Pengajian Ahad Pagi Al-Muhajirin, Syaikhuna KH Abun Bunyamin Terangkan Pentingnya Ikhtiar dalam Meraih Rahmat Allah

Bagikan artikel ini:
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA.

ALMUHAJIRIN — Pengajian Ahad Pagi Pondok Pesantren Al-Muhajirin kembali digelar di Masjid Al-Madinah, Sukamulya, Ahad (12/4/2026), menghadirkan tausiyah dari Pimpinan Pondok Pesantren, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA.

Dalam suasana khidmat, Syaikhuna mengajak jamaah untuk membangun sikap optimis dalam menjalani kehidupan dengan menanamkan husnuzan (prasangka baik) kepada Allah, serta menghindari sikap pesimis dan putus asa.

“Ulah pesimis, ulah awon sangka, utamina ka Allah. Dina hadis disebutkan, innallaha ‘inda zanni ‘abdihi—Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya,” ujarnya.

Antara Harapan dan Lamunan

Syaikhuna menegaskan pentingnya membedakan antara roja (harapan) dan umniah (lamunan kosong). Menurutnya, banyak manusia terjebak dalam keinginan tanpa usaha.

“Lamun hayang boga ilmu tapi teu ngaji, hayang boga harta tapi teu usaha, eta lain harapan, tapi ngalamun,” tegasnya.

Beliau mencontohkan, keinginan tanpa ikhtiar hanya akan menjadi angan-angan yang tidak bernilai dalam pandangan agama.

“Hayang boga anak tapi teu nikah, hayang pinter tapi teu diajar—eta mah mustahil,” tambahnya, disambut senyum jamaah.

Baca Juga:  Luncurkan Metode Hijroti dan Gelar Pelatihan: Langkah Besar Al-Muhajirin dalam Standarisasi Pengajaran Al-Qur’an

Tauhid sebagai Kunci Utama

Dalam tausiyahnya, Syaikhuna juga menekankan bahwa tauhid adalah fondasi utama kehidupan seorang muslim.

Menurutnya, surga diperuntukkan bagi orang-orang yang bertauhid, sementara syirik menjadi sebab utama seseorang terhalang dari rahmat Allah.

“Surga eta tempatna jalma anu bertauhid. Tanpa tauhid, mustahil asup ka surga,” jelasnya.

Ikhtiar, Doa, dan Tawakal

Syaikhuna mengingatkan bahwa dalam mencapai sesuatu, manusia harus menempuh tiga hal: usaha, doa, dan tawakal.

Beliau mengutip doa Nabi Musa:

“Rabbisyrah li shadri, wa yassir li amri, wahlul ‘uqdatan min lisani yafqahu qauli.”

Doa tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa bahkan seorang nabi pun tetap memohon kemudahan dalam menjalankan tugasnya.

“Hayang naon wae kudu aya usahana. Doa penting, tapi tanpa usaha mah teu cukup,” ujarnya.

Jalan Menuju Surga Tidak Mudah

Dalam penjelasannya, Syaikhuna mengingatkan bahwa jalan menuju surga tidaklah mudah dan penuh dengan ujian.

Baca Juga:  Syaikhuna Membersamai Para Huffadz di Al-Muhajirin 5 Wanayasa

“Lamun hayang meunang madu, kudu siap disengat lebah,” ungkapnya memberi perumpamaan.

Beliau juga mengutip makna hadis bahwa surga dikelilingi oleh hal-hal yang berat, sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan hawa nafsu.

Seimbangkan Rasa Harap dan Takut

Menurut Syaikhuna, seorang mukmin harus memiliki keseimbangan antara roja (harapan) dan khauf (rasa takut) kepada Allah.

“Iman teh kudu dua jangjang: hiji roja, hiji khauf. Lamun salah sahiji teu aya, teu bakal bisa hiber,” katanya.

Namun demikian, beliau menekankan bahwa harapan kepada rahmat Allah harus tetap lebih dominan, agar tidak jatuh pada keputusasaan.

Husnul Khatimah sebagai Tujuan

Di akhir tausiyah, Syaikhuna mengajak jamaah untuk senantiasa memohon husnul khatimah, yakni akhir kehidupan yang baik.

Beliau menegaskan bahwa tanda husnul khatimah adalah meninggal dalam keadaan taat, bukan dalam maksiat.

“Hoyong maot kumaha? Tangtos hoyong husnul khatimah. Ku kituna ayeuna kudu loba amal, loba tobat,” pesannya.

Baca Juga:  KBIHU Al Muhajirin Buka Manasik bagi Jamaah Calon Haji di 4 Lokasi

Beliau juga mengingatkan agar tidak mudah menghakimi orang lain, karena setiap orang memiliki peluang untuk berubah dan mendapatkan akhir yang baik.

“Allah leuwih resep kana tangisan jalma nu dosa tibatan sombongna jalma nu ngarasa taat,” tuturnya.

Tetap Berikhtiar, Jangan Tergoda Jalan Instan

Dalam bagian lain, Syaikhuna mengingatkan jamaah agar tidak tergoda praktik-praktik pengobatan yang menyimpang dari syariat, seperti mendatangi dukun.

Beliau menegaskan bahwa pengobatan harus tetap sesuai dengan ajaran agama dan tidak melanggar prinsip tauhid.

“Upami teu jelas syariatna, ati-ati. Pilih anu jelas, anu halal,” tegasnya.

Pengajian ditutup dengan doa bersama, memohon kesehatan, keberkahan, serta kesempatan menunaikan ibadah haji bagi yang belum.

“Anu bade haji mugia dipaparin kasehatan, anu can mugia enggal tiasa nyusul,” ucapnya.

Dengan penuh kekhusyukan, jamaah melantunkan zikir dan doa, menutup majelis dengan harapan memperoleh keberkahan dan keselamatan dunia serta akhirat. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *