalamnya terdapat permohonan perlindungan dari kegelisahan dan kesedihan agar tetap optimistis, dari kelemahan dan kemalasan agar senantiasa rajin dan produktif, dari sifat pengecut agar berani mengambil langkah kebaikan, serta dari sifat kikir agar memiliki kepedulian dan gemar berbagi.

Baca Juga:  Butuh Cetak Cepat dan Bisa Ditunggu? Percetakan Taqaddum Jadi Solusinya!

Pesan Syaikhuna mengenai pentingnya membaca potensi masyarakat sejalan dengan arah KPU STAIM Purwakarta yang menempatkan riset sebagai dasar pemberdayaan. Ketua LP2M STAIM Purwakarta, Dr. Eti Jumiati, MM., menyampaikan bahwa pemberdayaan berbasis riset menjadi pendekatan strategis mewujudkan desa mandiri. Riset menjadi dasar mengidentifikasi potensi, menganalisis permasalahan, menyusun program, melaksanakan aksi, hingga evaluasi berkelanjutan. Sinergi perguruan tinggi, pemerintah desa, masyarakat, dan pelaku UMKM menjadi kunci. Keberhasilan pembangunan desa diukur dari perubahan berkelanjutan, bukan sekadar jumlah program, melalui budaya riset, kolaborasi, inovasi, dan evaluasi (evidence-based development).

Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Administrasi, Deden Abdullah, M.Pd., menjelaskan bahwa KPU merupakan program intrakurikuler wajib yang mengintegrasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Keberhasilan diukur melalui partisipasi aktif masyarakat, terbentuknya program pemberdayaan, peningkatan kualitas kehidupan sosial-keagamaan dan ekonomi, serta tertib administrasi dan dokumentasi. KPU diharapkan menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik sekaligus memiliki kepekaan sosial, jiwa kepemimpinan, dan kemampuan menjadi agen perubahan. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *