Pengajian Rutin Sabtu Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhiddin Ilyas: Seimbangkan Khauf dan Raja’, Jangan Merasa Aman dari Makar Allah

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN – Seorang muslim dalam menjalani kehidupan beragama membutuhkan dua sikap batin yang harus berjalan beriringan: khauf, rasa takut dan kewaspadaan kepada Allah SWT, serta raja’, harapan terhadap rahmat dan ampunan-Nya.

Keduanya tidak boleh berdiri sendiri. Khauf tanpa raja’ dapat membuat seseorang kehilangan harapan, sementara raja’ tanpa khauf berpotensi menjadikan seseorang terlalu percaya diri terhadap keselamatan dirinya di hadapan Allah.

Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, saat mengkaji Riyadus Shalihin karya Imam Nawawi dalam Pengajian Rutin Sabtu di Aula Syaikh Datul Kahfi (SDK) Al-Muhajirin Pusat.

Dalam kajian yang membahas khauf dan raja’, KH. Marpu mengajak jamaah memahami bahwa seorang mukmin idealnya senantiasa berada di antara rasa takut dan harapan. Rasa takut mendorong seseorang untuk berhati-hati dalam beramal, sedangkan harapan membuatnya terus bersemangat mendekat kepada Allah dan tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya.

Jangan Merasa Aman dari Makar Allah

Mengawali pembahasan, KH. Marpu menguraikan firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 99:

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang rugi.”

Menurut beliau, istilah makar Allah dalam konteks ayat tersebut tidak tepat jika sekadar dipahami sebagai “tipu daya” dalam pengertian negatif sebagaimana makna yang biasa digunakan manusia.

Makar Allah, jelasnya, dapat dipahami sebagai perlakuan atau ketetapan Allah yang berada di luar dugaan manusia. Manusia tidak pernah mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada dirinya, bagaimana akhir kehidupannya, maupun bagaimana Allah akan memperlakukannya.

Karena itu, seorang mukmin tidak sepatutnya merasa terlalu percaya diri dengan amal yang telah dilakukan.

Baca Juga:  Jalin Silaturahmi, Kapolres Purwakarta Kunjungi Prof. DR. KH. Abun Bunyamin, M.A

“Orang beriman itu tidak merasa aman begitu saja. Bukan berarti dia pesimis, tetapi dia tidak merasa sudah pasti. Dia sadar bahwa dirinya tidak tahu bagaimana Allah akan memperlakukannya. Karena itu, dia menjadi lebih berhati-hati dan semakin banyak memohon kepada Allah,” jelas KH. Marpu.

Beliau memberikan gambaran sederhana. Seseorang yang datang ke majelis ilmu tidak boleh merasa pasti bahwa dirinya akan selalu mampu memahami ilmu, selalu dapat hadir pada pekan berikutnya, atau selalu memiliki kesempatan untuk terus beramal.

Ketidakpastian itu semestinya melahirkan doa dan kerendahan hati.

“Karena yang memberikan pemahaman itu Allah. Maka kita meminta kepada Allah agar diberi pemahaman. Itu khauf. Bukan percaya diri berlebihan di hadapan Allah,” tuturnya.

Sebaliknya, sikap merasa terlalu aman dan menganggap dirinya pasti baik-baik saja justru dapat membuat seseorang lengah. Ia merasa masih memiliki banyak waktu, sehingga menunda taubat, meremehkan dosa, dan tidak sungguh-sungguh memperbaiki diri.

Khauf Tidak Boleh Membunuh Harapan

Di sisi lain, KH. Marpu mengingatkan agar rasa takut kepada Allah tidak berubah menjadi keputusasaan.

Beliau mengutip firman Allah SWT dalam Surah Yusuf ayat 87:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.”

Ayat tersebut, menurut beliau, menjadi penegasan bahwa raja’ atau harapan kepada rahmat Allah merupakan bagian penting dari keimanan.

Seorang mukmin meyakini Allah sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Namun pada saat yang sama, ia juga menyadari bahwa Allah memiliki azab yang berat bagi orang yang durhaka.

“Orang mukmin itu lengkap dua-duanya. Dia meyakini Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tetapi juga meyakini bahwa Allah memiliki siksa yang berat. Di situlah keseimbangan khauf dan raja’,” terang KH. Marpu.

