
AL-MUHAJIRIN- Majelis Pengajian Ramadan di Ponpes Al-Muhajirin Pusat kembali menghadirkan suasana yang khidmat dan penuh getaran batin. Dalam lanjutan kajian kitab Riyadus Sholihin, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA membedah satu hadis yang sangat panjang—sekitar 13 halaman—yakni kisah tobat agung sahabat Nabi, Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Sejak awal, beliau mengingatkan bahwa panjangnya hadis ini menunjukkan betapa pentingnya pelajaran yang terkandung di dalamnya. Ini bukan sekadar kisah sejarah, melainkan cermin kejujuran, ujian batin, dan kemuliaan tobat yang hakiki.
Tertinggal dari Perang, Bukan Karena Tak Mampu
Kisah ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Ka’ab bin Malik yang menuntun ayahnya ketika telah buta. Ka’ab menuturkan bahwa dirinya tidak pernah tertinggal dari peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali pada Perang Tabuk—dan sebelumnya pada Badar yang memang tidak diwajibkan bagi seluruh sahabat.
Perang Tabuk bukan perang ringan. Jaraknya jauh, musimnya panas, dan saat itu kaum Muslimin sedang berada dalam masa paceklik. Namun justru di saat sulit itulah iman diuji.
Ka’ab bukan orang miskin atau lemah. Ia termasuk sahabat yang mampu secara materi dan fisik. Bahkan ia berkata, saat itu dirinya berada dalam kondisi terbaik dan paling siap dibanding sebelumnya. Tetapi ada satu penyakit halus yang menyusup: menunda.
“Ada waktu, masih sempat.”
“Besok saja berangkat.”
Hari demi hari berlalu, hingga pasukan berangkat tanpa dirinya.
KH. Marpu menekankan, dosa sering kali tidak diawali oleh niat jahat, tetapi oleh penundaan kebaikan. Menunda adalah pintu kelalaian.
Kejujuran yang Menggetarkan Langit
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari Tabuk, orang-orang munafik berdatangan mengajukan alasan. Jumlahnya lebih dari 80 orang. Nabi menerima alasan lahiriah mereka dan memintakan ampun bagi mereka.
Namun saat giliran Ka’ab datang, ia memilih jalan berbeda.
Ia berkata jujur:
“Wallahi, ma kuntu aqwa minni hina takhalaftu ‘anka.”
Demi Allah, saya tidak lebih kuat dan tidak lebih mampu dibanding saat saya tertinggal itu. Saya tidak punya alasan.
Tidak ada dalih. Tidak ada pembenaran. Tidak ada rekayasa cerita.
Di situlah sidq—kejujuran total—menjadi inti tobat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak langsung memvonis, tetapi bersabda bahwa untuk Ka’ab dan dua sahabat lainnya—Murarah bin Rabi’ al-Amri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi—umat diperintahkan untuk tidak berbicara dengan mereka selama 50 malam.
Lima Puluh Malam yang Mengguncang Jiwa
Bayangkan: hidup di tengah masyarakat sendiri, tetapi tak seorang pun menyapa. Salam tidak dijawab. Bicara tidak direspons.
Ka’ab tetap shalat berjamaah. Ia tetap hadir di masjid. Tetapi suasana terasa asing. Ia berkata, bumi yang luas terasa sempit dan dadanya terasa sesak.
Bahkan sepupunya yang paling dicintai, Abu Qatadah, tidak menjawab ketika Ka’ab memohon kesaksian cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Jawabannya hanya: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Itulah ujian sosial yang amat berat. Tobat tidak selalu instan. Tobat menuntut kesabaran menanggung konsekuensi.
Ujian belum berhenti. Datang surat dari Raja Ghassan yang menawarkan perlindungan dan kemuliaan jika Ka’ab mau meninggalkan Madinah. Ini ujian politik dan ambisi. Ka’ab membakarnya.
Rasulullah juga memerintahkan agar ia menjauhi istrinya (bukan cerai, tetapi pisah sementara). Ujian menjadi semakin personal dan dalam.
KH. Marpu menegaskan: inilah nadam (penyesalan sejati). Tobat bukan sekadar ucapan “astaghfirullah,” tetapi kesediaan menanggung akibat dengan sabar tanpa mengeluh.
Turunnya Ayat dan Kemuliaan Abadi
Tepat pada malam ke-50, setelah shalat Subuh, kabar itu datang. Seruan menggema bahwa Allah telah menerima tobat mereka.
Turunlah ayat dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 117–119 yang memuji keteguhan mereka dan memerintahkan kaum beriman untuk bersama orang-orang yang jujur (ma’as-sadiqin).
Allah bukan hanya menerima tobat mereka. Allah mengabadikan kisah mereka dalam Al-Qur’an.
KH. Marpu menjelaskan dengan nada yang dalam, “Kalau Ka’ab berdusta, mungkin urusannya selesai cepat. Tapi namanya tidak akan pernah disebut dalam Al-Qur’an. Kejujuran itu mahal—tapi balasannya kemuliaan abadi.”
Hikmah Besar: Dosa sebagai Jalan Pulang
Beliau menekankan bahwa dosa bukan untuk diratapi tanpa arah. Dosa bisa menjadi jalan kembali kepada Allah jika melahirkan:
- Kejujuran total (sidq)
- Penyesalan mendalam (nadam)
- Tekad tidak mengulang
- Kesabaran menerima konsekuensi
Justru rasa hina dan lemah setelah berdosa itulah yang melunakkan hati. Kesombongan runtuh. Ego patah. Dan dari situlah kedekatan kepada Allah tumbuh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang banyak bertobat. Bukan yang tak pernah salah, tetapi yang jujur dan kembali.
Pengajian ditutup dengan doa panjang memohon ampunan, perlindungan dari dosa yang disadari maupun tidak, serta keikhlasan dalam setiap amal. Doa Ramadan dilantunkan, lalu Al-Fatihah bersama.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima tobat kita, membersihkan hati kita dari dusta dan alasan, menjadikan kita termasuk orang-orang yang jujur dan sabar, serta mengganti setiap kesalahan dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Amin ya Rabbal ‘alamin. (*)
