
AL-MUHAJIRIN — Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta menggelar Tasyakur Milad dan Haul ke-33 pada Kamis, 5 Februari 2026. Kegiatan berlangsung khidmat dan meriah di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus 3 Citapen, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta.
Acara tersebut dihadiri keluarga besar Al-Muhajirin, ribuan santri, jajaran Nahdlatul Ulama, unsur Forkopimda, mitra perbankan, serta para tamu undangan dari berbagai kalangan.
Hadir secara langsung Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, bersama Nyai Dra. Hj. Euis Marfuah, MA. Hadir pula jajaran Direktur Al-Muhajirin, yakni Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, Dr. Hj. Zahra Haiza Azmina, M.Ag, serta Hj. Kiki Zakiah Nuraisyah, S.S.I., M.H.
Peringatan Milad ke-33 ini menandai perjalanan panjang Pondok Pesantren Al-Muhajirin sejak berdiri pada 7 Februari 1993 hingga 7 Februari 2026, bertepatan dengan 15 Sya’ban 1413–1447 Hijriah, dalam mengabdikan diri di bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat.
Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan penampilan kreasi seni para santri, dilanjutkan tawasul, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, shalawat, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Al-Muhajirin, dan Syubbanul Wathon yang dibawakan oleh paduan suara STAI Al-Muhajirin. Suasana semakin semarak dengan penampilan hadrah oleh KH. Rd. Muhammad Hariri Abdul Aziz, serta pengundian doorprize bagi para hadirin.
Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan ucapan ahlan wa sahlan marhaban kepada seluruh tamu undangan. Beliau menyampaikan bahwa Milad ke-33 menjadi momentum syukur atas perjalanan Al-Muhajirin yang terus berkembang dan memberi kemaslahatan bagi umat.
“Al-Muhajirin melalui sektor pendidikan berkomitmen menyiapkan kader terbaik dengan penguatan karakter akhlakul karimah, penguasaan kompetensi masa depan, serta kesiapan mencetak kader ulama, sarjana, dan pengusaha, sebagaimana amanah Syaikhuna,” ujarnya.
Beliau juga mengenang perjuangan awal pendirian pesantren yang dirintis dari usaha percetakan dan katering, hingga berkembang menjadi pondok-pondok dan masjid. Saat ini, Al-Muhajirin telah memiliki 22 unit sekolah, tiga pondok pesantren, dua perguruan tinggi, dengan jumlah santri lebih dari 6.000 orang.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah, pada tahun 2025 Al-Muhajirin membuka empat dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kampus 1, Kampus 2, Kampus 3, dan Wanayasa. Program tersebut dinilai mampu menyerap tenaga kerja, mendukung hasil pertanian lokal, serta menggerakkan sektor ekonomi masyarakat.
“Tahun ini juga menjadi rasa syukur kami atas diluncurkannya izin operasional Al-Muhajirin Kampus 6 di Cikampek yang mencakup TK, SD, dan pondok pesantren. Selain itu, kami mengembangkan Pesantren Lansia di Kampus 5 dengan view alam perkebunan durian dan sayuran,” tambahnya.
Al-Muhajirin juga dipercaya menjadi nazir wakaf produktif Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan meraih penghargaan dari Kementerian Agama RI sebagai Nazir Wakaf Inovatif Tahun 2025.
Memasuki usia ke-33, Yayasan Al-Muhajirin melakukan penguatan tata kelola dengan membentuk tiga direktorat di bawah yayasan, guna meningkatkan profesionalisme, akuntabilitas, serta jaminan mutu pendidikan di seluruh unit.
Puncak acara ditandai dengan prosesi tasyakur Milad ke-33 dan pemotongan tumpeng bersama keluarga besar Al-Muhajirin dan para tamu kehormatan. Tausiyah Mauidhoh Hasanah disampaikan oleh KH. Dr. Tata Sukayat, M.Ag, KH. Rd. Marfu Muhyiddin Ilyas, M.A, serta Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Menteri Agama RI menyampaikan harapan agar Pondok Pesantren Al-Muhajirin dapat menjadi mercusuar spiritual, khususnya bagi masyarakat Kabupaten Purwakarta.
Harapan tersebut disampaikan usai penandatanganan prasasti peresmian Gedung Aula Asrama Putri PP Al-Muhajirin Kampus 3 bersama Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, sebagai bagian dari pengembangan fasilitas pendidikan pesantren.
“Kehadiran saya di sini juga untuk bersilaturahmi dengan guru sekaligus sahabat lama saya, Pak Kiai Abun. Beliau berhasil memimpin Al-Muhajirin dengan sangat luar biasa. Pesantren ini menjadi kebanggaan kita semua,” ujar Nasaruddin Umar.
Dalam tausiyahnya di hadapan ribuan santri, Nasaruddin Umar juga mengungkapkan makna mendalam bacaan basmalah sebagai kunci keberkahan dalam setiap aktivitas.
“Saat membaca basmalah dengan penuh kesadaran, hadirkan Allah SWT sebagai pemilik nama di dalam hati. Dari situlah keberkahan itu mengalir,” tuturnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, sesi foto bersama, serta peluncuran buku karya Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhyiddin Ilyas, MA. Pada momentum Milad ke-33 ini, Pondok Pesantren Al-Muhajirin secara resmi menerbitkan dua buku bidang ilmu alat bahasa Arab yang dipersembahkan langsung oleh Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta kepada Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Dua buku tersebut berjudul Super Nahwu: Tiga Bulan Lancar Baca Arab Gundul dan Super Tashrif 2 (Tsulatsi Mazid, Rubai’, dan Ghair Salim) – Dzauq di Atas Rumus dengan Metode Drill dan Pola Bunyi yang Ramah Otak. Keduanya disusun sebagai ikhtiar menghadirkan metode pembelajaran Nahwu dan Sharaf yang efektif, aplikatif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Buku Super Nahwu dirancang untuk membantu pembelajar bahasa Arab membaca kitab gundul secara lancar dalam waktu relatif singkat, sementara Super Tashrif 2 menekankan pendekatan rasa bahasa (dzauq) melalui latihan intensif dan pola bunyi, sehingga kaidah Sharaf tidak berhenti pada hafalan rumus semata.
Karya tersebut ditujukan bagi pimpinan pesantren dan kepala madrasah sebagai rujukan kurikulum akselerasi pembelajaran Nahwu, para guru bahasa Arab sebagai pendamping metode pengajaran yang lebih hidup, santri dan mahasiswa pemula yang ingin memahami bahasa Arab secara sistematis, hingga masyarakat umum yang ingin mempelajari bahasa Al-Qur’an secara praktis di tengah kesibukan.
Peluncuran dua buku ini merupakan bagian dari komitmen Pondok Pesantren Al-Muhajirin dalam penguatan tradisi keilmuan pesantren, sekaligus kontribusi nyata dalam pengembangan metode pembelajaran bahasa Arab yang adaptif terhadap tantangan zaman. (*)