Baca Juga:  Kunjungan Tenaga Ahli Ketua BGN dan LP Ma'arif NU PBNU di Acara Halal bi Halal SD Plus 2 Al-Muhajirin dengan menu Makan Bergizi Gratis (MBG)

Beliau kemudian mengutip hadis riwayat Imam Muslim yang menggambarkan keseimbangan tersebut: seandainya seorang mukmin mengetahui betapa berat siksa yang Allah siapkan, ia tidak akan merasa aman dengan amalnya; sementara seandainya orang kafir mengetahui betapa luas rahmat Allah, ia tidak akan berputus asa dari rahmat-Nya.

Pesan hadis itu, menurut KH. Marpu, adalah agar seorang mukmin tidak terjebak dalam dua sikap ekstrem: merasa terlalu aman karena amalnya atau putus asa karena dosa-dosanya.

Surga Begitu Dekat

Dalam kajian tersebut, KH. Marpu juga mengajak jamaah merenungkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud:

“Surga lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya, demikian pula neraka.”

Hadis tersebut, jelas beliau, menggambarkan betapa dekatnya peluang manusia untuk mendapatkan surga. Bahkan, jalan menuju surga bisa hadir melalui amal yang tampak kecil dan sederhana, yang mungkin tidak pernah dianggap besar oleh pelakunya.

KH. Marpu mencontohkan amal yang dilakukan secara tersembunyi dan tidak diketahui banyak orang. Bisa jadi seseorang hanya melakukan ibadah sederhana di penghujung malam, tetapi kualitas keikhlasan dan ketulusan di dalamnya sangat besar di hadapan Allah.

“Jangan berpikir harus melakukan sesuatu yang besar dulu. Lakukan kebaikan sesuai kemampuan. Bisa jadi amal yang kecil secara kuantitas, tetapi besar kualitas batinnya, justru menjadi sebab seseorang mendapatkan rahmat Allah,” jelasnya.

Karena itu, jamaah diajak untuk tidak meremehkan amal baik sekecil apa pun. Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, meskipun tidak diketahui manusia, dapat memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah.

Jangan Meremehkan Dosa Kecil

Namun, prinsip yang sama juga berlaku sebaliknya. Jika surga dapat diraih melalui amal yang dianggap kecil, maka seseorang juga harus berhati-hati terhadap dosa yang dianggap sepele.

Baca Juga:  Prof. Dr. H. Rumadi Ahmad Ajak para Lansia Ikut Pesantren Lansia di Al Muhajirin Kampus 5

KH. Marpu mengingatkan bahwa dosa kecil yang terus diremehkan dapat menjadi persoalan besar ketika seseorang tidak pernah berusaha meninggalkannya.

Karena itu, seorang muslim harus menjaga keseimbangan. Ia tidak boleh menganggap dirinya terlalu kecil untuk mendapatkan rahmat Allah, tetapi juga tidak boleh menganggap dosa sebagai sesuatu yang ringan dan tidak perlu dikhawatirkan.

Inilah makna khauf dan raja’ yang ingin ditanamkan melalui kajian tersebut: berharap kepada Allah sambil terus memperbaiki amal, serta takut kepada Allah sambil tetap menjaga optimisme terhadap rahmat-Nya.

Menjadi Hamba yang Rendah Hati dan Terus Beramal

Melalui kajian Riyadus Shalihin tersebut, KH. Marpu mengajak jamaah membangun sikap batin yang sehat dalam beragama.

Jangan merasa telah sampai hanya karena sudah beramal. Jangan pula berhenti melangkah hanya karena merasa memiliki banyak kekurangan.

Seorang mukmin terus berusaha, terus berdoa, dan terus memperbaiki diri. Ia mengerjakan kebaikan sesuai kemampuannya, sembari menyadari bahwa keselamatan pada akhirnya tetap berada dalam rahmat Allah SWT.

Pengajian Rutin Sabtu di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat menjadi ruang pembelajaran yang mengajak masyarakat mendalami ajaran Islam secara bertahap, dari ilmu menuju pengamalan.

Melalui kajian tersebut, jamaah diharapkan memiliki khauf yang melahirkan kehati-hatian dan raja’ yang menumbuhkan harapan, sehingga semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin kuat dalam memperjuangkan kehidupan akhirat.

Pengajian kemudian ditutup dengan doa bersama. KH. Marpu berharap ilmu yang diperoleh dari majelis tersebut menjadi ilmu yang bermanfaat, mendekatkan jamaah kepada Allah dan Rasulullah SAW, serta mendorong untuk terus memperjuangkan kehidupan akhirat. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *