Pengajian Ramadan Al-Muhajirin Pusat Kitab Riyadus Sholihin: Bab Sabar – Teladan Nabi dalam Memaafkan dan Mendoakan

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN – Majelis pengajian Ramadan kitab Riyadus Sholihin di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat kembali digelar dengan suasana khusyuk dan penuh hikmah. Dalam lanjutan kajian Bab Sabar, KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA mengupas hadis ke-12 yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sekaligus menguraikan pelajaran tentang kesabaran para nabi, kekuatan keyakinan (yaqin), serta pentingnya istihdar—menghadirkan guru secara spiritual dalam perjalanan ruhani seorang murid.

Sejak awal kajian, KH Marpu menjelaskan bahwa para sahabat tidak hanya meriwayatkan hadis secara tekstual, tetapi juga dengan penghayatan rohani yang sangat dalam.

Abdullah bin Mas’ud berkata:

“Seolah-olah aku melihat Rasulullah SAW sedang menceritakan seorang nabi dari para nabi yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah.”

Dalam kisah tersebut, nabi itu mengusap darah dari wajahnya sambil berdoa:

“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

Menurut KH Marpu, ungkapan “seolah-olah aku melihat” menunjukkan kedalaman spiritual para sahabat dalam meriwayatkan peristiwa.

“Para sahabat meriwayatkan dengan ruhaniyah. Mereka menghadirkan kembali sosok Rasulullah dalam hati mereka seakan-akan terlihat secara nyata,” jelasnya.

Istihdar: Menghadirkan Guru secara Spiritual

Dalam kesempatan itu, KH Marpu menjelaskan konsep istihdar, yaitu menghadirkan sosok guru secara spiritual dalam hati dan pikiran.

Baca Juga:  Pengajian Ramadhan Kitab Riyadhus Shalihin Al-Muhajirin Pusat: Ikhlas Ruh Amal, Taubat Kembali Kepada Allah

Menurut beliau, manusia memiliki kecenderungan alami untuk membutuhkan figur teladan yang dapat dijadikan rujukan dalam mengarahkan hati dan perilaku.

“Allah bersifat gaib, sedangkan manusia memiliki kecenderungan visual. Karena itu dalam perjalanan ruhani kita menghadirkan guru yang membimbing kita menuju Allah,” tuturnya.

Istihdar, menurut beliau, merupakan cara menjaga kesadaran spiritual agar hati selalu berada dalam bimbingan nilai-nilai kebenaran. Hal ini juga sejalan dengan perintah Al-Qur’an agar manusia senantiasa bersama orang-orang yang jujur dan saleh.

Sabar Lahir dari Keyakinan

KH Marpu menegaskan bahwa kesabaran yang paling tinggi lahir dari yaqin, yaitu keyakinan mendalam kepada Allah.

Beliau mengutip doa Rasulullah yang memohon kepada Allah agar diberikan keyakinan yang membuat musibah dunia terasa ringan.

“Musibah itu berat atau ringan sebenarnya bergantung pada cara kita memandangnya. Jika seseorang yakin bahwa semua berasal dari Allah dan mengandung hikmah, maka musibah itu akan terasa lebih ringan,” jelasnya.

Kesabaran semacam ini, menurut beliau, hanya mampu dicapai oleh orang-orang yang memiliki kedalaman iman dan keyakinan yang kuat.

Kisah Keteladanan Anas bin Malik

Baca Juga:  Kegiatan LDKO OSIS SMA Fullday Al-Muhajirin 2024/2025: Mempersiapkan Pemimpin Masa Depan

Dalam kajian tersebut, KH Marpu juga menyinggung kisah sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan kesabaran luar biasa ketika menghadapi musibah dalam keluarganya.

Rasulullah SAW dikenal sangat dekat dengan Anas dan keluarganya. Bahkan beliau sering bercanda dengan anak kecil dari keluarga Anas yang memiliki burung kecil peliharaan.

Suatu ketika Rasulullah bertanya dengan penuh kasih:

“Wahai Abu Umair, apa kabar burung kecilmu?”

Pertanyaan sederhana itu menunjukkan kelembutan hati Rasulullah kepada anak-anak.

KH Marpu menekankan bahwa dari kisah ini terlihat bagaimana kesabaran dan kasih sayang berjalan beriringan dalam kehidupan para sahabat.

“Kesabaran tidak berarti menghilangkan rasa sedih. Sabar adalah menerima takdir dengan hati yang ikhlas, sambil tetap menjaga kelembutan dan kasih sayang,” ujarnya.

Sabar Jamil: Membalas Keburukan dengan Kebaikan

Pelajaran besar dari hadis tentang nabi yang dipukul oleh kaumnya adalah teladan sabar jamil—kesabaran yang indah.

Alih-alih membalas kezaliman dengan kemarahan atau dendam, nabi tersebut justru mendoakan ampunan bagi kaumnya.

Menurut KH Marpu, sikap ini merupakan tingkat kesabaran yang sangat tinggi.

“Jangan membalas keburukan dengan keburukan. Doakan mereka agar diampuni. Itulah kekuatan orang yang memiliki yaqin,” tuturnya.

Baca Juga:  Pengajian Ahad Pagi Al-Muhajirin: Tafsir Juz ‘Amma Kontemporer – Ilmu Yaqin (Bagian ke-5: Syukur)

Yakin yang Menguatkan Hati

Menjelang akhir kajian, KH Marpu kembali mengingatkan pentingnya memperkuat keyakinan kepada Allah sebagai fondasi kesabaran.

Beliau mengutip doa Rasulullah yang memohon agar diberikan keyakinan hingga mampu menerima segala ketentuan Allah dengan penuh kerelaan.

“Kalau yaqin kuat, musibah terasa ringan. Tapi kalau yaqin lemah, ujian kecil pun terasa berat,” jelasnya.

Di akhir tausiah, beliau juga menyampaikan informasi bahwa rangkaian pengajian Ramadan kitab Riyadus Sholihin akan segera mencapai penutupan setelah membahas empat bab utama: ikhlas, tobat, sabar, dan sidq.

Pengajian kemudian ditutup dengan doa hari ke-16 yang dinisbatkan kepada Abu Hazim, berisi permohonan ampunan, penerimaan tobat, kesehatan, serta keridaan Allah. Doa juga dipanjatkan bagi jamaah yang sedang menunaikan ibadah umrah agar diberi kemudahan dan kemabruran, serta bagi mereka yang sedang sakit agar segera diberikan kesembuhan.

Majelis diakhiri dengan doa bersama dan pembacaan Al-Fatihah dalam suasana penuh harap.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keyakinan yang kuat, kesabaran yang indah seperti para nabi dan sahabat, serta kebersamaan rohaniah dengan para pewaris Rasulullah SAW. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *