
ALMUHAJIRIN- Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti Gedung Aula Yudhistira Setda Purwakarta saat Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat menggelar Wisuda Tahfidz & Fahmil Mutun bagi Santri Takhassus Kitab.
Acara yang berlangsung pada Selasa pagi ini menjadi puncak dari perjuangan para santri dalam menghafal dan memahami kitab-kitab turats klasik, seperti Matan Al-Jurumiyah, Nadzom Imrithi, Nadzom Al-Maqshud, ‘Aqidatul Awam, Alfiyah Ibnu Malik, serta Khataman Al-Waraqaat.
Dengan tema “Dari Hafal Teks dan Paham Makna Lafadz Menuju Transformasi Santri Untuk Peradaban Negeri”, wisuda ini tidak hanya merayakan pencapaian, tetapi juga menegaskan komitmen pesantren dalam mencetak kader ulama yang siap menyinari dunia dengan ilmu agama.
Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan shalawat, diikuti sambutan dari perwakilan orang tua santri dan penampilan hafalan ‘Aqidatul Awam oleh para santri.
Kemudian sambutan dari Ketua Yayasan sekaligus Direktur Pusat, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd,. Puncaknya adalah prosesi wisuda, yang disusul tausiah dari Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, penampilan santri, serta pengumuman wisudawan terbaik, dan ditutup dengan doa bersama.
Hadir pula perwakilan dari Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta, KH. Agus Solahudin, yang menyampaikan apresiasi atas kontribusi Al-Muhajirin dalam mencetak kader ulama.
Dalam sambutannya yang penuh inspirasi, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah menyuarakan yel-yel khas Al-Muhajirin: “Al-Muhajirin mengakar ke bumi, menjulang ke langit, dari santri Al-Muhajirin untuk dunia.”
Beliau menyampaikan salam hangat dari Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, beserta Ibu Kiai Dra. Hj. Euis Marfuah, MA, yang saat ini Syaikhuna sedang menunaikan ibadah umroh bersama jamaah. “Syaikhuna menyampaikan salam dari kejauhan. Insyaallah, doa beliau dari Baitullah akan menyertai para wisudawan,” ujarnya dengan nada haru.
Beliau juga mendoakan kesehatan dan panjang umur bagi kedua tokoh pendiri pesantren tersebut, yang telah memancangkan perjuangan Al-Muhajirin selama 33 tahun sebagai ruh dan amanah bagi seluruh santri.
Hj. Ifa Faizah juga menekankan pentingnya acara ini sebagai bukti nyata transformasi ilmu dari teks matan menjadi peradaban.
“Tema ini lahir dari kerisauan Syaikhuna, yang pernah menyampaikan bahwa mencetak ribuan dokter atau insinyur tidaklah cukup jika tidak ada ulama. Ulama adalah fondasi agama, pewaris para nabi, dan penerang dunia. Dengan wafatnya ulama, hilanglah ilmu agama, dan dunia menjadi gelap,” katanya, mengutip pesan Syaikhuna.
Beliau menyebutkan bahwa Al-Muhajirin di momen wisuda ini mencetak 161 kader ulama, dan para wisudawan hari ini adalah generasi penerus yang akan menerangi bumi lebih terang daripada matahari, menyampaikan risalah Allah dan Rasul-Nya.
Menyapa para orang tua santri yang hadir, Hj. Ifa menyentuh hati dengan mengajak merasakan kebanggaan. “Bapak Ibu bangga tidak? Bahagia tidak? Anak-anak kita menjadi ulama panutan, menyambung risalah Rasulullah SAW. Ini bukan sekadar memasukkan anak ke pesantren karena bosan di rumah, tapi bagian dari menegakkan kalimatullah dan menolong agama Allah. Insyaallah, Allah akan menolong kita,” ujarnya.
Beliau menambahkan bahwa pencapaian ini bukan kebetulan, melainkan hidayah dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: “Man yaridillahu bihi khairan yufaqqihhu fid-din” (Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan pahamkan dia dalam agama). “Kalian adalah anak-anak pilihan Allah untuk menjadi kader terbaik,” pesannya kepada para wisudawan.
Lebih lanjut, Hj. Ifa mengingatkan bahwa ilmu agama mengandung amanah besar. “Hafalan ini adalah pondasi, tapi yang lebih berat adalah menjaga dan mengemban ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu terbaik adalah yang menimbulkan khasyah (takut) kepada Allah, sebagaimana Al-Quran sampaikan: ‘Innama yakhsha Allaha min ibadihi al-ulama’ (Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah para ulama).” Beliau berharap ilmu ini tidak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk mengenalkan kehebatan Islam ke seluruh dunia, membawa ketakwaan umat secara luas.
Acara wisuda ini merupakan kelanjutan dari Munaqosyah Tahfidz & Fahmil Mutun yang digelar pada 9 Februari 2026 di Aula Syaikh Datul Kahfi (SDK) Kampus Pusat. Saat itu, para santri telah diuji hafalan dan pemahaman kitab-kitab turats, dengan penekanan pada ketepatan redaksi, kedalaman makna, dan penerapan kaidah.
Program ini menjaga tradisi talaqqi, muraja’ah, dan pembacaan nadzom dengan irama khas pesantren, sebagai bentuk ketekunan intelektual. Kitab-kitab seperti Matan Al-Jurumiyah dan Nadzom Imrithi mengokohkan dasar ilmu nahwu, Nadzom Al-Maqshud memperdalam sharaf, ‘Aqidatul Awam menanamkan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Alfiyah Ibnu Malik memperluas tata bahasa Arab lanjut, serta Al-Waraqaat mengenalkan ushul fiqh.
Apresiasi juga datang dari Dirjen Pontren Kemenag RI, Dr. KH Basnang Said, yang memuji Al-Muhajirin sebagai bukti nyata penyumbang kader ulama untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Hadir pula Dr. KH. Amit Saepul Malik, M.Pd.I (Kepala SMI 1-3), dan Dr. Cece Nurhimah (STAI Al-Muhajirin), serta segenap asatidz.
Hj. Ifa menutup sambutannya dengan motto Al-Muhajirin Kampus Hiji: “Ngahiji, Ngaji, Kahiji” (Bersatu, Mengaji, Terdepan). Ia berterima kasih kepada KH. Marpu atas dorongannya dalam tafaqquh fid-din, yang merupakan kemuliaan hanya untuk hamba pilihan Allah.
“Semoga Allah menerima jerih payah kita sebagai ibadah, untuk melestarikan dan mengkader ulama, agar Islam lestari di bumi yang Allah cintai,” pungkasnya.
Wisuda ini bukan akhir, tapi awal perjuangan. Para wisudawan diharapkan menjadi transformator peradaban, mengintegrasikan turats dengan tantangan zaman. Acara berakhir dengan doa bersama, meninggalkan inspirasi bagi semua hadir: ilmu adalah amanah, ulama adalah penerang, dan pesantren adalah benteng peradaban. Selamat kepada para wisudawan—semoga ilmu mereka menjadi berkah bagi negeri! (*)
