Pengajian Ramadhan Kitab Riyadhus Shalihin Al-Muhajirin Pusat: Kekuatan Ikhlas dalam Amal dan Niat

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN- Di tengah semangat Ramadhan 1447 H, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat kembali menggelar pengajian Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi. Dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesantren, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA, kajian bab ikhlas dan niat ini berlangsung khidmat di masjid pesantren, yang dengan seksama diikuti dan direnungkan oleh jamaah.

Kajian yang menjadi program unggulan ini mengajak peserta merenungkan kekuatan niat ikhlas yang bisa mengubah amal sederhana menjadi karamah besar.

Dalam sesi ini, KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA, melanjutkan pembahasan hadits ke-8 hingga ke-18, dengan fokus pada esensi ikhlas sebagai penentu nilai amal di sisi Allah.

Beliau menjelaskan bahwa niat menjawab dua pertanyaan kunci: “Mengapa melakukan?” (aktivitas) dan “Ingin apa?” (tujuan). “Ikhlas adalah urusan hati. Secara zahir, amal orang riya’ dan ikhlas bisa sama, bahkan yang riya’ terlihat lebih heroik. Tapi Allah menilai isi hati,” ujarnya.

Baca Juga:  Pengajian Khusus Ramadan Al-Muhajirin Pusat, Khulashah Kitab Al-‘Ilmi (Bagian II: Adab Menuntut Ilmu)

Hadits ke-8: Perang Fisabilillah Hanya untuk Agungkan Agama

Dari Abu Musa al-Ash’ari ra., meriwayatkan Rasulullah SAW ditanya tentang tiga tipe orang berperang: karena syaja’ah (keberanian), hamiyyah (fanatisme suku/kelompok), atau riya’ (pamer).

Jawaban Nabi SAW: “Man qatala litakuna kalimatullahi hiyal ‘ulya, fahuwa fisabilillah” (Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, itulah fisabilillah).
“Tidak satu pun dari tiga itu yang fisabilillah. Hanya perang untuk menjaga kemuliaan Islam yang diterima Allah,” papar KH. Marpu. Beliau menambahkan, hadits ini mengajarkan pola induktif: dari contoh kasus, kita pahami ikhlas bukan pada bentuk amal, tapi tujuan hati.

Hadits ke-9: Niat Membunuh, Dosa Meski Gagal

Dari Abu Bakrah ra., Rasulullah SAW bersabda: Jika dua muslim bertemu dengan pedang (berkelahi), yang membunuh dan dibunuh masuk neraka.

“Yang membunuh jelas karena zalim, tapi yang dibunuh karena niatnya sudah ada untuk membunuh,” jelas beliau. Ini menguatkan bahwa dosa niat tetap ada walaupun amal gagal, seperti tahapan pikiran dari hajis (pikiran sekilas) hingga azam (niat kuat).

Baca Juga:  Pengajian Ramadhan Al-Muhajirin Pusat – Kitab Riyadhus Shalihin (Bab Pertama: Ikhlas & Niat – Lanjutan Kajian Hadis Keempat)

Hadits ke-18: Kisah Tiga Orang di Gua dan Karamah Ikhlas

Puncak kajian adalah hadits panjang dari Abdullah bin Umar ra. tentang tiga orang terjebak di gua tertutup batu besar. Mereka berdoa dengan amal ikhlas masa lalu: Yang pertama menahan diri dari zinah meski ada kesempatan; yang kedua memberi upah pekerja secara adil hingga hartanya berkembang; yang ketiga merawat anak yatim dan mengembalikan haknya. Batu pun bergeser, mereka selamat.

“Ini bukti kekuatan amal ikhlas yang sederhana. Bukan amal besar seperti tahajud atau puasa Daud, tapi niat murni karena Allah,” ujar KH. Marpu. Beliau menekankan, ikhlas bisa menggagalkan keburukan dan menyelamatkan di dunia-akhirat.

Miliki Amal Rahasia (Khawiyah)

Mengutip Imam Syafi’i, KH Marpu menyampaikan: “Setiap orang harus punya khawiyah—amal rahasia yang tak diketahui siapa pun.” “Jangan semua amal diketahui orang. Harus ada witir, puasa sunnah, atau wirid yang disembunyikan. Itu yang menyelamatkan di akhirat,” pesannya.

Baca Juga:  Alhamdulillah, Bertambah Lagi Santri Hafidzah 30 Juz Al-Qur’an dari Ponpes Al-Muhajirin Pusat

Beliau menceritakan mimpi ulama tentang Imam Junaid al-Baghdadi setelah wafat: Pahala besarnya bukan dari mengajar atau menulis, tapi rakaat sunnah sebelum fajar yang rahasia.

“Perjuangkan ikhlas di Ramadhan ini. Bahagia kalau orang tak tahu amalmu. Kadang ulama sengaja nutupi amal saleh dengan mubah agar tak disangka suci.”

Kajian diakhiri dengan doa memohon taufik ikhlas dan tawakal kepada Allah. Para jamaah tampak termotivasi memperbaiki niat, menyadari ikhlas bukan beban, tapi kebebasan dari penilaian manusia.

Pengajian ini bagian dari rangkaian Ramadhan di Al-Muhajirin, disiarkan melalui AL-MUHAJIRIN TV. Semoga menjadi wasilah meningkatkan keikhlasan amal. Allahu Akbar. Barakallahu fiikum. Wallahu a’lam bisshawab. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *